Cak Cak Ke Cak Cak Ke
Suara-suara mulut akapela dan teriakan “cak cak ke cak cak ke” serta penjiwaan para penari menghipnotis penonton yang memadati area pentas Uluwatu, Bali. ‘KEH-chahk’ demikianlah pengejaan nama tarian tersebut.
Tarian ini melibatkan setidaknya 50-150 penari dalam setiap pertunjukannya. Diciptakan oleh Wayan Limbak dan Walter Spies pada tahun 1930-an, tarian kecak ternyata memiliki sebuah sisi mistis.
Tari kecak berasal dari ritual “Sang Hyang”, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Dewa atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat. Karenanya sebelum melakukan tarian, para penari diharuskan untuk melakukan berbagai persiapan. Para penari diwajibkan menggunakan kain bercorak kotak-kotak persegi dengan warna hitam-putih seperti papan catur yang memiliki makna filosofis yaitu refleksi baik dan buruk kehidupan. Dan tentu saja persiapan spiritual.
Tidak seperti tari bali lainnya yang menggunakan alat musik, tari kecak ini memadukan seni dari suara-suara mulut. Ritme yang diucapkan oleh para penari dapat menghadirkan aura mistis bagi penonton.










