Bandara BIM penuh sesak, jalanan menuju Sumbar mulai dipenuhi oleh kendaraan bernomor polisi bukan BA. Bus-bus dipenuhi dengan rombongan pulang basamo dari tanah rantau menuju kampung.
Di hari-hari ini mencari parkiran sudah mulai susah untuk menjemput saudara di Bandara. Tak sedikit yang kehabisan tiket bus hingga harus menumpang. Andai ada kereta api menuju Sumbar pasti tiketnya sudah diborong pula.
Di hari-hari krusial mendekati hari Idul Fitri,banyak perantau yang berharap raganya sudah di kampung halaman, walau pikirannya bisa jadi telah sampai di kampung beberapa bulang sebelumnya. Ya, pulang kampung adalah sebuah perjalanan, seorang perantau minang, untuk kembali pulang. Sebenar-benarnya pulang.
1. Mengingat Tempat Asal Kita
Kita tapanca di tanah ini. Tanah seluas 42.130 km2 di sudut barat pulau Sumatera. Beberapa ada juga yang tidak lahir di sini, namun keterikatan, jiwa akan selalu melekat. Kita pulang ke kampung karena memiliki alasan, dari tanah iko ambo berasal. Itulah alasan pertama mengapa kita pulang kampung, ke tempat asal kita.
Dari tempat asal ini kita bisa kembali menginjak bumi. Sesukses apapun kita di perantauan, kita tetap berasal dari kampung. Kita makan dari tanahnya, minum airnya, dan hirup udaranya. Hal ini menjadi alasan bagi kita saat di rantau, kala nasi yang kita makan terasa lunak, tak sama dengan beras di kampung, tetap mengingat kampung halaman.
Sejelek-jeleknya kampung kita, mau listriknya mati, jalanan jelek, internet tidak ada, itu adalah tempat asal yang membuat kita bisa ada di dunia ini. Oleh karena itu, selayaknya pulang kampung juga bisa menjadi momentum kontemplasi. Pulang kampung menjadi tempat merenung dan bersyukur, bahwa langkah jauh yang kita berhasil tempuh di rantau, berasal dari jejak kecil di kampung halaman.
Mengingat asal juga tentang mengingat keluaga, khususnya kedua orangtua. Kita bisa memanggil kembali memori tentang bagaimana kedua orangtua bekerja keras mendidik kita sampai bisa merantau. Bagaimana pengorbanan orangtua, hingga bisa menjadikan kita sukses di tanah rantau. Jual sawah, jual sapi, atau bahkan jual emas, adalah pengorbanan yang dilakukan orang tua demi melihat masa depan anaknya yang lebih cerah, di perantauan. Orang yang sukses pada dasarnya adalah mereka yang sayang dengan kedua orangtuanya. Di agama juga disebutkan bahwa, keridhoan Allah SWT terletak pada ridho kedua orangtua. Ya, dengan pulang kampung kita akan membahagiakan kedua orang tua. Jika sudah tak ada kita pun masih bisa bertemu dalam doa atau di pusara.
2. Berbagi Kebahagiaan
Bahagia akan membawa kualitas hidup kita menjadi lebih baik, karena ada semangat, harapan, dan keceriaan dalam hidup. Hal itulah yang bisa dibagikan perantau saat pulang kampung. Sebenarnya bukan uang, khususnya pitih manambang, yang dinanti. Tapi ada nilai kebahagiaan yang ditularkan dengan pulang kampung.
Para psikolog sepakat bahwa bahagia itu menular, sama halnya dengan ketakutan dan kekhawatiran. Hal kecil seperti menyapa orang lain dengan tulus, biasanya dibalas senyuman pula. Memuji penampilan saudara di kampung biasanya akan meningkatkan intensitas rasa bahagianya, apalagi jika sampai memberikan bantuan kecil juga bisa membantu menjadikan saudara di kampung. lebih bahagia.
Walaupun kondisi terasa susah, apalagi dengan perekonomian Indonesia saat ini yang tengah melambat, spirit berbagi kebahagiaan harus selalu kita tularkan. Dan mari sama-sama tebarkan spirit kebahagiaan tersebut di kampung halaman.
Berbagi kebahagiaan juga bukan hanya tentang rasa. Kebahagiaan juga bisa mewujud dalam aksi nyata yang berdampak dan berkelanjutan. Momen pulang ke kampung adalah waktu yang tepat menginisiasi hal tersebut. Di kampung kita melihat masalah, baik itu ekonomi, sosial atau budaya. Sebagai anak yang lahir dari kampung, mengutuk kekurangan tentu bukan menjadi pilihan. Hal yang sudah pasti dilakukan adalah mengonversi kerisauan menjadi sebuah gerakan dan aksi nyata yang akhirnya akan mendatangkan kebahagiaan untuk semua.
3. Evaluasi Perbaikan ke Depan
Di atas langit masih ada banyak langit. Hal itu yang harus dipegang kokoh oleh seorang yang berasal dari kampung dan hidup di perantuam. Dalam hal positif, kita diperbolehkan cemburu atau iri pada pencapaian seseorang. Hal ini berbeda dengan iri atau rasa dengki yang tidak rela melihat kebahagiaan orang lain.
Di kampung kita bisa melihat bagaimana kondisi kehidupan perantau lain. Jika ada yang lebih baik, di kampung adalah tempat yang baik untuk mengevaluasi diri, agar bisa menjadi lebih baik pula. Minimal sama seperti saudara di rantau yang telah sukses tersebut.
Mengapa di kampung lebih mudah lakukan evaluasi? Karena waktu yang dimiliki lebih renggang. Kehidupan di perantauan membuat kepala dipenuhi oleh target-target, deadline, dan laporan-laporan yang membuat kita jarang ada waktu berpikir keras. Pekerjaam yang bersifat business as usual seringkali menyita pikiran sehingga susah melakukan perkembangan
Hamparan sawah, aliran air sungai atau semilir angin di bawah pohon rindang di halaman rumah, menjadi katalisator berpikir kita. Dari sana, sebelum merantau, langkah-langkah strategis untuk perbaikan diri bisa dibuat. Agar ke perantauan pasca dari kampung bisa melebihi capaian hari ini.
4. Akhirnya Semua Akan Pulang
Masih ada banyak alasan-alasan lain yang bisa kita jabarkan yang menjadi spirit untuk selalu ingin pulang ke kampung halaman. Setiap orang bisa punya bahkan sampai 1000 alasan untuk bisa dan terus pulang.
Namun, satu hal yang pasti, pulang ke kampung juga menjadi harusnya pengingat bagi kita untuk pulang ke tempat sebenarnya. Tempat pulang abadi, pasca kita usai berkarya di dunia ini.
Inilah yang selalu kita pegang. Jika kita tarik lebih dalam, kehidupan dunia ini secara keseluruhan bisa kita sebut sebuah perantauan. Perantauan dari asal kita diciptakan di bumi oleh Allah SWT. Di perantauan dunia inilah kita berjuang sekuat-kuatnya untuk bisa memiliki bekal pulang ke kampung halaman, akhirat
Kita harus selalu ingat, pada akhirnya kita semua pada akhirnya akan berpulang ke kehidupan yang abadi, pada waktu yang ditentukan oleh-Nya