seen from Belgium
seen from Thailand

seen from Yemen
seen from China
seen from Israel
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from Canada
seen from Croatia

seen from United States
seen from Australia
seen from Türkiye
seen from India
seen from Netherlands
seen from Germany

seen from Croatia
seen from Malaysia

seen from United States
seen from China
🌹🌹🌺🌹🌹🌺🌹🌹 “Punya" - there is no equivalent word in English. Punya is referred to as good karma or a virtue that contributes benefits in this and the next birth and can be acquired by appropriate means and also accumulated. In Vedanta terms punya is the invisible wealth, a part of dharma, the first of four human goals; the other three goals being artha, kama and moksha. #dharmainspiration #punya https://www.instagram.com/p/Cp0638wJsSK/?igshid=NGJjMDIxMWI=
Memiliki
Cita-citaku untuk saat ini cuma satu; aku bisa menjawab pertanyaan “apa kamu baik-baik saja?” dengan kalimat “iya aku baik-baik saja, karena ada kamu.”
Terserah “kamu” di sini dengan status apa. Entah itu teman, sahabat, abang, kakak, adik, kekasih, guru, mentor, bahkan orang tua angkat. Terserah. Selama masih berwujud manusia.
- Pekanbaru, 19 Agustus 2021
Today’s anime cat of the day is:
Punya from Yume no Crayon Oukoku!
Kok, mengambil waktu dua hari saja untuk bermalas-malasan dan tidak mengerjakan apa-apa rasanya seperti berbuat dosa, ya? Padahal sepertinya saya sudah kerja keras selama ini. Kenapa istirahat malah membuat saya merasa bersalah?
Om Namo Bhagavathe Sri Arunachala Ramanaya
“You dragged me into the Heart, so that expired in the Siva-ocean of true jnana. Praise be to you!” ~ Sri Muruganar
🕉️
THE PRACTICE OF THE TRUTH
Do not determine God’s Grace merely by the achievement of various kinds of prosperity [such as wealth, health and so on], which come as a result of meritorious deeds [punyas], but only by the peaceful clarity of consciousness, which is devoid of all mental anxieties, which are caused by forgetfulness [of Self].
in “Guru Vachaka Kovai” - The Garland of Guru’s Sayings, by Sri Muruganar, Chapter 60, Practice (Nididhyasana) - Verse 753
Sadhu Om:
Ignorant people often think that they have obtained God’s Grace merely because they are provided with different kinds of worldly well-being such as wealth and health. But these are not the correct signs of God’s Grace, since they are given to one merely because of one’s own punyas, that is, they are the result of prarabdha [1]. The state of Jnana, in which one knows Self and thereby abides in unbroken peace, devoid of miseries, alone is the true sign of God’s Grace. It is also to be noted here that the peaceful clarity of Self-consciousness, which was said in verse 751 to be "the ultimate goal of tapas", is said in this verse to be the true sign of God’s Grace.
🕉️
[1] Prarabdha: That portion of the sanchita karma, a collection of past karmas, which influences human life in the present incarnation.
I'm the only one in love Maybe you never even loved me
Mytha - Aku Cuma Punya Hati
Tetanggaku Para Penghafal Qur'an
Sejak pindah ke kosan baru, ada hal yang mengesankan namun kadang menyebalkan juga sih hehehe. Kalian tahu, kosan saya sekarang bertetangga dengan Rumah Qur'an ikhwan, tempat penghafal Qur'an yang isinya lelaki semua. Awal memutuskan untuk tinggal di kosan ini karena diajak teman, supaya saya tidak kesepian dan sendirian di kosan lama. Saya pun belum begitu memperhatikan Rumah Qur'an itu karena saya baru se-kali berkunjung ke kosan ini dan langsung deal dengan Ibu Kosan. Mumpung tanggal muda jadi belum bayaran juga di kosan lama. Alhamdulillah dapat kosan yang menurut saya lumayan kondusif, selain ada teman, kosannya juga murah, lengkap, dan jendelanya mantap namun, kamar mandinya di luar. Dan hebohnya, kamarku di lantai dua berhadapan langsung tanpa penghalang dengan teras Rumah Qur'an itu, bahkan jendela kamar mereka selalu terbuka. Kalian tahu bagaimana ribetnya saya kesian,,, setiap waktu harus pakai cadar jika keluar kamar apalagi kalau mau ke kamar mandi... Lebih gak enak lagi kalau saya harus menjemur pakaian karena jemurannya lebih dekat jaraknya dengan mereka. Alhamdulilah, untungnya rata-rata dari mereka berumur SMP, yah masih bocah lah menurut saya, tapi yang dewasa juga ada sih. Cuma jarang keliatan mungkin karena yang dewasa di lantai bawah. Tapi, kata temanku, satu kamar yang berhadapan langsung dengan kamar saya itu, kamar Ustadznya... Wahhh gawatt. (wajar temanku tahu karena sudah lama dia di kosan ini) Sekitar sepekan lebih saya sudah di kosan ini dan mulai nyaman dengan segala kondisi yang ada. Cuma yang membuat saya kadang kepikiran, bukan cuma saya yang menderita karena ribet kalau kemana-mana, tapi saya juga kasian sama mereka. Kehadiran saya cukup mengganggu konsentrasi saat menghafal di teras rumah mereka hikzzzz. (bukan geer loh yah). Kalau mereka Qur'an Time, saya tidak ingin keluar kamar kecuali ada keperluan mendesak banget, selain saya malu, saya juga tidak ingin mereka terganggu hehehe. Soalnya kalau saya keluar, mereka biasanya bertingkah aneh, ada yang ngomong semisal (eh, mbaknya tuh... Atau apalah) Bahkan, dilain kesempatan yang bocah - bocah menurutku, ketika saya keluar teras, mereka suka teriak nanyain nama saya "Ka, namanya siapa?" weleh weleh, ini bocah genit amat hahahaha. Astagfirullah, gak sih. Mungkin mereka hanya ingin kenalan dengan tetangga baru semacam saya ini. Sampai sekarang sih, mereka belum berhasil tahu nama saya hehehe. Tapi, mungkin nanti saya juga bakal kenalan sama bocah-bocah penghafal Qur'an itu, sama Ustadznya juga boleh #loh hahahaha