Fatimah, Teladan Ketegaran & Kegigihan
Umat Islam adalah kelompok agama terbesar kedua di dunia dengan jumlah satu setengah miliar jiwa yang tersebar di berbagai negara di lima benua. Menurut data yang ada, jumlah umat Islam di dunia semakin bertambah dari hari ke hari. Hal itu terjadi karena cepat dan luasnya media informasi telah membantu banyak orang di berbagai penjuru dunia mengenal agama dan pemikiran Islam.
Di zaman ini dan seiring dengan perkembangan dunia baru kebutuhan akan peran aktif dan kehadiran wanita muslimah di tengah masyarakat semakin terasa. Sebab, wanita Muslimah adalah kelompok yang besar dari dunia Islam. Kaum wanita muslimah dapat terlibat dan hadir di tengah masyarakat dengan keimanan dan keyakinannya akan nilai-nilai luhur yang diajarkan Islam. Untuk itu wanita muslimah memerlukan sosok figur teladan yang menunjukkan apa yang semestinya dilakukan muslimah saat berkiprah di tengah kehidupan sosial.
Fatimah Az-Zahra, putri Nabi Muhammad Saw adalah sosok wanita teladan dalam Islam yang menjadi manifestasi dari keagungan ajaran agama Ilahi ini dan peran yang mesti dijalani oleh kaum perempuan. Sejak putrinya ini lahir, Nabi Saw memperlakukannya dengan hormat dan cinta untuk mengenalkan kepada umat dan dunia akan kedudukan tinggi kaum Hawa. Beliau mengubah tradisi buruk kaumnya di zaman jahiliyah yang tidak memberi tempat apapun bagi kaum perempuan. Nabi mengenalkan umatnya akan keistimewaan yang ada pada perempuan dan perannya dalam pendidikan, kehidupan politik dan masyarakat.
Kehidupan Fatimah (as) dimulai di sebuah rumah yang menjadi basis perjuangan melawan kekafiran dan kemusyrikan. Saat dewasa, Fatimah menjadi pendamping setia sang ayah, Rasulullah Saw dan suaminya, Ali (as) yang berada di front tempur melawan barisan musuh-musuh Allah. Sejak masih kanak-kanak, beliau telah mengerti benar makna perjuangan dan pengorbanan bahkan ikut merasakan derita dan kesulitannya. Fatimah tumbuh besar di pangkuan ayahnya yang memikul risalah dan misi yang sangat agung dari Allah untuk manusia sejagat. Saat masih kanak-kanak, Fatimah bersama ayah, ibu, sanak keluarga dan para pengikut Islam diboikot oleh kaum Quresy di sebuah lembah bernama Syi'ib Abu Thalib. Mereka berada di sana selama tiga tahun dalam penderitaan. Pengalaman itulah yang membuat Fatimah tumbuh menjadi sosok wanita yang tegar menghadapi segala macam kesulitan di masa mendatang.
Di awal-awal masa kenabian, salah satu tugas terpenting para pengikut ajaran dan risalah Islam adalah melindungi jiwa Nabi Muhammad Saw dari gangguan kaum kafir. Sejak mengumumkan risalahnya secara terbuka sampai hijrah ke kota Madinah, Nabi Saw selalu menjadi sasaran gangguan kaum kafir. Para pembesar Quresy, bahkan ada salah satu paman beliau, mendorong orang-orang untuk menyakiti Nabi. Tak jarang mereka sendiri ikut terlibat secara langsung dalam mengganggu Rasulullah Saw. Saat itu, Fatimah masih berusia kanak-kanak.
Diceritakan bahwa suatu hari orang-orang kafir menumpahkan abu ke kepala Rasulullah Saw. Tiba di rumah, Fatimah yang menyaksikan kondisi ayahnya seperti itu tak mampu menahan diri. Butir-butir bening segera memenuhi kelopak matanya. Dengan lembut ia membersihkan kepala dan wajah sang ayah dari kotoran dan abu yang menempel. Kepada putri kesayangannya itu, Nabi Sae mengajarkan ketegaran hati dan bersabda, "Putriku! Jangan engkau bersedih dan jangan pula menangis. Sebab, Allah akan selalu melindungi ayahmu."
Diriwayatkan pula bahwa suatu ketika Nabi Saw sedang bersujud di Masjidul Haram. Mendadak sekelompok orang suruhan Abu Jahal sengaja menjatuhkan perut besar kambing di atas kepala beliau. Berita itu sampai ke telinga Fatimah. Gadis itupun bergegas pergi ke Masjidul Haram. Dengan tangannya yang mungil ia memungut perut besar kambing itu dari sang ayah. Dengan tatapan yang tajam dan lisannya yang fasih Fatimah mengutuk Abu Jahal dan orang-orangnya.
Semakin hari, tekanan kaum kafir terhadap Nabi Saw semakin meningkat. Hari demi hari, Fatimah semakin mengenal berbagai dimensi dari sebuah perjuangan suci, ketegaran dan kegigihan. Sampai akhirnya Nabi Saw hijrah ke kota Madinah setelah gangguan dan siksaan kaum kafir sudah memuncak. Hijrah atau perpindahan dari kota Mekah ke Madinah bukan pekerjaan yang mudah. Sebab, setiap orang yang hijrah harus melewati bahaya dan perjalanan yang sulit. Fatimah pun hijrah ke Madinah bersama dengan beberapa orang perempuan. Rombongan kecil itu dipandu oleh Ali bin Abi Thalib (as) dan bergerak ke Madinah melewati padang sahara dengan terik mataharinya yang menyengat.
Setelah menikah dengan Ali (as), Fatimah menyadari benar tugas yang diemban oleh suaminya dalam perjuangan menegakkan agama Allah. Setiap tahunnya, terjadi beberapa peperangan antara kaum muslimin dan kaum kafir. Di sebagian besar front tempur itu, saat Nabi menyertai, Ali ikut mendampingi beliau berperang untuk membela agama Ilahi. Untuk setiap misi ini, Ali terpaksa harus meninggalkan rumah dan keluarganya. Fatimah (as) selalu menjadi pendamping setia dan pelipur lara bagi sang suami. Sekembalinya dari jihad dan pekerjaan dan tiba di rumah, Fatimah menyambutnya dengan setia dan mendorongnya untuk tetap berjuang di jalan Allah.
Fatimah juga aktif membantu keluarga para pejuang dan syuhada. Beliau juga masuk ke barisan para penolong yang merawat pejuang yang terluka di medan perang. Di perang Uhud, ketika melihat ayahnya terluka, beliau membersihkan darah dari wajah sang ayah dan merawat lukanya. Diriwayatkan, saat terjadi perang Khandaq, Fatimah pergi ke front tempur untuk menemui Rasulullah dan mengantarkan roti. Nabi bertanya mengapa engkau datang kemari? Fatimah menjawab, "Ayahku, aku yang membuat roti ini. Hatiku tak kuasa untuk tidak membawanya kemari dan memberikannya kepadamu." Nabi pun bersabda, "Ini adalah makanan pertama yang masuk ke mulutku sejak tiga hari lalu."
Seluruh lembaran hidup Fatimah (as) dipenuhi oleh perjuangan dan resistensi dalam membela kebenaran. Setelah Rasulullah wafat, Fatimah (as) tetap melanjutkan perjuangan ini dengan mengingatkan umat akan bahaya penyimpangan dari jalan yang lurus. Dalam perjuangannya, putri Nabi ini tidak pernah mengharapkan harta, kekayaan, pangkat dan nama. Yang beliau harap hanyalah ridha Allah dan keterjagaan Islam dari penyimpangan dan bid'ah. Riwayat sejarah menyebutkan kisah dialog Fatimah (as) dengan sebagian orang. Dua khutbah beliau yang disampaikan di masjid Nabawi dan di depan kaum perempuan termasuk kelompok khotbah yang terabadikan karena keindahan bahasa dan kedalaman maknanya.
Kaum muslimah di zaman ini adalah kelompok dari tubuh umat Islam yang aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Mereka tak tertinggal dari kafilah kaum pria dalam perjuangan dan keterlibatan dalam berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan. New York Times melaporkan, di seluruh bagian di dunia Islam, dari utara Afrika dan Timur Tengah hingga Asia tenggara kelompok-kelompok wanita dengan budaya yang beragam namun satu dalam keimanan dan kepercayaan agama yang kuat tengah membentuk gerakan yang besar."
Dalam perjalanan ini tak dipungkiri bahwa kaum wanita muslimah memerlukan figur teladan. Fatimah (as) adalah sosok wanita paling sempurna yang bisa menjadi teladan bagi mereka. Semoga dengan adanya figur teladan yang agung ini dan mengenal Islam lebih mendalam, kaum wanita muslimah dapat memainkan peran yang lebih besar dan berkesan di berbagai bidang.