BERKORBANLAH, PUTUSIN PACARMU
Tulisan ini untuk kamu yang lagi berpacaran, tapi ternyata setelah tau taaruf kamu mau putus, tapi masih sayang, jadi bingung deh harus gimana.
Zaman sekarang, tentu pacaran adalah hal yang lazim dilakukan muda-mudi, apalagi yang lagi kasmaran. Bahkan terkadang ada. temen-temen yang juga aktif di kegiatan keagamaan, tapi juga menjalani pacaran. Walau tau konsekuensi dan larangan berpacaran, tapi banyak juga yang masih berpacaran. Biasanya alasannya 1,
AKU MASIH SAYANG SAMA PACAR AKU.
Dan abis itu, kalau kamu minta putus, nanti bakal kepikiran
GIMANA KALAU AKU PUTUS? NANTI AKU MAU CURHAT SAMA SIAPA? CERITA AMA SIAPA?
Tentu sulit untuk memutuskan pacar, padahal berpacaran itu dilarang oleh Allah SWT.
Dulu, beberapa kali saya dekat dengan lawan jenis, bahkan saya sempat mengalami pacaran. Dan rasanya, sungguh menyenangkan. Sering ada yang ngingetin, sering ada yang nyapa. Tentu berpacaran mampu melepas stress selepas masalah besar karena akhirnya kita bisa bertemu orang yang kita cintai dan sayangi. Padahal di saat bersamaan, saya merupakan anak yang aktif di kegiatan keagamaan.
Yah, saya sendiri memang tau konsekuensinya. Larangan berduaan, dan sebagainya. Namun, perasaan kepada sesama manusia lebih besar daripada kekuatan iman. Jadinya, kadang saya suka berkompromi dengan hati ini “yaudahlah, nanti juga kan taubat. Selama masih salat, masih ngaji, kan ketutup dosanya”.
Sampai akhirnya setelah beberapa tahun, saya kembali membaca dan merenungi, bahwa apa yang diperintahkan tidak bisa bersandingan dengan apa yang dilarang Allah SWT. Air tak bisa bersanding dengan minyak. Dan disana saya memutuskan untuk menghentikan hubungan pacaran tersebut.
Berat? Tentu berat. Karena memutuskan pacar ini sama dengan memutuskan sebuah kenangan, memori, serta perjalanan romantis yang telah berjalan selama beberapa masa. Bahkan, beberapa kali saya ragu untuk melakukan ini, dan dua pertanyaan diatas juga sempat terbersit dalam pikiran saya.
Sampai akhirnya saya membaca kisah Rasulullah SAW, bagaimana dalam dakwahnya beliau mengorbankan banyak hal, seperti Siti Khodijah yang menghabiskan semua hartanya untuk beramal, dan masih banyak pengorbanan lainnnya.
Karena dalam menjalankan kebenaran, harus ada sesuatu yang dikorbankan
Itu adalah kalimat yang saya yakini benar. Dan berangkat dari situ, akhirnya saya menguatkan diri untuk memutuskan hubungan pacaran ini.
Dan selepas itu, sungguh berat memang. Sesekali ingin rasanya sekedar menanyakan kabar. Namun saya yakin, perasaan ini adalah sesuatu yang harus dikorbankan dalam menjalankan sesuatu yang kita anggap benar.
Dan jika kita merasa bahwa memutuskan pacar itu adalah hal yang berat, ingatlah kisah Nabi Ibrahim A.S. dan juga Nabi Ismail A.S.
Dan nabi Ibrahim A.S., diperintahkan Allah SWT untuk berpisah dengan anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri, anak yang ia besarkan sendiri, anak yang ia cintai dan ia sayangi. Tapi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail percaya, perintah Allah SWT adalah untuk jalan kebaikan. Dan akhirnya Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah SWT, dan dia berpisah dengan anaknya yang dia besarkan dengan tangannya sendiri.
Apakah Nabi Ibrahim setelah itu marah pada tuhan? Tidak. Karena beliau tau, perintah tuhan adalah perintah menuju kebaikan. Kisah ini mengajarkan kita, bahwa menjalankan perintah Allah SWT itu perlu pengorbanan dan perjuangan yang besar.
Nabi Ibrahim saja dapat berpisah dengan anaknya, masa kita aja enggak bisa berpisah dengan pacar kita. Tidak perlu dengan cara memenggal, cukup dengan telefon, jika tak kuat telefon, maka text saja, jika tak bisa, via perantara saja.
Sakit? Tentu iah, tidak ada perpisahan yang tidak menyakitkan. Bayangkan bagaiman perasaan Nabi Ibrahim ketika anak yang bertahun-tahun ia besarkan, harus dia habisi oleh tangannya sendiri. Sedangkan ini, pacar kita, darah daging kita juga bukan, mungkin kenal beberapa tahun. Masa kita tidak bisa berkorban seperti Nabi Ibrahim. Percayalah, Allah akan ganti dengan yang lebih baik.
Putus dari pacaran bukan berarti memutus tali silaturahmi. Putus dari pacaran berarti kita sudah tidak menjalani kegiatan pacaran berdua-duaan seperti biasa. Namun, silaturahmi harus tetap jalan, karena salah satu hal yang paling dibenci Allah SWT adalah memutuskan tali silaturahmi. Maka, sapalah sesekali. Tak usah sampai block sosmednya, kecuali kamu tak bisa move on.
Bayangkan jika ketika Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT dan ia berkompromi “Ya Allah, biarlah anak saya tak usah dipenggal, nanti saya perbanyak amalan yang lain”, maka apakah Nabi Ibrahim masih dianggap sebagai Nabi yang taat pada perintah Allah? Sama halnya dengan kita, apakah kita akan menjalankan perintah Allah SWT atau akan mencoba berkompromi dengan hati kita dengan berbagai alasan?
Dan ujian datang kepada semua orang, sedangkan hanya orang-orang kuat yang berhasil melewatinya
Oia, dan ingatkah akhir dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail? Maka akhirnya mereka dipertemukan di Syurga Allah kelak. Semoga itu juga terjadi, bagi kamu dan pasanganmu nanti.
Maka, mungkin inilah waktumu. Berkorbanlah, putusin pacarmu. Karena dalam kebaikan, perlu ada pengorbanan.
BERKORBANLAH, PUTUSIN PACARMU
Rumah, 10 Juli 2016
Choqi-Isyraqi.tumblr.com