QAIS DAN LAIL
"Sebuah kalimat I Love You sebelum pernikahan adalah omong kosong belaka!".
Begitu ucapnya padaku. Qais menyeka pelipisnya
"Kau tahu apa yang membuat gadis itu berbicara begitu padamu?"
"Tidak. Tapi aku meyakini dirinya bahwa penantiannya tidak akan sia-sia, aku pasti akan datang padanya"
"Jangan bodoh kau Qais! Jelas saja kau tertolak. Kau tahu? Gadis itu, Lail. Dia pernah menunggu seseorang dengan tulus tapi harus berakhir melepaskan, tentu saja hal itu tidak ingin terulang kedua kalinya"
"Tapi itu tidak akan terjadi lagi. Aku akan datang padanya. Tidak bisakah ia percaya?"
"Qais, kau tidak tahu seberapa dalam sakit yang ia rasakan, sampai sampai kini ia sulit percaya pada orang lain. Lagipula cinta itu fluktuatif, Qais. Bisa naik bisa turun. Apa kau yakin selama masa penantiannya kau akan terus menyayangi, mencintai, dan tetap menginginkannya? Bagaimana jika kau bertemu seseorang yg jauh lebih menarik darinya? Atau bagaimana jika ditengah jalan kau merasa bosan dengan hubunganmu dan dirinya? Kau masih yakin bisa datang padanya?"
Qais terdiam sejenak
"Lalu, apakah cinta habis di orang lama itu benar adanya?"
"Tidak ada yg tahu pasti. Tapi aku yakin, Lail hanya butuh waktu untuk membersihkan sisa sisa puing yg masih berantakan tertinggal penghuni lamanya, hanya butuh waktu bukan kembali berharap"
"Tapi bukankah Lail yg mengucapkan kata selamat tinggal pada lelaki terdahulunya?
"Ya memang. Tapi sebenarnya hati lelaki itu telah terlebih dahulu meninggalkannya"
Kalau puisi Chairil Anwar berkata:
Mampus kau dikoyak koyak sepi!
Sedangkan Lail mungkin Mampus didera perasaannya sendiri. Jangan dikira melepaskan seseorang yg pernah menghuni hatimu dan teramat kau cintai itu hal yg mudah, Qais!
Luka tidak bisa sembuh hanya karena diplaster dengan plaster dan merek yg baru!
Erl,
Kebumen 12 Juli 2024









