Segelas Es Krim & Suamiku.
Malam ini aku menikmati segelas es krim cokelat di kafe setempat. Tempatnya ramai tapi aku merasa familiar. Tempat singgahku dari kelelahan dunia sejenak. Rasanya asik duduk di sana dan kali ini aku sendirian, tanpa suami ataupun anak-anak. Pelayan menyambutku dan menanyakan keberadaan anak-anak dan suami karena kami sering berempat ke sana. Kini aku sendiri rasanya janggal mungkin menurut mereka.
Banyak terimakasih yang harus aku sampaikan kepada suamiku karena dia memberiku waktu dengan diriku sendiri. Betapa baiknya dia menawarkan diri menjaga anak-anak padahal dia baru pulang bekerja. Betapa baiknya dia menyuruhku pergi keluar untuk berkumpul bersama yang lain. Setengah ragu dan rasa malas, aku turuti perkataannya. Tapi memang kalau hal yang tidak berasal dari hati pasti hasilnya kurang bagus. Alhasil di sana aku lebih banyak diam dan lelah.
Suamiku bilang pergilah lagi kemana yang aku mau. Anak-anak aman bersamanya sejauh ini. Aku tidak perlu khawatir. Karena itu, adalah segelas es krim di hadapanku sekarang. Sebelumnya aku sudah makan nasi kemudian inginkan es krim sebagai penutup. Di tempat sebelumnya aku tidak bisa memesan. Tak lama suamiku memberitahu kalau anak-anakku sudah tidur. Aku sangat bersyukur.
Suamiku itu sangat baik. Dengan sukarela dia menyuruhku keluar tanpa anak-anak biar aku tidak kerepotan. Dengan sukarela dia mengurus anak-anak sementara aku nongkrong di luar. Dengan sukarela dia menjaga anak-anak sementara aku makan plus pesan es krim dengan santai di luar. Dia beri aku waktu untuk diriku sendiri sementara seharian dia sudah bergelut dengan pekerjaannya. Terimakasih suamiku.
Perlahan es krimku mulai mencair dan aku harus tau waktu pulang. Aku mengabari suamiku. Sesampainya di rumah, suamiku sudah menunggu. Aku pernah minta belikan bunga tapi dia tidak pernah membelikannya. Tapi dia selalu memberikan apa yang tidak pernah aku minta. Aku harus banyak-banyak bersyukur akan hal itu.













