14:21 ETD BNC- 15:05 ETA BST #railink #railinkjakarta Selalu ada kali pertama (at BNI City Station) https://www.instagram.com/p/B3jXP_KF81s/?igshid=y2m6399k43xo
seen from United States

seen from United States

seen from France
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Thailand
seen from T1
seen from Italy
seen from United States
seen from United States
seen from Australia
seen from Brazil

seen from Malaysia

seen from China
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from China
14:21 ETD BNC- 15:05 ETA BST #railink #railinkjakarta Selalu ada kali pertama (at BNI City Station) https://www.instagram.com/p/B3jXP_KF81s/?igshid=y2m6399k43xo
#train #airporttrain kenapa gak semudah aplikasi #kaiaccess ya untuk pembayaran online? Ribet mohon dibuat simple misalnya bisa menggunakan #linkaja gitu #railink (at Railink Sudirman) https://www.instagram.com/p/B1IW4oSHwXT/?igshid=ujpz3x3gkn6k
A personal blog about food, travel, technology and everything that you should know. (makanan, traveling, teknologi)
Guide to Using the Soekarno-Hatta Airport (Railink) Train in Jakarta
Trying Railink Jakarta
Perjalanan gue ke korea November 2018 lalu dimulai dari Jakarta (ofcourse). Dari rumah gue janjian bareng temen gue untuk naik kereta bandara atau yang dikenal dengan nama railink. Ini kali ke-tiga gue naik kereta bandara. Waktu trip sebelumnya, gue PP naik kereta ke dan dari bandara. Kind of pity that kereta bandara ini masih sepi, banyak faktor yang menyebabkan kereta ini masih sepi. Beberapa diantaranya yaitu titik rute yang cuma ditentukan di tiga tempat, yaitu stasiun BNI City (belum terintegrasi dengan stasiun Sudirman), Batu Ceper, dan CGK. Gue sendiri dari rumah harus ngegrab or gojek dulu ke stasiun BNI City, so did my friend. So kind of ribet, apalagi kalau yang bawa barang bawaannya banyak, buru-buru, dan rombongan keluarga. Untuk harga sih sudah layak menurut gue, tapi kalau untuk pergi rombongan mungkin memang lebih efisien naik taxi atau grab. That’s the intro, so let me introduce you to this railink just in case you never rode this train before.
Sebelum berangkat, ada baiknya untuk cek jadwal railink dulu jadi bisa tentukan mau berangkat jam berapa. Tiket bisa dipesan via online, tapi saran gue mending beli on the spot aja di stasiun. Dari pintu masuk lo bakal naik eskalator ke atas dan di arahkan ke ticketing machine. Stasiunnya super bersih dan nyaman. Ada beberapa food and drink corner juga such as Starbucks. Untuk beli tiket, bisa pakai kartu kredit atau debit. Tenang aja kalau gak ngerti cara gunain mesinnya, bakal ada petugas yang jaga dan bantu untuk beli tiketnya. Udah tiga kali gue naik kereta ini dan petugas yang bantu buat beli tiketnya bening-bening semua, baik perempuan maupun laki-laki. Oia, Harga tiket sekali jalan dari stasiun BNI City yaitu IDR 70.000. Di tiketnya ada barcode, buat di scan digate masuk ke dalam peron.
Di tiket tertera no seat nya, tapi karena kereta ini masih sepi penumpang, maka petugasnya masih mengizinkan kita duduk di beda seat dari yang tertera di tiket. Dan sekali lagi, petugas di dalam keretanya bening-bening banget. Setingkat pramugari dan pramugara guys. Tiketnya jangan sampai hilang ya karena untuk keluar dari gate stasiun kita harus scan barcode lagi. Barcode nya jangan sampai lecek.
Perjalanan dari stasiun BNI City ke CGK memakan waktu sekitar 40 menit dengan satu pemberhentian yaitu di stasiun Batu Ceper. Kereta ini on time banget guys, pun dengan nyampenya. Interiornya berbeda dari KRL Jabodetabek ataupun Kereta Bandara di Singapore dan Korea. Seat nya menghadap ke depan, super nyamannnnnnn. Toiletnya pun bersih dan terawat banget. Lebih luas dari toilet di pesawat (ofcourse!). Kalau bawa koper atau barang bawaan banyak, ada tempat buat taro barang, jadi bisa duduk dengan nyaman di seat tanpa barang bawaan yang bikin sempit space bangku.
Yang disayangkan dari perjalanan naik railink ini adalah pemandangan yang disuguhkan dibalik jendela adalah potret kemiskinan masyarakat Jakarta. Karena masih banyak bangunan liar yang kumuh disepanjang rel kereta api. Sort of merusak pemandangan. The thing that you will never find ketika lagi naik kereta bandara Singapore atau Korea (blagu bat sih gue baru pernah kedua negara itu doang wkwkwkwk monmaap). Foto diatas adalah pemandangan ketika sudah memasuki daerah Cengkareng which was pemandangan favourite gue sepanjang perjalanan. Enaknya naik railink ini adalah gak perlu merasa dag-dig-dug takut gak sampai on time di bandara karena macet.
Setelah turun dari kereta dan keluar dari stasiun bandara, perlu naik skytrain lagi untuk ke terminal masing-masing. Silakan ikuti petunjuk atau tanya petugas bandara. Jangan mepet sama waktu penerbangan ya guys. Karena perjalanan dari titik stasiun bandara ke terminal 1,2,3 needs to take some time, dan perlu waktu untuk nunggu sky train nya juga.
Kedepanya gue berharap kereta ini bakal ramai penumpang, perlu dicari cara bagaimana bisa meraup penumpang yang lebih banyak lagi. Mungkin bisa minta saran dari Pak Jonan yang sudah terbukti sukses mengubah image perkeretaan api Indonesia yang dulu chaos menjadi lebih tertib dan rapi sehingga berimbas pada peningkatan jumlah penumpang. Karena sayang sekali, membangunnya sudah menggelontorkan uang yang besar. Apalagi kereta ini sudah perfect secara service dan fasilitas. There will be come a time when Jakartans prefer riding railink than private car to go to airport. Someday. Amen.
-mels-
KA Bandara Soetta Sepi, Dirut Railink: Setahun Ini Berat
Liputanviral - Tingkat okupansi kereta Bandara Soekarno Hatta (Soetta) setelah setahun beroperasi masih rendah. Dari tingkat okupansi ideal yang seharusnya 60%, kereta Bandara Soetta cuma terisi 26% secara rata-rata. Direktur Utama PT Railink Heru Kuswanto mengatakan infrastruktur yang belum matang menjadi penyebab masih sulitnya mendorong tingkat keterisian kereta. Di antaranya masih belum optimalnya trayek yang dilalui. "Setahun ini memang berat karena waktu penyelesaian sejumlah infrastruktur yang kurang, seperti double-double track Manggarai. Kita masih belum bisa selesaikan. Tapi ini memang fase yang harus dilalui," katanya kepada Liputanviral , saat dihubungi, Kamis (10/1/2019). Hal ini kata dia berbeda dengan kereta bandara Kualanamu di Medan yang sudah lengkap infrastrukturnya. Lagi pula, berbeda dengan yang di Soetta, kereta bandara Kualanamu di Medan tak perlu transit lagi untuk menuju langsung ke terminal bandara. Di Bandara Soetta, infrastruktur pendukung kereta bandara yakni kereta layang atau sky train menjadi masalah. Headway kereta layang Bandara Soetta masih terlalu lama, mencapai 13 menit. "Kalau mau jujur, kita itu memang belum sempurna mengoperasikan. Misalnya kemarin di stasiun batu ceper juga jadi persoalan karena skybridge belum jadi," kata Heru. Namun dia yakin tahun ini tingkat okupansi kereta Bandara Soetta akan membaik. Targetnya minimal mencapai angka ideal atau mendekati 60%. "Tahun ini minimal okupansi mendekati 60%," katanya. Read the full article
Naik KA Bandara Soetta Bisa dari Manggarai Akhir Februari
Liputanviral - Kereta Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) akan mulai bisa diakses dari Stasiun Manggarai pada akhir Februari atau awal Maret 2019 mendatang. Direktur Utama PT Railink Heru Kuswanto mengatakan pihaknya telah mendapatkan kepastian mengenai kesiapan akses kereta bandara dari Stasiun Manggarai. "Kita kemarin dapat kepastian, bahwa akses dari Manggarai akan bisa dimulai akhir Februari atau awal Maret ini. Tapi memang belum sempurna, masih dapat satu jalur dulu," katanya kepada Liputanviral , saat dihubungi, Kamis (10/1/2019). Heru mengatakan operasional kereta bandara Soetta dari Manggarai masih menggunakan satu jalur. Nantinya di bulan Mei, kereta baru bisa menggunakan dua jalur. Nantinya jalur kereta Bandara Soetta, kereta jarak jauh dan KRL akan memiliki lintasan sendiri-sendiri di stasiun Manggarai. Sehingga sistem antrean jalur yang sering terjadi di Stasiun Manggarai bisa dikurangi. "Memang dari sisi layanan nanti belum terlalu leluasa," ujarnya. Seperti diketahui, belum optimalnya infrastruktur pendukung operasional disebut menjadi salah satu sebab rendahnya okupansi kereta Bandara Soetta. Salah satunya adalah belum beroperasinya kereta dari stasiun Manggarai. Untuk meningkatkan okupansi kereta bandara, pihaknya juga melihat peluang mengambil akses dari stasiun Depok. Namun keterbatasan infrastruktur membuat hal ini masih dalam kajian. "Kalau dalam arahan Pak Menteri (Budi Karya Sumadi) minta kita buka ke Depok," kata Heru. Read the full article
Tarif KA Bandara Disebut Mahal, Dirut Railink: Tak Bisa Turun Lagi
Liputanviral - Minat masyarakat menggunakan Kerata Bandara Soetta masih sangat kecil. Hingga November 2018 tingkat keterisian atau okupansi per hari hanya 26%. Banyak hal yang menjadi alasan mengapa masyarakat Jakarta dan sekitarnya belum mau menjadikan KA Bandara sebagai moda utama menuju Bandara Soetta. Salah satunya terkait tarif tiket yang sangat mahal. "Jujur salah satu yang menjadi keluhan saya adalah tarifnya yang membuat tidak nyaman dompet. Kalau bisa diturunkan," kata salah satu pengguna KA Bandara David dalam acara Diskusi Publik Review 1 Tahun KA Bandara di Hotel Sari Pacific, Jakarta, Rabu (9/1/2019). Tarif tiket KA Bandara Soetta sendiri saat ini sebesar Rp 70 ribu untuk satu kali perjalanan. Tarif itu lebih mahal dibanding moda transportasi umum yang menuju bandara lainnya. Mendengar keluhan itu, Direktur Utama Railink Heru Kuswanto tidak bisa menjawab. Dia hanya mengatakan tarif itu sudah sesuai perhitungannya. "Tarif sebenarnya saat ini hitungannya memang seperti itu. Tarif memang tidak bisa turun lagi," ujarnya. Heru menjelaskan KA Bandara sebenarnya merupakan amanah dari pemerintah. Dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 83 Tahun 2011 KAI dan AP2 diamanahkan untuk membangun KA Bandara dan menunjuk Railink sebagai operatornya. Berdasarkan penjelasan itu, menurut Heru jika ingin tarif KA Bandara lebih murah pemerintah harus intervensi dengan memberikan subsidi atau PSO. "Jadi untuk tarif pengaruhnya cukup banyak, barangkali pemerintah bisa masuk cukup dalam pakai PSO atau yang lainnya, ya monggo," ujarnya. Read the full article
Tarif Kereta Bandara Soetta Dinilai Mahal, Menhub: Tak Ada Subsidi
Liputanviral - Persoalan tarif kereta Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) yang dianggap mahal ramai dibahas dalam diskusi publik Review 1 Tahun Kereta Bandara di Hotel Sari Pacific, Jakarta, Rabu malam (9/1/2019). Turut hadir dalam acara itu Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi dan Direktur Utama PT Railink, Direktur Utama Railink Heru Kuswanto. PT Railink adalah anak usaha PT Kereta Api Indonesia, yang menjadi operator kereta Bandara Soekarno-Hatta. Dalam diskusi tersebut Heru mengatakan tarif kereta bandara Soekarno-Hatta tidak bisa turun lagi, dan dia mempersilakan pemerintah mengintervensi tarif dengan memberikan subsidi. Menhub buka suara merespons pernyataan itu. Dia menjelaskan alasan pemerintah tidak memberi subsidi untuk kereta Bandara Soetta. "Memang KA Bandara untuk Medan dan Jakarta ini tidak kita berikan subsidi. Karena memang dulunya proposal Railink ini komersial," ujarnya. Menurut Budi jika didesak tetap memberikan subsidi untuk kereta Bandara Soetta maka prosesnya akan sangat sulit, sebab pemerintah harus membuat produk kebijakan hukum yang baru. "Kalau kita kasih subsidi perlu adanya upaya legal dan itu harus didiskusikan," tegasnya. Budi optimistis tarif kereta Bandara Soetta saat ini masih bisa diterima masyarakat seiring dengan peningkatan pelayanan dan jangkauan semakin luas. Sebelumnya, kata Budi, saat kereta Bandara Soetta masih berbentuk kajian, diusulkan tarifnya mencapai Rp 100 ribu. "Sebenarnya orang tidak masalah Rp 70 ribu asal sampai Depok atau Bekasi. Jadi sampai tempat tujuan mereka," tambahnya. Sementara Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Zulmafendi mengusulkan agar PT Railink lebih baik melakukan pertimbangan secara internal, apakah ada kemungkinan perusahaan bisa melakukan efisiensi agar tarif lebih murah "Kalau subsidi memang agak berbeda, aturannya juga berbeda. Sebelum kita terlalu jauh bahas itu, kita ingin dari Railink melihat ke dalam dulu apa ada hal yang bisa diperbaiki, sehingga bisa disesuaikan. Kita juga berharap manajemen melakukan upaya-upaya lain sehingga ada substitusi tarif itu," tegasnya. Sebelumnya diberitakan, Institut Studi Transportasi melakukan review tentang 1 tahun beroperasinya KA Bandara. Hasilnya tingkat keterisian KA Bandara per harinya hanya 26%. Sangat jauh dari harapan awal yakni sebesar 60%. Read the full article