2 Ramadan 1441H: Bertambah
Alhamdulillah, telah tertunaikan hari kedua di bulan berkah Ramadan. Bagaimana dengan kalian? Semoga puasa kita berkah juga diterima Allah, memperberat amal salih kita. Aamiin.
Kawan, sejenak mari kita merenung tentang kehidupan yang tengah kita jalani ini.
Pernahkah terfikirkan tentang betapa Rahman dan Rahim sang Pencipta kita terhadap kita. Saat kita sedang "jauh" dariNya, sekalipun tak berkurang dari kasihNya. Terlebih saat kita mendekat, seolah bertambah kasihNya pada kita.
Saat kita berada dalam lingkaran pertemanan atau lingkaran-lingkaran lainnya dengan sesama manusia, kita berusaha untuk tampil dengan tampilan terbaik. Ketika kita melakulan kesalahan, kita berupaya untuk tidak melakukan kesalahan itu lagi, kedua kalinya. Nyatanya, apapun itu, dalam kehidupan kita pasti ada sesuatu dari dalam diri kita untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri. Agar tak ada orang-orang di sekitar kita yang kecewa. Agar mereka turut bahagia dengan apa yang telah kita usahakan.
Begitulah kehidupan. Karenanya, dari sini kita mampu mengambil pelajaran berharga. Jika di depan manusia saja kita berupaya sedemikian rupa untuk memperbaiki diri, maka bagaimana di depan Pencipta kita, Allah subhanahu wa ta'ala?
Kenapa masih terlontar dari mulut kita untuk tawar menawar dengan apa yang diperintahkanNya?
Bukankah sudah jelas apa yang termaktub dalam al-Qur'an mana yang halal juga haram bagi kita?
Namun seolah itu tak berarti lebih untuk kita. Masih saja ada yang beranggapan kewajiban menutup aurat bagi perempuan muslim adalah saat dirinya siap. Padahal siap bukanlah standar amal. Masih ada yang berdalih bahwasanya, dirinya menunggu hidayah. Masih ada pula yang menyangkal dengan menyatakan untuk memperbaiki hati dulu. Dan sebagainya.
Ini dalam satu perkara, yaitu menutup aurat bagi perempuan muslim.
Dan nyatanya masih banyak perkara yang hingga detik ini kita belum sempurna untuk taat totalitas terhadap perintahNya.
Lantas, mau sampai kapan kita akan berkubang dalam dosa-dosa?
Iya, memang. Kita bukanlah seorang yang maksum sebagaimana Rasulullah. Justru karena itu, bukankah kita akan mengupayakan memperbanyak peluang agar amal kita diterima olehNya?
Apakah surga belum cukup membuat kita terpana, hingga kita masih sibuk memikirkan dunia?
Dan di bulan mulia ini, mari kita bermuhasabah diri. Memahami hakikat diri kita sebagai hamba. Memahami hakikat kehidupan kita untuk apa. Juga mengupayakan dengan segenap jiwa menjadi hamba yang bertakwa.