Somehow I have been stunn'd. Stand back!
Give me a little time beyond my cuff'd head, slumbers, dreams, gaping,
I discover myself on the verge of usual mistake.
Sebagai permintaan maaf, aku kutip tulisan di atas. Susah mencari buku langka seperti itu. Kopenhagen kota yang modern, tapi tidak untukku dan dahaga buku.
Tahukah kau bagaimana reaksi teman sekelas melihatku saat diam-diam ku baca suratmu di kuliah City and Capitalism- dan aku tertawa terbahak-bahak. Mr. Bon menanyakan sesuatu tentang Teori Marx dan aku menjawab sekenanya. Kalo kamu di sini dan ditanya, pasti malah jadi kuliah tamu.
Wahai, Mas RMWJY ---> I found this soo alay! Hahaha, gambar Shinta cantik sekali. Aku jelas tertawa karena ia sangat cocok bersanding denganmu. Bukankah ia rela menjaga kesuciannya di tangan Rahwana karena kelalaianmu? Jadi, apalagi yang kau tunggu?
Oke, selesai bercandanya. Denmark negara yang tertib. Rasanya berada di planet lain. Suasana kota Kopenhagen sangat nyaman untuk bersepeda dan berjalan kaki. Kau pasti betah liburan disini. Tapiiiii- tapi this city is flat as pancake. Aku lebih suka Bandung dan gunung-gunung yang bersila mengitarinya. And I just want you to know that I'm at fancy coffee shop right now, waiting for a handsome Danish Guy named Jonas. with pointed nose and brown hair. How could you know that in the first place? I wonder.
SILLY. Bagaimana bisa? Kau yang paling tahu seleraku adalah 'kuda liar berbulu cokelat gelap, berambut hitam.' Ya, ku beri tahu jika kau tak tahu. maka, kau tak perlu patah hati begitu.
Rama, kau juga yang paling tahu juga bahwa aku tidak pernah merasa berhak untuk menilai kehidupan seseorang. Sudah terlalu banyak hakim di sekitarku, kurasa. Kenapa tak kita biarkan saja seseorang hidup dan mati, datang dan pergi sesuai kehendaknya? Selama itu adalah kehendaknya sendiri, kebahagiaan yang ia yakini, kenapa tidak? Dulu aku bisa mengatakan itu karena aku masih berpikir bahwa Tuhan itu ada di kehidupan setelah ini. Namun, belakangan aku berpikir bahwa Ia ada dimana-mana. Aku menemukan-Nya di mata seorang gadis kecil yang menatapku lekat-lekat di kereta. Aku menemukan Ia juga pada kepakan burung-burung di taman kota. Atau sesederhana tetes embun di pagi yang sunyi. Pernahkah kau merasa demikian? Ketika aku merasakan kehadiran-Nya saat itu, hangat sekali- ringan sekali jiwa ini. Rasanya seperti sehelai bulu yang menunggangi angin.
Mochtar Lubis memang sosialis. Aku rasa melihat Indonesia dengan kacamatanya berarti perombakan besar-besaran pada manusia Indonesia. Ia pernah menulis tentang hal itu. Mau sosialis atau liberalis, kondisi Indonesia terlalu rumit dengan sistem ekonomi manapun. Dan jalan tengah dari itu mungkin adalah nilai-nilai lokal yang tak hilang begitu saja sejak nenek moyang dahulu. Entahlah, aku belum banyak tahu tentang ini.
Peluk cium untuk malaikat-malaikat kecil itu. Obat masuk angin yang kau kirim belum kadaluwarsa, untunglah. Ampuh menghangatkan di tengah musim dingin ini. Terima kasih :)
PS: Berkilo-kilo maaf, tugas awal kuliah membuatku gila dan tak sempat membalas suratmu terdahulu. Kenapa Eidelweiss mengingatkamu padaku? Ah, bukan yang diam-diam kau petik di Rinjani tahun lalu kan?
PPS: sadarkah kau baru saja menuliskan namaku? Di surat-surat sebelumnya tidak ada satupun memuat namaku di dalamnya. HA! Score for me.