Tentang Pegawai Negeri Sipil
“Kerja? Kerja apaan?”
“Pegawai Negeri Sipil” kata saya.
Keningnya sedikit berkerut. “Instansi mana?”
Kalau sudah begini, sebenarnya saya agak malas. Tapi ujung-ujungnya saya akan tetap menjawab karena saya tidak punya cara mengelak dari pertanyaan sederhana ini. Ketika saya menjawab tempat saya bertugas, saya bisa melihat senyuman samar dan ekspresi menuduh.
Atau mungkin saya saja yang paranoid.
Pegawai negeri sama artinya dengan lambat dan… bodoh. Jumlahnya terlalu banyak sehingga pada saat jam kerja internetan saja atau baca koran sambil ngopi. Kerjanya enggak becus. Pokoknya buang-buang duit negara.
Tarik napas.
Well, saya enggak bisa bilang itu semua enggak benar. Pada kenyataannya memang ada yang seperti itu. Orang-orang melihat dengan mata kepala sendiri. TV dan media juga memberitakan itu semua. Saya pernah menonton razia pegawai negeri yang keluyuran di luar jam kerja pakai baju dinas. Tentang cerita-cerita orang diminta memberi pelicin agar semua urusan jadi gampang.
Termasuk bisik-bisik yang memperburuk citra pegawai negeri yang anehnya biarpun dihina seperti itu selalu ramai saat ada lowongan sampai ada yang nyogok.
Saya bukan orang naïf yang bilang pegawai negeri itu pahlawan negara. Saya tidak berani menyatakan tanpa pegawai negeri negara ini tidak akan jalan. Tidak. Tidak sejauh itu. Institusi saya perlu banyak penyempurnaan dan perbaikan. Jangankan masyarakat. Saya sendiri suka gemas dengan tempat saya bekerja.
Hanya saja…
Sedih rasanya kalau SEMUA pegawai negeri dicap tidak profesional. Tolol. Tidak berkontribusi. Bikin negara bangkrut. Kalimat menyamaratakan seperti ini mengecilkan upaya banyak orang. Diplomat-diplomat Indonesia yang ditempatkan di seluruh dunia setahu saya masih pegawai negeri. Peneliti-peneliti di departemen kesehatan dan pertanian mayoritas pegawai negeri. Analis keuangan yang mengelola dana bergulir beasiswa LPDP juga pegawai negeri. Banyak sekali pekerjaan pegawai negeri yang tidak kelihatan dan tidak kedengaran gaungnya.
Harapan muluk saya, profesi ini punya image yang lebih baik. Kalau bisa, kritikan yang masuk lebih detil. Memang lebih sulit untuk menyatakan secara spesifik. Tapi rasanya kritikan seperti itu lebih adil ketimbang kalimat-kalimat yang bilang semua pegawai negeri adalah pemalas.
“Wah, enak dong. Bisa korupsi. Hartanya banyak. Bagi sedikit lah.”
Saya hanya tersenyum.










