Hal yang guru fisika dan kimia ajarkan kepada saya
Belajar adalah proses “dari tidak tahu menjadi tahu”
Beberapa tahun yang lalu, ketika masih duduk di bangku SMA, kata-kata ini seperti jimat untukku. Kalimat ini membuatku menjadi suka belajar. Membuatku menikmati sensasi ketika di dalah hati aku berkata “ooo...” ketika baru saja mengetahui suatu hal.
Meskipun begitu, tetap saja ada saat-saat dimana saya tidak suka belajar. Ada saat di mana belajar terasa seperti beban. Sesuatu yang tidak ingin saya lakukan, namun harus saya lakukan. Terutama jika saya tidak menemukan alasan belajar selain untuk mendapatkan angka di raport. Tidak lebih dan tidak kurang.
Fisika dan Kimia..
Saya rasa tidak sedikit yang akan sepakat bahwa kedua mata pelajaran ini sangat absurd. Untuk apa saya mengetahui muatan atom? Untuk apa saya menghafalkan nama senyawa? Untuk apa saya menghitung gaya gesek benda yang sedang bergerak? Bagi mereka yang bercita-cita berkarir di bidang ilmu alam, tentu saja hal ini penting. Tapi untuk saya, saat itu saya benar-benar berfikir “apa gunanya semua ini?”
Namun setelah kini menjalani perkuliahan di tingkat pascasarjana, sempat terpikir beberapa kali “mungkin saya mendapatkan beberapa hal selain angka yang ada di raport”
Saya belajar beradaptasi dan menjalani keadaan yang tidak menyenangkan. Karna kenyataannya, setelah dewasa, ada lebih banyak keadaan tidak menyenangkan yang harus saya lewati.
Rumus-rumus fisika dan kimia itu, walaupun saya merasa tidak penting mempelajarinya, ternyata diam-diam telah membantu saya melatih kemampuan berlogika. Kemampuan yang sangat diperlukan, meskipun saya tidak ingin menjadi ilmuwan di kedua bidang tersebut.
Saya belajar untuk menghargai seseorang yang sedang berbicara kepada saya meskipun saya tidak tertarik dengan hal yang dibicarakannya.
Hal-hal di atas, bukan sesuatu yang bisa dipelajari hanya lewat membaca teori di buku. Kita perlu melatihnya menjadi suatu kebiasaan dan butuh waktu yang tidak sebentar.
Satu hal lagi yang pada akhirnya saya sadari “sesulit apapun, setidak menarik apa pun, saya masih bisa mendapatkan nilai jika saya bersungguh-sungguh berusaha. Maka harusnya saya bisa mendapatkan lebih dari sekedar nilai jika kini saya mempelajari hal yang saya anggap menarik dan saya sukai. Saya hanya perlu berusaha."
Pada akhirnya, guru telah mengajari saya banyak hal. Saya hanya belum menyadarinya saat itu.
Jakarta, 28 Oktober 2014











