Rencana #3
Ini adalah rencana terakhir saya dalam merayu ibu untuk mendapatkan restu kuliah Master di Jerman. Lain halnya dengan Ibu, kakak saya yang kedua sudah deal dengan kesepakatan saya. Sebenarnya bukan kesepakatan, hanya obrolan para lelaki dewasa tentang masa depan keluarga. Tanpa babibu panjang, Ia hanya berpesan “2 tahun paling lama, balik segera!” Hati saya seakan melompat-lompat dengan hasil obrolan pria dewasa itu.
Rencana ketiga ini adalah rangkaian rencana yang saya susun untuk membuat hati Ibu yakin. Sesuai dengan tahapannya, rencana ini ada tiga jenis. Mari kita mulai!
Bagian pertama; Waktu itu masih di bulan ramadhan 1437 H. Saya dapat jarkoman dari grup Teknokrat Muda ITS kalau ada Pak Habibie di salah satu stasiun swasta TV. Saya langsung memonopoli remote TV untuk saya besarkan volumenya. Pas alhamdulillah, Ibu ada di ruang tamu untuk menonton bersama.
Allah memang Maha Besar, waktu itu sedang dibahas perjuangan Pak Habibie di Jerman, pas sekali dengan target saya. Sedikit demi sedikit perjuangan Pak Habibie diceritakan, mulai dari keberangkatan, kesulitan hidup di sana, sampai menjaga idealismenya ketika harus belajar di negeri orang. Ibu sudah cukup punya bekal mengenai beasiswa, di rencana 1 dan 2, Ibu sudah cukup hapal obrolan saya dan Pak Budi tentang beasiswa LPDP. Jadi saya hanya perlu memastikan, bahwa Ibu menikmatinya sekaligus penambah semangat bagi saya pribadi.
Ada kata-kata yang menarik bagi saya, bahwa siapa saja bisa melakukan yang diinginkannya, asal ada usaha pasti ada jalan. Ucapan itu ditekan dalam sekali oleh Eyang (panggilan Pak Habibie). Seakan terbang, pikiran saya mengangkasa memikirkan kemungkinan saya di Jerman. Padahal masih jauh, tapi tak apalah bermimpi di awal.
Bagian kedua; Bagian ini adalah kesukaan saya meski pengaruhnya ke Ibu mungkin tidak banyak. Tapi biarlah ini menjadi satu penyemangat saya untuk terus mengejar mimpi. Bukankah mimpi itu yang membawa banyak orang menjadi sukses?! Saya membeli buku Rudy bersampul biru laut. Karena baru saja menonton tayangan di TV swasta beberapa hari lalu, Ibu pasti tahu betul buku yang saya bawa ini tujuannya untuk apa.
Ibu sudah paham kalau saya suka baca buku, meski tidak terlalu maniak. Tapi saya bahkan sering dimarahi hanya karena terlalu sering lupa waktu sampai larut malam kalau baca buku. Rudy yang sedang memegang pesawat -di bagian cover buku tersebut- memang berbeda 180 derajat dari jurusan saya. Tapi semangat dan perjuangannya akan saya tiru untuk membawa saya sukses di Jerman, InsyaAllah.
Bagian ketiga; Ini adalah bagian yang saya rencanakan matang. Bersama teman-teman Teknokrat Muda ITS, saya melakukan nonton bioskop sambil membahas nilai kemahasiswaan. Tak lupa Ibu saya ajak sekaligus sebagai senjata terakhir merayunya. Saya dan teman-teman menonton film selama 2 jam ini dengan cukup haru. Perjuangan Eyang di Jerman membuat saya merinding.
Tentang idealisme yang selama ini saya dan mungkin anda agungkan, rasanya tak ada apa-apa jika dibanding kisah nyata beliau di Jerman. Faktanya adalah Beliau mencintai Indonesia. Masalahnya adalah Beliau mencintai Indonesia. Dan solusinya adalah Beliau mencintai Indonesia! Saya sempat rembes ketika melihat sajian yang sangat menggugah hati. Ternyata dunia ini masih terlalu luas untuk diakhiri kebiasaan mencari ilmunya. Laut masih terlalu banyak menyimpan rahasia untuk dikuak oleh manusia. Langit masih menyimpan berjuta misteri untuk dibuka oleh kita, manusia.
Tentang keluarga, saya dapati keluarga Rudy memang tidak terlalu kaya, namun mereka mendahulukan pendidikan di atas segalanya. Saya hanya bisa meniru semangatnya, motivasinya terhadap negerinya, kontribusinya, niatnya dan kecintaannya terhadap bangsa.
Ibu diakhir film selesai, mengajak saya untuk keluar, tapi sebelum semua berakhir saya ingin menanyakan pertanyaan itu sekali lagi. Pertanyaan yang sudah saya tunggu jawabannya dari Ibu, meski sebelumnya saya sudah dapati perubahan di dalam pola pikir Ibu. “Ibu, diizinkan gak, Pandu kuliah di Jerman?” Dengan senyum mengembang saya menunggu jawaban Ibu. Lantas dengan senyum merekah pula ibu menjawab pertanyaan saya.
Allahu Akbar!
Saya tahu, saya dan Eyang tidaklah sama, kami punya jalan masing-masing. Kunci kesuksesan kami pun berbeda, dan kami dari dua alam yang berbeda. Eyang udara, saya adalah laut dengan dunia perkapalan. Tujuan kami sama, untuk memajukan industri masing-masing bidang disiplin ilmu untuk Indonesia, ya Indonesia! Meski mungkin cara yang saya tempuh akan sedikit berbeda, semoga tetap istiqomah di jalan kebenaran.
Bismillah, semoga Allah menguatkan dan memudahkan segala prosesnya! Jerman, tunggu Pandu di sana!
@panduheru
















