Jadi, selama kurang lebih 3 hari ini saya berada di Kalimantan Tengah, tepatnya di Kabupaten Pulang Pisau, untuk mencari tahu dampak dari kegiatan restorasi gambut yang selama ini sudah dikerjakan BRGM (dulu BRG). Jadi saya revisit kegiatan BRGM yang sudah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya di desa yang berada di Pulang Pisau. Idealnya, semua kegiatan saya datengin, tapi apa mau dikata, karena terbatas dana juga waktu, dan juga saya tidak sendiri, akhirnya hanya datang ke dua desa: Talio Hulu dan Buntoi. Itu pun terbatas hanya ke satu kegiatan dari sekian banyak intervensi di desa tersebut. Juga, terbatas hanya pada 1-2 responden, yang pada akhirnya hanya mendapat satu perspektif data, yang menurut saya belum cukup, karena belum ada unsur triangulasi, dan juga informasi itu masih fresh, belum jenuh. Satu lagi, responden dari kegiatan di kedua desa itu *kebetulan* merupakan kegiatan restorasi yang bisa dikatakan berhasil, karena telah memberi stimulus kepada orang yang tepat akhirnya bisa memberikan perubahan meski hanya terbatas pada sekelompok orang.
Talio Hulu
Saya mewawancarai ketua pokmas yang membawahi 6 kelompok tani. Pokmas di sini serupa dengan Gapoktan - gabungan kelompok tani. Mereka mendapatkan bantuan kegiatan revitalisasi ekonomi (R3) yang merupakan bagian dari skema PEN soal ketahanan pangan pada tahun 2020. Tujuannya sederhana namun pas: menghidupkan kembali sawah yang saat ini kondisinya adalah semak belukar. Terakhir warga menanam sawahnya sekitar tahun 2000, jadi bukan hanya semak belukar yang ditemukan di sana, tapi juga pohon-pohon yang diameternya lumayan besar. Lokasi sawah ini merupakan lokasi pemberian 2 bidang lahan yang diterima oleh masing-masing keluarga trans. Iya, Talio Hulu ini memang desa transmigrasi yang mulai diduduki pada tahun 1980an. Bapak ketua Pokmas ini, Jemino, sangat ingat kapan dia datang, kelas 6 SD pada tahun 1981 bulan 10.