We just have to.....
Saya sempat pensaran, kenapa bahasan mengenai cinta, asmara hingga pernikahan itu sangat menarik sekali.. termasuk saya pribadi. jujur, membaca buku-buku yang bertemakan melow-melow cinta itu memiliki ketertarikan tersendiri dan ternyata seru saat dibaca. he he he apalagi kalau baca siroh sohabiyah, beuh.. rasanya teh.. begini begitu pasti pernah dong ngerasain jatuh cinta? tapi, pernah juga gak sih ngerasain yang namanya kapok jatuh cinta? hehe atau pernah gak sih mengkoreksi lagi kedalam diri, ketertarikan kita sebagai hamba Allah terhadap hamba Allah yang lainnya itu karena hati atau memang karena hawa nafsu? ini juga pernah terjadi pada saya pribadi loh, hehe.. saya sempat bingung juga dulu, memang apa sih bedanya kalau kita tertarik karena hawa nafsu sama kalau kita tertarik karena 'hati'.. *tsaaah* kan bahaya kalau-kalau ternyata kita tertarik karena hawa nafsu.. salah-salah, perangkap syaiton *naudzubillah* nah, pernah dapet satu materi di suatu kajian, tapi afwan banget sangat lupa apa nama kajiannya.. intinya, ketika memang kita tertarik pada seseorang karena hawa nafsu biasanya perasaan kita akan cenderung fluktuatif, sangat signifikan, contoh.. jika terjadi suatu hal yang nyenengin perasaan kita bakal ekspresif, kita akan bahagia nah kalau tidak mengenakkan akan membuat kita tidak mempunyai daya tahan.. berbeda jika tertarik karena hati, pingin nya itu selalu ngebahagiain, memberikan, melakukan sesuatu yang baik dan lebih baik lagi. selalu mikirin apa yang saya harus berikan untuk dia.. berbeda dengan hawa nafsu, pasti mikiri nya itu, apa yang sudah diberikan buat saya.
kalau karena hati, makin nambah cintanya makin bertambah rasa cinta itu makin kita menjadi sabar, makin kita menjadi bermanfaat buat orang banyak, makin kita berani berkorban, dan yang paling saya garis bawahi keras ternyata kita bisa menjadi semakin khusu dalam sholat.. (Masya Allah) pernah tidak, gara-gara mikirin cinta, sholat jadi enggak khusu? (jawab sendiri-sendiri aja yaa, hehe)
semoga cinta kita bukan cinta yang dibumbui dengan religi, maksudnya itu cinta yang agak-agak modus, biasanya kalau cinta bukan karena Allah, maka jika sudah halal nantinya, pasti akan berubah sikap, tidak semanis dulu ketika 'pdkt-an dengan berlatarbelakang modus religi.. "kamu udah sampai mana ngajinya? udah juz berapa hapalannya", dan bla bla bla lainnya...
penting juga bagi kita untuk melandasi cinta kita memang karena Allah.. sebagai mana dalam firman-Nya
"Katakanlah, 'Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-strimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugian nya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang fasik" (Q.S At-Taubah : 24)
Firman tersebut sangat jelas memberitahukan kepada kita tentang 'resiko' jika kita mencintai sesuatu melebihi cinta kita kepada Allah dan rasul-Nya.
menurut saya ada dua dampak mencintai. siapa yang jika kita mencintainya berpahala dan siapa yang jika kita mencintainya maka kita akan berdosa.. silahkan.. hidup ini pilihan, semuanya sudah Allah gambarkan dan jelaskan dalam Al-quran, tinggal bagaimana kita dapat mengamalkan dan menyikapinya saja
pada akhirnya, hanya harapan dan doa-doa yang dapat di langitkan. jika memang takdir nya, semoga termasuk kedalam yang apabila saya mencintainya maka saya akan berpahala, begitu pun untuk mu.. aamiin
akhiran kata mari kita revolusi cinta kita menjadi cinta karena Allah :)














