Tentang aku dan hatiku yang babak belur
Cerita ini aku tulis untuk kamu yang tinggal di Neptunus. Bukan, bukan Neptunus Perahu Kertas. Neptunus Margahayu.
Pelajaran merelakan sepanjang bulan Mei-Desember ini aku rasa merupakan salah satu pelajaran merelakan terberat yang aku lalui sepanjang hidupku.. rasanya beda tipis dengan merelakan kepergian bapak. tapi bila diingat lagi, bahkan di hari itu masih ada kamu yang menenangkanku. jadi sepertinya yang kali ini aku nobatkan sebagai jawaranya.
Selama tujuh bulan ini aku harus ikhlas dan berdamai dengan banyak hal, termasuk mengikhlaskan dan berdamai dengan lautan perasaan yang ingin kuungkapkan padamu. Rasanya ingin ku puk-puk hati ini. karena perjuangannya sungguh berat. So, today, let me tell you story about me and my beaten heart.....
Pelajaran pertama yang harus ia (hatiku) terima adalah tentang kenyataan bahwa akhirnya ada ujung dari jalan yang kita tapaki bersama. Seperti dua baris pertama dari Puisi Cahaya Bulan yang dibawakan Nicholas Saputra:
“Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui”
Hari yang sudah mengintip sejak bertahun-tahun lalu namun kita putuskan untuk tidak menghiraukannya. Hari yang sedikit demi sedikit keluar dari persembunyiannya sejak kejadian di rumah sakit saat kamu kecelakaan. Akhirnya dia menunjukkan wajahnya lewat keberanian kamu untuk bilang.....
“Dep, kayaknya eki udah ga bisa ngejalanin ini lagi”
Rasanya seperti ditampar.. tapi sama Hulk. Anehnya aku lega. Lega karena akhirnya salah satu dari kita berani untuk mengakhiri. Lega karena setelah hampir 7 tahun hanya berputar-putar di rute yang sama, karena kita terlalu takut untuk jalan sendiri, akhirnya kamu lihat jalan lain sekalipun jalannya nggak bisa dilewati berdua. Dan di hari itu aku tahu, kamu sudah memasuki jalan itu lebih dulu daripada aku. Aku tertinggal beberapa langkah.
Hari itu memang datang melalui keberanianmu untuk mengucapkan kata-kata itu. Tapi aku juga mengamini ucapanmu. Tidak ada yang jahat dalam cerita ini. Ini tentang aku dan kamu yang sama-sama sudah kehabisan bahan bakar untuk terus berjalan. Tentang dua orang yang lelah melawan arus. Tentang harapan-harapan yang kalah dalam pertarungannya melawan kenyataan. Dibalik semua tawa dan tangis yang kita lalui, kita berdua sama-sama menunggu hari itu datang. Menunggu wangsit itu turun. Persoalannya hanya tinggal melalui siapa. Aku tidak menyalahkanmu. Aku tidak menyalahkan apapun atau siapapun yang menjadi sumber keberanianmu di hari itu.
Selama satu bulan hatiku mengalami lag. Hence the zen moment yang sempat bikin kamu, bahkan aku sendiri bingung
“Kok aku ngga nangis? kok aku biasa aja? harusnya kan ga gini”
Sampai suatu pagi, lewat merdunya lantunan lagu IU yang berjudul Full Stop dengan lirik:
True feelings we shared piece by piece Answers that were so easy Several seasons that we loved unforgettably Goodbye, Goodbye to it all
akhirnya rasa sakit itu mengalir ke sensor-sensor di hatiku dan tangisan pertamaku datang. Anehnya lagi-lagi aku lega. Tapi kali ini lega karena aku tahu ternyata aku baik-baik saja. Ternyata hatiku masih bisa bereaksi dengan normal meskipun telat. Pagi itu, ku putuskan untuk menerima segala rasa sakit yang datang dalam perjalananku menapaki jalan baru ini. Sendirian. Hanya aku dan hatiku.
“Bagai letusan merapi Membangunkanku dari mimpi Sudah waktunya berdiri Mencari jawaban kegelisahan hati” - Puisi Cahaya Bulan









