Life Crisis in "New Normal" Era
Tahun ini menjadi tahun terberat bagi kebanyakan orang. Aku, kamu dan kita semua sedang berada di fase terberat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Di era "new normal" ini, kita dihadapkan dengan banyak persoalan baru yang begitu berat. Di luar ekspetasi dan melewati batas kemampuan diri. Memaksa kita untuk menjadi orang dewasa seutuhnya.
Ini bukan lagi soal materi, namun juga mental. Banyak perubahan yang terjadi begitu cepat dan tak pasti. Tentu, kita semua tak siap dan memang tidak pernah mempersiapkan untuk worst case seperti ini. Bahkan mungkin sejarah akan mencatat fase ini sebagai fase terburuk.
Akibatnya, semua rencana berantakan. Semua mimpi tertunda. Semua usaha seolah menjadi sia-sia dan membuat kita berada di titik terendah. Hilang arah dan tujuan.
Dilema. Cemas. Takut. Frustasi.
Semua rasa melebur menjadi satu.
Berbagai polemik pun muncul; namun kali ini sedang tak membahas soal teori konspirasi mengenai virus Corona, yang jelas virusnya nyata di depan mata.
Berbagai masalah terkait bisnis, karir, studi, dll yang terpaksa tertunda atau bahkan hancur berantakan tak bersisa.
Dari sektor pendidikan, ada yang sudah berencana studi ke luar negeri tahun ini, akhirnya terpaksa harus menunda keberangkatannya atau bahkan membatalkannya.
Bagi mahasiswa tingkat akhir pun menjadi cobaan tersendiri. Susahnya menyelesaikan skripsi karena sistem bimbingan online ditambah dosen yang 'tidak kooperatif' dalam membantu mahasiswa menyelesaikan TA (tugas akhir). Belum lagi, tuntutan membayar UKT dan beli kuota internet untuk kuliah online (bagi para mahasiswa), sedangkan kondisi dalam keadaan jobless. Apalagi jika menjadi tulang punggung atau harus membantu biaya hidup di keluarganya.
Di sektor bisnis:
Banyak perusahaan gulung tikar, tanpa terkecuali perusahaan-perusahaan besar di dunia. Banyak pula yang baru saja merintis usahanya, alih-alih untung eh malah terpaksa harus menutup usahanya begitu saja (padahal belum balik modal).
Banyak juga yang sedang merintis karir namun terpaksa diberhentikan. Tak sedikit pula, para pekerja yang sebelumnya memiliki jabatan tinggi nan strategis yang terpaksa harus berhenti bekerja hingga akhirnya melamar pekerjaan baru dengan jabatan yang jauh lebih rendah atau bahkan harus memulai karir dari nol lagi atau banting stir membuka bisnis dari nol.
Bahkan ada yang masih berjuang mencari pekerjaan, namun sejak virus Corona datang, jobseekers pun semakin berada di ujung tanduk. Apply sana sini ditolak. Tak ada tawaran sama sekali, apalagi sebuah panggilan interview. Bahkan untuk sekadar internship pun sulit.
Akhirnya, sebagian orang pun mencoba pindah haluan untuk "beralih profesi", tapi ternyata orang lain pun juga melakukan hal serupa: mencoba profesi lain (bukan bidangnya & tidak sesuai passion) yang ia pikir akan lebih mudah untuk diterima karena peluangnya lebih besar. Namun, ternyata ribuan bahkan mungkin jutaan orang juga berpikir demikian dan akhirnya melakukan hal yang sama.
Lalu, akhirnya mencoba menurunkan "standar" atau mengubah preferensi seperti gaji, lokasi perusahaan, jenis perusahaan, roles/jabatan, dan lainnya, namun tetap gagal juga mendapat pekerjaan. Akhirnya semakin frustasi dan ingin menyerah begitu saja.
Di sisi lain dari segi kesehatan mental, bagi para extrovert #StayatHome merupakan siksaan terberat bagi mereka karena mereka memperoleh energi dengan bertemu orang lain. Berbeda halnya dengan para introvert yang sudah terbiasa berdiam diri di rumah.
Ingat, apapun keadaannya, bukan kamu yang salah. Kondisi yang memaksa kita untuk belajar ikhlas dan menerima takdir. Takdir memang sedang tak berteman dengan keadaan. Begitu pula waktu. Tapi kamu tidak sendirian kok. So, jangan menyerah!
Ya, wajar saja kita merasa sangat down dan terpuruk.
Mungkin ini juga pertanda dari tuhan untuk introspeksi diri agar menjadi lebih baik ke depannya.
Belajar hidup sederhana, tidak boros, lebih peduli dengan lingkungan & kesehatan, menghargai waktu (quality time) & interaksi dengan manusia, dan menyiapkan semua rencana (financial, karir, studi, impian, dll) untuk jangka waktu yang lebih panjang dengan plan A, B, C. Karena kita tak pernah bisa memprediksi hal terburuk di masa depan.
Hikmahnya, pandemi mengajarkan banyak hal yang sering terlupakan dan terabaikan oleh kita.














