Yang kita hormati
Hampir setiap dari kita pasti punya seseorang yang kita kagumi, seseorang yang kita banggakan. Seseorang yang selalu kita ikuti ceritanya. Mulai dari ceritanya yang membuat kita ikut senang, ikut sedih, prihatin, dan juga cerita-cerita sehari-harinya yang lain. Kita juga mengikuti tingkah lakunya sehari-hari. Perilaku baiknya, juga buruknya, perasaannya, juga setiap jalan pikirannya.
Hampir setiap dari kita pasti punya seseorang yang kita hormati, seseorang yang kita patuhi perkataan dan perintahnya. Seseorang yang sangat kita junjung tinggi. Seseorang yang punya martabat dan kharisma di mata kita. Seseorang itu sangat berperan dalam dalam hidup kita. Memberikan kita banyak pelajaran.
Seseorang itu adalah role model. Seseorang yang kita tahu dia sangat piawai dan sangat berbakat dalam hal yang dia tekuni. Seseorang yang kita anggap punya kedudukan dan pengaruh tertentu dalam hidup kita.
Namun sayangnya tidak semua dari kita aware terhadap siapa yang kita jadikan role model. We mindlessly obedient to them without knowing exactly why. Seorang karyawan akan sangat menghormati manager dan direktur perusahaan tempat dia bekerja. Mereka akan membukakan pintu untuk mereka, mempersilakan mereka masuk ruangan terlebih dahulu, dan lain sebagainya. Seorang junior juga menghormati seniornya dengan cara yang hampir mirip. Junior akan dengan sukarela menyelesaikan pekerjaan senior mereka. Menjadi editor mereka dengan melakukan second check, cross check, analisis, dan sebagainya.
Pertanyaannya adalah, kenapa kita mau melakukan semua itu?
"Kita harus menghormati mereka karena mereka senior kita", "Mereka itu atasan kita, bos kita", "Mereka itu lebih tua dari kita, harus kita hormati".
Kurang lebih alasan seperti itulah yang sering dikatakan. Jujur saja, aku kurang puas dengan jawaban seperti itu. Iya kalau bos/senior kita adalah orang yang baik, kalau mereka itu bukan orang yang baik, kenapa harus kita bantu?. Kenapa kita harus sampai seperti itu kepada bos/senior kita?. Kenapa kita sampai menjadi (kalau bahasa kasarnya) "pembantu" di depan bos/senior kita.
"Itu namanya unggah-ungguh Man, tata krama"
Itu yang diajarkan orang tua kepada kita. Aku yakin itu benar. Tapi alasannya hanya karena orang itu lebih tua dari kita, sudah sepatutnya kita hormati. Well, lalu kenapa sesaat setelah kita membukakan pintu untuk bos/senior kita, siangnya kita pesan go-food dan menyuruh seorang bapak-bapak yang tidak begitu paham smartphone, namun karena tuntutan keluarga sengaja mengeluarkan uang pas-pasannya membelikan kita makanan dan mengantarkannya ke meja makan kita dengan bayaran yang tidak seberapa. Ironis.
Kalau sudah seperti ini aku yakin alasannya bukan karena tata krama.
Sampai suatu saat, ketika aku mengaji sekaligus membaca sendiri buku karangan Imam Al-Ghazali yang berjudul Bidayatul Hidayah. Di kitab tersebut diterangkan bahwa
Haram bagi kita untuk menghormati seseorang karena kedudukannya atau karena kekayaannya. Tapi hormatilah seseorang itu karena ilmunya (ilmu agama). Kalau seseorang menghormati orang lain itu karena kedudukan/martabatnya, maka hilanglah 1/3 dari imannya.
Ini adalah jawaban yang tegas dan jelas akan perlu dan tidaknya kita menghormati orang di sekitar kita. (Disclaimer: Namun sudah barang tentu kalau kita dihadapkan dengan orang perlu/tidaknya menghormati orang tua kita atau orang-orang yang berumur lebih tua dari kita. Jawabannya adalah "Iya perlu". Yang dibahas disini adalah orang-orang di luar keluarga kita.) Selain itu juga alasan mengapa kita menghormati seseorang. Pastikan alasannya adalah tepat dan sesuai dengan ajaran agama. Dan bukan alasan yang mindlessly menghormati mereka karena frankly mereka adalah orang yang menggaji kita tiap bulannya.
Pastikan kita punya role model yang tepat, dan hormati orang dengan alasan yang tepat. Pastikan juga orang tersebut sesuai dengan alasan kenapa kita menghormati mereka, mereka bukan penipu. Berdasarkan kitab Bidayatul Hidayah di atas, kita perlu menghormati seseorang itu karena ilmunya. Artinya yang perlu kita patuhi adalah Rasulullah SAW, para Ustadz, para Kyai, para Waliyullah, dan para Salafusholeh. Merekalah orang yang berilmu, dan merekalah yang patut kita hormati.
Well, Aku bukan mau membuat kalian menjadi pembangkang atau tidak nurut kepada orang-orang di sekitar kalian. Setidaknya aku ingin kalian menjadi lebih aware, lebih mindful terhadap siapa-siapa saja yang perlu kalian hormati dan kalian patuhi.
Dan yang lebih penting, jangan kalian lepaskan begitu saja 1/3 keimanan kalian. Ini juga peringatan besar untuk diriku sendiri
PSBB ternyata diperpanjang, 10 Mei 2020
R.

















