Termodinamika 1
Dingin. Baru saja tadi aku merasakannya ketika aku berada di dekatmu. Kamu membawaku ke dalam palung lautan tanda tanya. Membelah berbagai tebing-tebing es dinginnya sikapmu hari itu. hilangnya rekah senyum hangat untukku. Lepas sudah tatap indah pancar terang matamu untukku. Seakan-akan menandakan bahwa tak ada lagi aku di dalam dirimu. Mengingat berapa lama waktu yang telah terdistorsi antara kita, ternyata tak pernah bisa menjamin bisa berada pada dimensi temporal satu satuan fase yang sama.
Hangat. Sudah lama aku merindukan perasaan yang dapat menerbangkanku menuju matahari pagiku. Selalu datang dan menyelimutiku dan menghapus segala sepi di hati. Keinginan yang kita untai, angan dan harapan selalu berhasil menjadi hangatnya sinar pagi memulai hari. Aku ingin mencoba untuk memperangkap kehangatan cerah sosokmu agar dapat menjadi benda pijar dalam hari-hariku tapi yang berkali-kali terjadi ketidaksepakatan akan arti kata memperangkap itu sendiri. Akhir halu yang paling pedih adalah mengetahui bahwa hangatmu tetap ada tapi bukan lagi untukku.
Panas. Sudah lama kita tak tegur sapa. Hanya saling memandang dari kejauhan satu sama lain atau mungkin hanya satu tak sama lain, satu untukku, tak sama lain untukmu. Tapi hari ini tidak. Aku coba untuk menemuimu menanyakan gelak apa yang terjadi selama ini. Diam dan memejamkan mata sejenak kemudian kamu menampakkan tatapan yang menyala dan berpijar panas bagai matahari lima jari di atasku sampai tak sanggup aku melihatnya. Hari itu, untuk pertama kalinya aku melihat dirimu bagai dikobar amarah. Seketika hilang bayangan imaji kesan indah bertabur kilau. Kamu beranjak dan berkata bahwa kita adalah sebuah kesalahan. Kemudian pergi tanpa kata. Menginggalkanku dengan kesan bara berlumur air mata.

















