[RotBak Time! #1]
Hai semua! Hello! How are you?
Ya, saya tau saya sudah 1 bulan tidak menulis, haha. Kangen ga? Ngarep ya aku hahaha.
So, this is actually a post that I wanted to post in February, because, yeah you know. It's valentine's month, and for my first 'Rotbak Time' theme is about love... so yeah.
But, February had been a busy month for me, veryvery busy because I had to adapt with my college schedule (and It's actually very tight). So, now I already have adapted with my schedule (Finally!) and I can write this for you all!
Lalu, kenapa roti bakar?
Hmmm... karena kan biasanya content2 gitu make coffee, tea, or smth. Tapi pingin beda aja jadi roti bakar. Hehehe. Lagian I love Rotbak so much!
Okay, here I go, enjoy🧡.
To love and to be loved.
Yap. Temaku hari ini adalah kalimat diatas ini! Yang bisa diartikan 'Mencintai dan Dicintai'. Yap, ofc kalau kita bicara tentang cinta, ga cuma ngomongin cinta kita ke the special one. Tapi bisa juga ke orangtua, and many more.
But this one specifically I wrote for my special one.
Aku wanita berumur 20 tahun. Aku puber pada umur 13 tahun. So, I have been already felt 'Love to another gender' for 7 years. And I can assure you, saya baru menemukan 'The special one' saat saya 19 tahun beranjak 20 tahun.
So, to love. Mencintai. Kata-kata abstrak yang akan ku deskripsikan dengan kata, so here it is:
Rasanya seperti berada di kebun penuh bunga yang indah, tapi di sisi lain, bunganya menusukmu.
Yap. It's hell.
Kupikir, pengalaman mencintai pertamaku datang ketika saya berumur 14 tahun. And I felt in love with a guy that loved my bestfriend. Yap, irony. He never loved me back. But Idc, waktu itu. Hmmm. How it felt? I acted like a fool.
Kalo bahasa sekarang mungkin namanya bucin. Yap. Saya bucin. I had loved this guy almost for 3,5 years. Ya, kata orang-orang kan cinta pertama susah dilupakan...
Saat itu aku benarbenar tidak percaya diri dengan diriku sendiri, meski ingin dicintai balik, tetapi ku tau diri karena teman baik saya jauh lebih menawan dari saya. And I hate it. Really. Membanding-bandingkan dirimu sendiri dengan orang lain, ternyata lebih sakit daripada dibanding-bandingkan oleh orang lain.
It hurts your confidence. And it did, hurt mine.
Tapi saya ga bisa menyalahkan dirinya sih, soalnya kalau kalian melihat saya saat SMP, mungkin kalian juga akan bilang kalau puberty hits me so hard, sangat beda aku saat itu dan saat sekarang. Ya, karena pas SMP saya benar2 tidak percaya diri dengan diri saya sendiri, jadi menurut saya buat apa saya berdandan dan merawat diri?
So, I chose to go far away. I enrolled to a school that far away from my hometown. Disana, saya berusaha untuk memupuk rasa percaya diri saya kembali untuknya. Iya, di SMA, saya tidak pernah merasakan jatuh cinta ke cowok manapun. But now I know, memupuk rasa percaya diri demi orang lain.... itu tidak benar.
And he had never been noticed me by the way, sampai sekarang. Ya... Saya juga kesulitan untuk mengungkapkan apa yang saya rasa, dari dulu. Jadi wajar dia tidak berbalik mencintai saya.
Anyway, timelinenya maju sampe saya sudah masuk kuliah, umur saya 17 tahun, masih mencintai orang yang sama, meski have a crush banyak. Ada cowok-cowok teman SMA yang mendekati saya di masa awal-awal kuliah, tapi setelah dipikirpikir, bagi saya itu bukan jatuh cinta. Dan mungkin inipun hasil dari saya ingin membuktikan diri kalau diri saya sudah percaya diri demi seseorang. So I will move to the second one.
Okay.. akan sedikit sakit untuk menceritakan hal ini.
My second love led me to an unhealthy relationship. Ga sampe toxic sih, cuma ga sehat aja. Hmmm. Nangis mulu tiap minggu, ada aja yang ditangisin, dan merasa tersakiti tiap bulannya? Yap, kepercayaan diriku yang sudah ku pupuk selama beberapa tahun belakangan kembali hancur. He made me think that I was the wrong one, never made things right.
Dia mengakui malu kalau ketahuan dia suka dengan saya, dan jalan sama saya. Dan paling parah yang kuingat adalah, he didn't even care, ketika saya ada di ambang kematian. I loved him, dan saya kembali menjadi bucin. Untuk 2,5 tahun, rasanya seperti dipenjara oleh perasaan sendiri. Terjebak dalam imaji yang dibangun, tanpa mempedulikan luka.
Sebenarnya ga ada yang salah disini, ku juga ga mau terlalu menyalahkan dirinya dan saya pun sekarang tidak ingin terlalu menyalahkan diriku. Kita memang tidak cocok, itu saja.
Yaa kalau cerita lengkapnya, maybe I need another RotBak time. So.. stay tune.
Tapi hasil dari 'to love'-ku yang kedua adalah kembali ke nol. Minus, malah. Aku hancur sehancur-hancurnya. Aku kembali selalu menyalahkan diriku, tidak peduli sebenarnya siapa yang salah. Kepercayaan diriku kembali tandas, tak bersisa.
And, he came. The one who loves me for who I am.
Ya, saya tau, It only has been 0,5 years. How can I sure that he loves me, dan tidak seperti 2 pengalaman sebelumnya hanya saya yang mencinta?
He proves it. Itu bedanya.
How can I sure he is the one? Dia berusaha membuatku mencintai diriku sendiri terlebih dahulu, dan tidak memaksa diriku untuk mencintai dirinya. Karena baginya, kepercayaan diri itu harus dipupuk untuk dirimu sendiri tidak boleh untuk orang lain.
He loves me, ga peduli sehancur apa diriku dan siapa aku di masa lalu. Bersama dirinya, saya tau bagaimana 'to be loved' feels like.
Ketika ada masalah, kamu tidak takut. Kamu yakin ada seseorang yang bisa kamu percayai, kamu andalkan untuk menghadapi masalah ini bersama. Bukannya menghindar dari masalah, tetapi bersama-sama menyelesaikannya. Perlahan tapi pasti, kepercayaan diri saya kembali. Kali ini tidak demi siapapun, tapi demi diriku sendiri. Saya tidak pernah merasa berkorban terlalu banyak, dirinya pun juga seperti itu. That's how to be loved and to love feels like. Berjalan beriringan.
Dan dia juga percaya dengan diriku. Dia percaya dengan diriku, tapi tetap peduli dengan diriku. Ada suatu kejadian dimana dia bilang, 'Kalau memang sudah memiliki, kenapa harus takut untuk ditinggalkan? Ya toh dia juga merasa dimiliki dan memiliki'. Ya.. kejadian itu dimana saya sedang curhat ke teman saya yang cowok, dan bertanya apakah dia cemburu atau tidak. He said no, and that's the reason. He gives me freedom, and trust me completely.
I really really love him so much, and I'm ready to wait another couple years for him. Tolong doakan semuanya lancar ya, dan mungkin 5 tahun lagi aku akan mengabarkan kabar baik. Who knows? Aamiin.
Untuk experienceku dengan dia, mungkin akan ku ceritakan entaran ya hehe. Mungkin kalau beneran ada kabar baik.
For you, the one who loves me for who I am, and who I meant to be,
Ily❤











