Halo Desember, sayang sekali kamu segera berlalu. Terima kasih untuk hujan yang datang begitu sering, dan di perjalan dalam berikhtiar kemarin, hujan jadi teman perjalanan. Engga deras memang tapi nampak enggan berhenti sebelum saya sampai tujuan.
Perjalanan kemarin meski berbekal google maps tetep aja sempet nyasar bahkan dari perjalanan awal di BSD, nyasar ke sirkuit eh tapi ketemu jalan yang indah banget, kiri kanan sawah menghijau dan perjalanan yang Allah SWT jauhkan dari kemacetan. Kita memang harus terbiasa mungkin ya, dengan beragam rahasia dan kejutan yang Allah SWT hadirkan.
Karena hujan mulai agak deras saya berhenti sejenak, pakai jas hujan beberapa saat. Ternyata rahasianya bukan soal hujan yang akan semakin deras tapi saat saya berpapasan dengan mobil yang melaju melewati jalan yang berlubang, menerbangkan air yang cukup banyak ke arah saya, byar! Sementara motor didepan saya kuyup kebasahan, dan saya terkekeh kegirangan "alhamdulillah gue pake jas hujan, jadi aman" sementara motor tadi juga enggan mengumpat, memilih terus melaju sambil menahan kesal dalam hati mungkin.
Kita pasti sering menemukan hal hal diluar rencana, terpaksa dan terbiasa memodifikasi cara untuk mencapai tujuan. Seperti di perjalanan pulang kemarin, saya agak bandel melawan saran dari google maps dan menemukan jalan lain untuk pulang, sembari bergumam "ohh ini tembus kesini jalannya, wah tapi tetep lupa kalo nanti lewat sini lagi"
Tentang rencana, tugas kita sejatinya adalah berencana saja, berikhtiar dan berdo'a setelah berjuang se-maksimalnya dalam hal apapun. Meyakini bahwa Allah SWT pasti menyiapkan yang terbaik untuk hamba-NYA. Seperti nabi Yusuf, dibenci saudaranya meski lahir dan menjadi kesayangan sang ayah. Yusuf lalu menjadi budak, dalam rahasia Allah SWT untuk sebuah proses perjalanan panjang masuk ke istana, ia malah dituduh menggoda istri seorang tokoh di Mesir dan masuk penjara sebelum akhirnya kita sama sama tau akan tiba saatnya giliran Yusuf yang menjadi tokoh besar disana. Cobaan kita mungkin tidak seberat nabi Yusuf, tapi bukankah hidup itu begitu? Ia hadir dengan beragam fragmen dan cerita berbeda, agar kita tumbuh dewasa dalam nalar dan sikap sebelum bertemu dengan cobaan dan ujian berikutnya.
Atau mari belajar dari nabi Ismail, betul memang ia anak seorang nabi dan lahir dari ibu yang berakhlaq mulia. Ibu yang berlari lari dari shafa ke marwah kala Ismail kecil menangis meraung raung menahan lapar dan kehausan, konon dalam sirah nabawiyah, tangisan Ismail kala itu seperti layaknya orang yang sedang sakaratul maut. Hingga kuasa Allah SWT hadir, Jibril datang mengepakkan sayapnya hingga memancarlah sumber kehidupan baru disana, air yang dengannya lembah Makkah menjadi seperti saat ini.
Lalu apa istimewanya Ismail kecil?
Berapa lama nabi Ibrahim meninggalkan nabi Ismail dan ibunya? Katanya sekitar 8 tahun atau mungkin lebih. Nabi Ibrahim lalu datang, bermimpi dan meminta izin pada anaknya untuk disembelih dan singkat cerita Ismail kecil meng-iyakan. Sholeh nian anak kecil itu.
Yang ada di pikiran saya setiap mendengar ulang kisah ini adalah, Ibu seperti apa yang mendidik Ismail hingga level ikhlasnya bisa setinggi itu, level taatnya se-luarbiasa itu.
Bukankah Ibu ini yang beberapa kali berteriak pada Nabi Ibrahim "ya Ibrahim kenapa engkau tinggalkan kami?"
Sementara nabi Ibrahim tetap berlalu tanpa menoleh barang sejenak kala itu.
Hingga Ibu itu berteriak lagi "ya Ibrahim, apakah ini perintah Allah"
Lalu Ibrahim berbalik, membagi keyakinan lewat tatap mata dan keteguhan wajahnya "iya, ini perintah Allah"
"kalau begitu pergilah! Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami!"
Kisah selanjutnya kita tau, nabi Ibrahim pergi dan kembali bertahun tahun kemudian. Sementara Siti Hajar berjuang menjadi madrasah pertama untuk Ismail kecil.
Kita engga bisa nentuin lahir dari rahim siapa, hadir dalam keluarga seperti apa dan memilih cobaan yang mudah mudah saja. Tapi kita bisa memilih untuk menjemput masa depan dan menciptakan atau paling tidak berjuang untuknya. Untuk hari hari kedepan yang mungkin tak lepas dari beragam cobaan, biar kita berjuang dan Allah SWT yang menentukannya apakah kita layak atau tidak menjadi hamba yang menghuni Syurga, lalu disana semoga kita berkumpul kembali dengan mereka yang sama sama berjuang, dalam bermacam jalan menuju perbaikan dan kebaikan.
Lalu seperti ustadz Salim a Fillah bilang:
Saksikanlah bahwa aku seorang Muslim.
Dan apakah Allah SWT akan mendiamkan kita begitu saja ketika kita mengaku menjadi seorang muslim?
Semoga dalam cobaan yang akan hadir di depan, Allah SWT berikan kekuatan dan sebaik baiknya iman untuk menghadapinya. Semoga dalam segala bentuk bahagia didepan, Allah SWT tak lenakan kita dan selalu tumbuh syukur hanya pada-NYA. Semoga Allah SWT ampuni khilaf dan salah salah kita, dan semoga Allah SWT mudahkan dalam ikhtiar menemukan kembaran rasa. Rasa tunduk patuh pada ketentuan baik dan buruknya, rasa takut kalau kalau ibadah tak diterima, rasa pasrah dan tawakal setelah berikhtiar dan berjuang, rasa syukur atas segala nikmat dan rahasia yang dihadirkan.
Kalaulah nanti rahasia itu bukan seperti yang kita harapkan, biarlah dia jadi penguat diri, penjaga iman, penyejuk prasangka tentang takdir yang sudah digariskan.
Lalu kalau ia sesuai inginnya kita, semoga Allah SWT ridhoi, dan diberikan keberkahan tak terhingga. Sementara kita terus berusaha memperbaiki iman untuk kini dan nanti.
Penghujung Desember 2019_