Live Drawing 🕷️🤍
I am live on Twitch rn to work on more PT doodles! I would love to see you come say hi! :3 🤍
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Canada
seen from Croatia
seen from China
seen from France
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from Indonesia
seen from Belgium
seen from Thailand

seen from Yemen
seen from China
seen from Israel
seen from Germany

seen from Malaysia
Live Drawing 🕷️🤍
I am live on Twitch rn to work on more PT doodles! I would love to see you come say hi! :3 🤍
Momok Berumah Tangga
Alhamdulillah hampir tiga bulan menjalani peran baru sebagai seorang isteri. Tentu saja, banyak sekali episode baru setiap harinya yang membuat hari-hariku semakin berwarna. Sejak awal menikah, kami sudah komitmen untuk tinggal sendiri, berpisah dari orang tua. Wah, ini menjadi tantangan untukku pribadi. Bagaimana caranya bisa menjalani kehidupan berumah tangga yang sebelumnya tak pernah kubayangkan akan ada di depan mata? Meskipun sebelumnya aku sudah menyicil sedikit demi sedikit mempersiapkan diri, t-tapi banyak yang bilang, realitanya tak seindah yang dibayangkan. Jadi, harus benar-benar menguatkan mental.
Momok yang paling menakutkan buatku dalam kehidupan baru ini adalah: me-ma-sak. Ya! Dari sekian banya to-do-list seorang isteri, masak adalah hal yang amat krusial. Pasalnya, ketika sebelum menikah aku bisa dikatakan tidak ada minat memasak, baik masak lauk-pauk ataupun dunia per-baking-an. Tentu saja ada sebabnya.
Ketidak-minatanku ini bermula dari, tiap kali aku mencoba mengumpulkan niat untuk membantu mama memasak di dapur, ada saja kecerobohan yang aku lakukan. Dari mulai mengiris bawang yang ketebalan, terigu yang luber kemana-mana, minyak yang menyiprat ke tangan, tangan yang tidak sengaja tersayat, dan lain sebagainya. Sebenarnya, itu wajar dan lumrah dialami bagi orang yang jarang terjun ke dapur. Tapi, tiap aku melakukan kesalahan, aku merasa gagal. “Masa gini aja nggak bisa sih?” umpatku pada diri sendiri. Tidak bermaksud menyusahkan, mama akhirnya menyuruhku mengerjakan pekerjaan lain yang resikonya rendah, yaitu: ngulek sambal. Okelah, aku setuju. Lagi-lagi, terkadang aku juga ceroboh. Sudah menjadi kewajiban bagi mama untuk mengingatkan, agar tidak terjadi kesalahan yang sama. Tapi kadang, aku merasa teguran mama sebagai tamparan yang sakitnya sampai ke ulu hati wkwkwk. Kalau kondisi mood-ku saat itu sedang tidak baik-baik saja, maka aku akan marah dan meninggalkan begitu saja pekerjaan yang mama tugaskan. Berlari ke kamar dan menangis. Iya, aku se-baper itu! Hahaha. Kejadian itu nggak cuma sekali-dua kali, tapi berkali-kali. Akhirnya, dari pada aku nggak bisa kontrol emosi tiap dikritik mama, aku putuskan untuk meminimalisir inisiatif untuk bantu mama masak. Mending aku ngerjain pekerjaan lain aja, seperti nyapu, ngepel, nyuci atau nyetrika. Pokoknya kalau mama nggak minta bantuan, aku nggak akan sok-ngide pergi ke dapur.
Sampai akhirnya, menjelang hari H pernikahan, karena sudah tahu akan tinggal berdua aja sama suami nantinya, aku berusaha sekuat tenaga untuk mau memasak. Kebetulan, aku juga baru masuk kantor, jadi sambil belajar, aku menyiapkan bekal dengan masakanku sendiri. Tentu saja dengan catatan: aku nggak mau dibantu mama. Hehe. Mau gimana pun rasanya, ya aku nikmatin aja prosesnya. Dan ternyata, itulah cara terbaik buatku supaya nggak fobia masak. Dengan liat resep dari google, youtube, dan media lainnya alhamdulillah sedikit demi sedikit aku mulai berminat masak masakan yang mudah untuk pemula kayak aku.
Sekarang, meskipun tiap masak masih harus nontonin video tutorialnya berulang-ulang, aku sudah mulai percaya diri untuk belajar. PR-ku tentu saja masih banyak. Salah satunya, gimana caranya masak nggak lama. Karena jujur aja, sampai sekarang suami masih suka komentar karena aku kelamaan di dapur, padahal cuma goreng tempe aja. Wkwk. Part paling susah saat memasak buat aku adalah kupas kulit duo bawang. Terutama bawang merah! Jujur aja, itu yang menghambat kecepatan memasak aku. Solusinya, aku beli bamer-baput yang udah kupasan aja biar menghemat waktu. Haha. Nggak papa deh harganya lebih mahal dikit, yang penting semangat memasakku jangan sampai kendur.
Dulu, aku pikir, ngapain repot-repot masak, kan bisa beli. Tapi, kalau dihitung-hitung, masak sendiri bisa menghemat pengeluaran keluarga, aku pun bisa menjelajah lebih luas dunia baru ini. Dan tentunyaa lebih disayang suami karena rajin masak haha. Meskipun rasa masakanku masih fluktuatif, kadang keasinan, hambar, kurang ini, kurang itu, tapi ya dinikmatin aja. Apalagi suami bukan tipe picky eater, asal jangan terlalu pedas, dia lahap-lahap aja. Alhamdulillah.
Yah, inilah episode baru kehidupan berumah tangga versi aku. Banyak banget hal yang harus dipelajari dan dihadapi setiap harinya. Bismillah, kalau semuanya diniatkan lillah, insyaAllah segala capek, lelah, kesal, sedih, senang yang dialami akan bernilai ibadah. Doakan yaa semoga keluarga kami senantiasa dinaungi sakinah, mawaddah wa rahmah. Aammiin.
Bahagia itu sederhana Masak katsu udon sendiri Modal gak sampe 25rb Bisa dapet 3 mangkok #katsuudon #udon #homemade #masak (at Cipadu-larangan,tangerang) https://www.instagram.com/p/ClbFalSrAwe/?igshid=NGJjMDIxMWI=
O5551081002 Profesyonel hizmet Bursa eskort bayan. Masaj Masöz gerçek Vip partner konaklama duş alkol mutluson konuma gelen Masöz masaj esc
Cewe Kok Gabisa Masak???
Sabar. Jangan emoshi dulu. Mungkin ada yang sering dikatain begini pas ngaku kalo kita kita? lu aja kali wa gabisa masak. Sebelum menghujami yang ngatain tersebut dengan kata-kata mutiara dan tatapan mba suzanna, di tulisan ini gue ingin meluruskan persepsi gue sekaligus membentuk persepsi baru soal bisa-ato-gak-bisa-masak ini.
Pertama, kalo ada orang yang nanya “Wa, kamu bisa masak?”, otak gue mencernanya “bisa masak” itu layaknya si Ummi di rumah yang bisa masak gulai, kari daging, opor ayam, rendang, tauco udang, sayur lontong, ikan pindang, dan masakan rumahan tradisional lainnya. Dan si geblek ini tentu saja akan menjawabnya dengan “Engga. Ehe”
Padahal...
1) makanan dan masakan tuh banyak jenisnya gak cuma yg Ummi gue biasa masak di rumah doang,
2) gue bisa masak kok, walo sesimpel indomi, telur, sosis, nugget, nasi goreng itu semua kan dimasak dan butuh sekill yang memadai bukan?
3) emang suka ngelabelin diri sendiri aja sih duh. I can actually do what i say I cannot.
Buktinya selama hampir 3 minggu di Tebing, gue banyak menyibukkan diri di dapur. Kepo sama telur gulung ala korea, bikin. Kepo sama nasi campur ala bimbimbap, laksanakan. Yang agak daebak dan gak nyangka juga kemaren masak daging tumis kek bulgogi gitu, sampe jatah gue diembat sama adik ipar which means rang orang suka sama hasilnya dan mau ngehabisin.
Setelah semua ini aing jadi mikir lagi “ah lu bisa masak kok wa, kenapa selama ini ngebatasin kemampuan lu dengan bilang gak bisa?”
Ternyata ya itu, salah di persepsi awal tadi, bahwa bisa-masaknya gue adalah sehebat masakan Ummi. Kalo kesimpulan itu juga yg ada di otak si penanya ya aing auto bilang blum bisa, moonmuff. Bedain ketumbar sama merica aja blum lulus. Jahe, kunyit, lengkuas aja kaya ngeliat wajah grup idol kpop joget, sama semua. Belum soal dedaunan duh. Malu ah kambing aja keknya masih lebih pinter. Nah, ketidaktahuan, keminderan, dan kepusingan berbi ini makin membuat gue mantap untuk m e n y e r a h memasak.
Padahal...
Ada yang namanya pasta, yang bahan-bahannya gak serumit masakan si Ummi. Ada yang namanya pizza teflon, yang katanya gak perlu pake oven dan ingredients-nya gampang pake base telur dan roti tawar. Ada yang namanya snack dari kentang, dari tempe, dari tahu yang kalo diolah dengan simpel juga bisa jadi enak. Pokonya mah ada banyaaa beut resep yg kalo rajin diliat liat tuh bahan dan stepnya simpel.
Kesimpulannya, selama ini gue dibatasin oleh pikiran gue sendiri. Yang bikin gue gak berkembang di bidang masak memasak. Yang selalu minder bahkan sensian kalo ada yg ngeledek gabisa kerja di dapur, gabisa jadi calon istri yang baik. Jujur ya, kalo gue care sama seseorang, terlebih dia suami gue nanti, gausah diminta juga gue bakal seneng untuk memberi dan membuat sesuatu. Entah itu barang handmade, gegambaran, even masakan. Jadi gausah menggembar-gemborkan stigma jadi cewe harus bisa masak lah. Jadul otak lu. Suami orang banyak kok yang memberi ke istrinya berupa masakan. Ga harus selalu cewe. Skill itu teh Leonardi, skill to survive in this tough life. Arasso?
So next kalo ada yang nanya “Wa, kamu bisa masak?” akan gue jawab dengan lantang dan dengan keyakinan penuh “BISA DOOONG AHELAH tapi belum sehebat Ummi. MO DIMASAKIN APA SINI, TRANSFER DULU DUIT BELANJANYA TAPI YA.” 🙆
I'll proud myself if..
Aku selalu merasa bangga jika aku sudah selesai masak. Entah kenapa memasak setelahnya membuatku senang. Memang kadang tidak sesuai ekspektasi tapi aku selalu menyemangati mencari dimana yg salah dan diperbaiki dikemudian hari.
Sebuah pencapaian yg sangat sederhana tapi mampu membuat aku merasa bangga dan senang apalagi di approved oleh orang² yg mencicipi.
Semoga senantiasa skill memasakkku semakin meningkat dan di akui rasa oleh lidah semua orang. Aamiin.
Semoga bisa jadi host kuliner. AAMIIN
Terima kasih aku.
Mau buat cemilan yang enak dan gampang? yuk cobain indomie tahu goreng:)
kau tau?
seikat kemangi ini jauh lebih romantis buatku
dibandingkan buket mawar
kenapa?
karna kita bisa duduk berdua menghabiskan waktu
sambil melihatmu tertawa lebar
makan bersama sambil mengobrol semuanya
dan aku akan senang melihatmu kepedesan
dinner pake sambel buatanku
sungguh nikmat kan
hahaha
sungguh, buket mawar memang manis
tapi dua hari saja akan layu
aku lebih suka masakanku kau makan habis
perutmu kenyang hatiku senang selalu
ah lucunya aku ini
pasar pagi yang penuh dengan imajinasi
05/04/20
ditengah hecticnya pasar pagi
bisabisanya otak aku mikir kayak gini~
lol
@ursnp_