Cimahi, 25 April 2015 (21:00) Hai. Kamu kemarin sudah baca suratku? Belum? Baiklah tak apa. Aku juga sebenarnya tidak begitu ingin tahu jawabannya. Karena sebenarnya aku sudah bisa menduga. Lalu kenapa aku masih tetap saja bersikukuh bertanya? Bukankah sia-sia jika kita menanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah kita ketahui jawabannya? Izinkah aku mengeluh sekali ini saja. Entah kenapa aku merasa amat lelah. Aku seperti orang yang tertinggal jauh di antara ratusan pejuang marathon yang hampir mencapai garis finish. Aku seperti kehilangan sesuatu. Semangat. Dorongan. Atau semacamnya. Oh, tapi tujuanku menulis surat ini bukan agar mendapat kata-kata balasan berupa penyemangat atau sebagainya. Semangatku biasanya muncul dari dalam diri sendiri. Saya memang begitu orangnya. Aku hanya ingin berpesan sesuatu padamu. Jika kau pernah berjanji sesuatu pada siapapun orang yang kau sayangi, tepatilah. Kurasa salah satu rasa lelah ini adalah karena kelalaianku akan beberapa janji yang tidak bisa kupenuhi. Sungguh, aku ringan sekali saat mengucapkannya tapi tak pernah terpikir seberat ini memenuhinya. Dan ketika semua itu tak terlaksana, percayalah itu bisa menganggumu. Mengintaimu. Seperti hantu. Kau dan aku tahu jika tak ada manusia yang sempurna. Wajar mungkin jika ada beberapa janji yang sempat terabaikan karena keadaan yang sudah tak memungkinkan atau kondisi yang tak bisa lagi dipaksakan. Tapi selama kau masih bisa berusaha memenuhi janji tersebut, penuhilah. Jangan sampai orang yang kau sayangi pergi, hanya karena ketiadaan bukti dari sebuah janji. Pak Pos? Tema suratku malam ini terasa berat sekali ya? Mungkin kau baru tahu kebiasaanku, suka melantur jika perasaan hati sedang tidak teratur. Tapi tenang! Ini akan segera pulih secepatnya. [PESAN ANDA TELAH DIKIRIM!]