Normalnya orang kalau kebut-kebutan buat nightride itu di jalur highway sambil setel playlist mood biar semakin afdol, 'kan? Lain lagi buat inkarnasi 'Natgeo Wild' atau 'Animal Planet' versi dua sejoli.
Tiba-tiba Sadewa dan Bima lagi nge-bolang nyampe di negara Skandinavia. Kalo ditanya apa yang pertama kali si Adek Besar ributin sampai di lokasi?
"MAS DEW, MAU BANGET MIDNIGHT WHALE WATCHING!!" Rengeknya menggoyang-goyangkan pundak Sadewa sambil menunjuk deretan Dok per-kapal-an yang parkir secara rapi.
Yang tua tentunya menuruti antusias Bima, hitung-hitung survei spot pemancingan terbaik yang sekiranya bisa mengisi penuh cooler box andalan Sadewa untuk dimasak saat pulang nanti.
Kembali lagi ke topik awal. Pada puncak malam hari dengan preparasi matang, Sadewa dan Bima mulai menyusuri bentangan sagara tanpa alunan musik diterpa angin beku membuat Bima reflek nemplok di punggung Sadewa untuk menghangatkan diri bak Ikan tuna kalengan.
"Cepet dikit napa Mas Dew, menggigil banget gue jadi ga kerne entar diliat sama Orcanya—malu!" Protesnya sambil celingak-celinguk memantau permukaan air dengan binokularnya, dan tangan lainnya masih menggenggam erat jaket bulu yang Sadewa tengah kenakan.
Dasarnya abang memang usil, Ia tarik tuas akselerasi perahu Zodiac yang mereka kendarai lalu full stop membuat Bima terjengkang sedikit ke arah belakang sebelum gelak tawanya pecah.
Sadewa berdeham sebelum kembali menyetir, "Tadi tuh contoh yang ga boleh ya, Adek. Nanti jadi disrupsi ekolokasi mereka, Bima malah gajadi lihat Orca, mau?" Tegasnya secara tidak langsung memerintah Bima untuk mematuhi peraturan kegiatan pengamatan paus dan kembali duduk manis dengan tenang.
"Iya deh, ya? Ibarat nih kita lagi enak-enak tidur terus denger BREEEM BREEM NGUEEENGG beugh. . .KASUS, men," kicaunya merasa bersalah.
"Suka lupa gue saking semangatnya ehek—makasih mas Dew remindernya!" Ia masih mencari tanda-tanda kehidupan dari permukaan air.
Tidak lama setelah itu, samar-samar dari kejauhan siulan bergema membuat Sadewa mematikan mesin perahu tiba-tiba.
"Mas, serius ini kita di catcalling sama kabut?" Bima pun mendapat geplakan penuh kasih sayang dari Sadewa.
Setelah kabut berlalu-lalang, akhirnya muncul dari kedalaman bayangan hitam besar yang membuat Bima meneguk ludahnya gugup.
'Gemetar dikit ga ngaruh,' batinnya mengeratkan binokular digenggamannya seraya gulungan ombak kecil mengayun perahu.
Momen yang dinanti-nanti mereka akhirnya datang. Takjub dibuatnya ketika satu per satu keluarga besar Orca loncat ke permukaan, menghembuskan napas mereka dari lubang sembur. Ekor dan sirip perkasa nan memukau menghantam muka air dengan hebat.
"Aaaah kerne banget mereka keluarga beringin!"
"Cemara, Bima..."
"Sama aja, yang penting bukan savvit."
"Lah itu mah kita ga sih?"
Masih belum selesai dimanjakan keajaiban fenomena mother nature, dari kaca air terpantul cahaya pancawarna membuat Sadewa dan Bima menengok keatas langit.
"Eh ini mah kerjaan Gojo Satoru nih, bikin-bikin tirai cakrawala kayak gini!"
"Nguawor."
Perpaduan antara senandung dari Pods Orca yang berbahagia di seberang, juga Aurora Borealis menyinari sepertiga malam mereka.
If I leave you on a bad note
Leave you on a sad note
Guess that means I'm buying lunch that day 🎵
📍Still in Indonesia
Sagara-Nalendra Residence, Dec 12th 2024
"Yang benar saja, Mas!" Nakula membanting pintu tepat didepan wajah Sadewa, nyaris menghantam batang hidungnya yang elok nan tegas. Ia menggeram kecil sebelum kembali dibukanya pintu kayu kamar yang didominasi aneka ragam warna biru.
"But it's a good opportunity for us, Nakula."
Nakula menghela napasnya kasar sembari menyandarkan punggung yang terasa begitu kaku karena diam-diam terlalu sering menahan emosi seorang diri, sekarang Ia tengah menekan lembut tengkuknya lalu memejamkan mata sejenak untuk memproses alur pikir kembarannya yang tidak ada angin tidak ada hujan, sembrono membuat keputusan impulsif tanpa diskusi terlebih dahulu.
Sedangkan oknum yang membuat Nakula naik darah hanya mematung dengan senyuman kikuk terpatri. Menyadari kesalahannya, Ia turut memijat lembut pundak Nakula, "Iya. . . maafin Mas, ya, Dek" ucap Sadewa lembut.
"Ada apa gitu, lho, Mas? Ga biasanya Mas kayak gini." Protes Nakula lirih, padahal Sadewa sudah paham betul Nakula sangat anti dengan hal-hal yang dadakan.
"You know I just want what's best for us. For you," Sadewa menepuk-nepuk pucuk kepala Nakula, "I want a better life. . . For the both of us."
"Granted, cara Mas memang salah. Seharusnya Mas minta persetujuan Adek terlebih dulu," lanjutnya seraya memutar gaming chair Nakula untuk mengamati raut wajah manisnya yang kini sudah penuh dengan kerutan halus.
Sadewa spontan berlutut dihadapan Nakula, merogoh sakunya untuk mengeluarkan handphone. Secepat kilat Ia buka aplikasi layanan pesan antar untuk mengeranjangi berbagai macam seleksi makanan, tentunya tidak lupa dengan es krim langganan Nakula.
"Gimana kalo kita bicarain ini sekarang sambil isi perut dan kepala dingin? Mas udah pesenin kesukaan kamu, nih." Rayunya lembut, sebuah jurus jitu yang sudah diakui karena tidak pernah meleset sejak mereka masih anak sekolah.
Nakula hanya mencebik, "Kamu pikir aku ini orang apa, Mas? Nasi sudah jadi bubur—"
Alis Sadewa terangkat sebelah dengan seringaian tengil, sudah lumrah Ia menunggu Nakula selesai tantrum. Adik kembarnya itu ibarat bongkahan Es, harus ditunggu sampai meleleh.
"—tapi yaudah deh, ga baik nolak makan enak gratis. Jangan diulangin lagi ya, Mas?" rengeknya lembut.
Bingo.
I know all your secrets
You know all my deep-dish
Guess that means some things they never change
We both know what I mean
Sadewa meraih selimut tebal yang ada diatas kasur lalu Ia gulung Nakula menjadi sebuah burrito agar lebih mudah untuk dilempar ke kasur.
"Sing leres tah, Mas!" (yang bener dong Mas!)
Amukan renyah Nakula seketika membuatnya terkekeh jahil. Seharian penuh keduanya mendedikasikan waktu untuk membahas serius akan dibawa kemana arah masa depan mereka.
Bagi Sadewa mudah saja jika memang diharuskan untuk berpindah-pindah lokasi, karena Ia menganut mindset "Home is where the heart is". Sementara banyak sekali hal yang menjadi pertimbangan untuk Nakula.
"Nasib klien-klienku nanti gimana, Mas? Aku tau kamu pasti bakal bilang 'there's plenty of fish in the sea'. Tapi gimana kalau mereka butuh bantuanku lagi dan aku terlalu jauh untuk nolong mereka?"
Ini dia yang membuat Sadewa begitu sayang dengan adiknya sedalam samudera, bahkan dalam kondisi dunia yang seperti ini, Ia masih sempat memikirkan kesejahteraan hidup orang lain.
"Ya sudah, Mas saja kalau gitu yang angkat kaki—" belom sempat selesai berbicara, Nakula membungkam alat bicara Sadewa.
"Enak aja! Ga ada. Aku pokoknya harus ikut Mas, tapi izinin aku selesaikan misi-misi ini dulu ya? Biar setidaknya we could leave this a better place." tegasnya. Nakula sungkan untuk berpisah dengan Sadewa, tidak lagi-lagi Ia jauh dari setengah jiwanya.
Sadewa tidak pernah meminta banyak-banyak, mendengar kembarannya mempersetujui keputusan bersama ini saja sudah menjadi hadiah ulang tahun terbaik yang pernah Ia dapatkan.
When I look at you it's like I'm looking at me
My life, my life would be real low, zero, flying solo without you.
Yeah, you know who I'm likin'
Way before I liked them, duh
cuz you liked them first
And if somebody hurts you
I'm gonna get hurt too
That's just how we work
📍 Somewhere Outside IDN, 2026
Dan terjadi lagi.
Kalau kata Ariel Noah, "Kisah lama terulang kembali". Tapi hanya beda negara dan tahun yang sudah berganti saja.
Si kembar Sagara-Nalendra ini bagaikan magnet bagi para pemuja suatu hal yang hanya sebatas di permukaan dimanapun mereka berpijak, dan Sadewa sudah terbiasa berperan sebagai penyaring untuk menghindari orang-orang seperti ini.
"Lho? Mas, itu kartu nama potential client-ku kenapa kamu sobek-sobek gitu, sih?"
"Kamu ga butuh klien kayak gini, Nakula. I don't like the way they looked at you, or even the way they talked about you—which, are already borderline harassment, by the way."
Seketika Nakula mengatupkan bibirnya dan mengangguk-ngangguk perlahan.
"I have ears in every corner of my bar, I ought to blacklist them if they don't stop their chattering." Pergerakan tangan Sadewa tengah mengelap gelas kaca pun dihentikan dengan Nakula yang sudut-sudut bibirnya sudah tertarik sempurna menyerupai bulan sabit.
"Makasih ya, Mas Dewa. Padahal aku sekarang udah bisa handle sendiri tapi Mas selalu pasang badan duluan... Duh, jadi enak," Candanya nyaring nan gemulai bak suara Spongebob yang sedang memancing reaksi dari Squidward.
"Tapi serius, selanjutnya percayain sama aku ya, Mas? Let me do my job, biar Mas ga repot-repot terus."
Sadewa hanya mengangguk sekilas lalu lanjut menata rentetan gelas yang dipajang di rak, Ia memang memberi ruang bertumbuh untuk Nakula dan dirinya sendiri, namun Ia tidak bisa berjanji akan sepenuhnya melepas Nakula meski sudah sama-sama dewasa. Begitulah Default seorang Sadewa.
Tetapi tidak selamanya Sadewa itu kaku. Di lain kejadian, pria jangkung berkacamata gelap itu lihai meracik minuman pengunjung regular bar sembari terbahak-bahak mendengar celotehan seru antara Nakula dengannya.
Ia merasa lega akhir-akhir ini Nakula memiliki banyak teman berbincang di lingkungan baru ini sehingga raut lelahnya tergantikan dengan banyak gelak tawa, dan Nakula yang bahagia adalah sumber energi bagi Sadewa.
"Alright, talk to me." Sahut Sadewa sambil bersandar di countertop, bar sudah mulai sepi sehingga Ia bisa fokus kepada kembarannya yang mendadak lesu. Ia terkekeh lagi melihat Nakula menghamparkan setengah tubuhnya di meja dengan dramatis. Seluruh tenaganya habis dipakai untuk bersosialisasi dan menangani kasus-kasus dari klien.
Sadewa menyisir helaian rambut Nakula yang menghalangi mata azure-nya, membuat Nakula mengangkat kedua alisnya seraya memiringkan kepala ke arah samping seakan-akan bertanya "How did you know I wanna say something?" sebelum Sadewa kembali sibuk mengelap meja.
"We're wombmates, Nakula. I know you," timpalnya santai.
Nakula hanya ber-oh-ria, sebelum menangkup pipinya sendiri sambil mengayun-ayunkan kedua kaki jenjangnya.
"Respect aku sama Mas, bisa ngadepin pelanggan yang drunk talk nonstop kayak tadi. Terutama si Mbak Pirang itu," keluh Nakula
"That 'Mbak Pirang' has a name, lho, Dek." "She's chill, it's no wonder you're fond of her."
Pipi Nakula langsung memanas, "Mang Eak???? Ga sampe segitunya ya, Mas."
"I meant as an acquaintance or maybe even a friend, Adek," Jelas Sadewa karena yang muda keburu salah tingkah. Nakula mengambil buah cherry yang ada di mangkuk kecil lalu melemparnya ke arah Sadewa.
"Kata aku mending Mas buruan selesaiin, deh. Aku mau buruan bacain pesan penting dari klien, 'urgent' ceunah."
Setelah melihat notifikasi di layar handphone, Nakula buru-buru mengemas tasnya lalu berlari keluar dari bar. Sadewa hanya menggelengkan kepala, namun didalam benaknya Ia kembali merapalkan doa-doa yang sama sekali tidak pernah Ia lupakan,
"God, please watch over Nakula, the moon to my sun. I don't ever want to see him getting hurt."
Karena sejatinya, Sadewa juga tidak hidup jika tanpa Nakula.
His life indeed, would be real low, zero, flying solo—without his twin brother.
(((Intinya jangan pernah pisahkan mereka berdua udah sepaket hukumnya 🙏🏼)))