Salam 2 Periode.... 🙏❤👍👍👍 🔵🔵🔵 #jokowi #salam2periode #jokowimaruf #marufamin #instagram #henratnoimagecollection (at Jakarta, Indonesia) https://www.instagram.com/p/BwUE_jglCz3/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1rwr2qbrgtgyl

seen from United States
seen from India
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Italy
seen from Argentina

seen from Malaysia
seen from France

seen from Germany
seen from Australia
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from Philippines

seen from Malaysia

seen from Australia
seen from United States
seen from Spain
Salam 2 Periode.... 🙏❤👍👍👍 🔵🔵🔵 #jokowi #salam2periode #jokowimaruf #marufamin #instagram #henratnoimagecollection (at Jakarta, Indonesia) https://www.instagram.com/p/BwUE_jglCz3/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1rwr2qbrgtgyl
Selamat ulang tahun ke-47 untuk Bapak Bupati Pasuruan @gus_irsyad 👏👏🎉🎂🎉🎂 panjang umur, sehat dan sukses selalu dalam melaksanakan tugas sebagai pemimpin warga Kabupaten Pasuruan... Amin 🙏🙏 #salam2periode #lanjutkan (di Jakarta, Indonesia)
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Adrianus Garu menilai, saat ini banyak politikus dan elite politik yang merasa tidak nyaman dan terusik bisnisnya karena kehadiran Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ketidaknyamanan tersebut, kata Adrianus, karena perilaku menyimpang, menghalalkan segala cara, korupsi, yang biasa dilakukan oleh elite politik kini telah dikunci dan dibatasi Jokowi. Sebagai balasannya, setiap hari mereka berteriak hendak menggulingkan Jokowi. Banyak politikus yang terusik dan 'sakit jiwa' karena Presiden Jokowi. Kebiasaan bancakan pasal dan bancakan uang rakyat demi kepentingan pribadi dan kelompok, dikunci Jokowi. Hal inilah yang membuat mereka marah," ujar Andre, sapaan Adrianus, dalam keterangan tertulis, Selasa, 16 Mei 2017. Andre mengkritisi politikus Partai Gerindra Muhammad Syafi'i yang meminta masyarakat agar mendesak MPR dan DPR menggelar sidang istimewa guna mencabut mandat Presiden Jokowi. Jokowi dituding menyimpang dari sumpah jabatannya, yakni tidak lagi setia dengan Pancasila, UUD 45, melanggar peraturan perundang-undangan dan tidak lagi mengutamakan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Mereka banyak memainkan isu, mulai dari isu PKI, suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta isu tenaga kerja Tiongkok. Yang paling aneh, mengajak masyarakat untuk menumbangkan Presiden. Padahal, itu dilakukan untuk kepentingan pribadi mereka," ujar senator yang saat ini duduk di Komite IV bidang APBN, Perbankan, dan Hubungan Pusat serta Daerah. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=724158984438491&id=290945881093139 #Jokowi2019 #Salam2Periode (di Jokowi Presiden Indonesia HEBAT)
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Adrianus Garu menilai, saat ini banyak politikus dan elite politik yang merasa tidak nyaman dan terusik bisnisnya karena kehadiran Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ketidaknyamanan tersebut, kata Adrianus, karena perilaku menyimpang, menghalalkan segala cara, korupsi, yang biasa dilakukan oleh elite politik kini telah dikunci dan dibatasi Jokowi. Sebagai balasannya, setiap hari mereka berteriak hendak menggulingkan Jokowi. Banyak politikus yang terusik dan 'sakit jiwa' karena Presiden Jokowi. Kebiasaan bancakan pasal dan bancakan uang rakyat demi kepentingan pribadi dan kelompok, dikunci Jokowi. Hal inilah yang membuat mereka marah," ujar Andre, sapaan Adrianus, dalam keterangan tertulis, Selasa, 16 Mei 2017. Andre mengkritisi politikus Partai Gerindra Muhammad Syafi'i yang meminta masyarakat agar mendesak MPR dan DPR menggelar sidang istimewa guna mencabut mandat Presiden Jokowi. Jokowi dituding menyimpang dari sumpah jabatannya, yakni tidak lagi setia dengan Pancasila, UUD 45, melanggar peraturan perundang-undangan dan tidak lagi mengutamakan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Mereka banyak memainkan isu, mulai dari isu PKI, suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta isu tenaga kerja Tiongkok. Yang paling aneh, mengajak masyarakat untuk menumbangkan Presiden. Padahal, itu dilakukan untuk kepentingan pribadi mereka," ujar senator yang saat ini duduk di Komite IV bidang APBN, Perbankan, dan Hubungan Pusat serta Daerah. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=724158984438491&id=290945881093139 #Jokowi2019 #Salam2Periode (di Jokowi Presiden Indonesia HEBAT)
Syukur Presidennya Jokowi, kalau bukan, Asu dahlah (bagian ke-1) Sesudah membaca tulisan babo Erizeli Jely Bandaro tentang negeri Brunei yang menuju bangkrut, saya langsung kebayang Indonesia sebelum pilpres 2014. Sebelum pilpres, negara kita sudah salah kelola lumayan parah. Hutang luar negeri dipakai untuk membayar hutang lagi, yang sebelumnya adalah hutang konsumtif. Pesta pora dana hutang dimana-mana, korupsi bertebaran dalam jumlah yang sulit diperkirakan. Dan sumber korupsi ada di pusat kekuasaan sendiri. Pembangunan mangkrak, karena kita lebih senang disubsidi. Subsidi BBM yang 'katanya' untuk rakyat kecil, ternyata memang untuk menipu saja karena sesungguhnya yang menikmati adalah mafia migas. Kebayang kan keuntungan Petral dari hasil selisih pembelian minyak sampai 250 triliun rupiah per tahun? Antara pendapatan dan pengeluaran lebih besar pengeluaran. Kenapa? Karena tidak dibangun sumber pendapatan baru. Negeri yang sebenarnya kaya sumber daya alam bukannya menjadi tempat investasi yang menarik karena tidak adanya infrastruktur yang bisa menopang pendapatan itu sendiri. Kita tergantung dari impor, bahkan terhadap bahan pangan. Sengaja dibuat impor supaya ada 'komisi' yang bisa dibagi-bagi. Pertumbuhan ekonomi dibuat palsu supaya rakyat senang, sejatinya kita seperti bangunan besar yang hanya ditopang satu atau dua pilar saja. Bantuan langsung tunai membuat rakyat menjadi tidak kreatif, karena "menjadi miskin" lebih nyaman daripada kerja keras. Sensitif sekali dengan harga cabai sampai bensin yang naik 1000 rupiah per liter karena terbiasa disuapi sampe kerongkongan. Untunglah pemenang pilpres adalah Jokowi yang langsung merombak budaya itu menjadi sebaliknya. Infrastruktur dibangun dimana-mana - meski beberapa masih dengan hutang - tetapi setidaknya ada harapan membayar dari sumber pendapatan baru yang sedang dibangun. Kalau tidak, kita bisa terpuruk karena tidak mampu bayar hutang dimana-mana. (bersambung) www.dennysiregar.com #Salam2Periode #Jokowi2019 (di Jokowi Presiden Indonesia HEBAT)
Syukur Presidennya Jokowi, kalau bukan, Asu dahlah (bagian ke-1) Sesudah membaca tulisan babo Erizeli Jely Bandaro tentang negeri Brunei yang menuju bangkrut, saya langsung kebayang Indonesia sebelum pilpres 2014. Sebelum pilpres, negara kita sudah salah kelola lumayan parah. Hutang luar negeri dipakai untuk membayar hutang lagi, yang sebelumnya adalah hutang konsumtif. Pesta pora dana hutang dimana-mana, korupsi bertebaran dalam jumlah yang sulit diperkirakan. Dan sumber korupsi ada di pusat kekuasaan sendiri. Pembangunan mangkrak, karena kita lebih senang disubsidi. Subsidi BBM yang 'katanya' untuk rakyat kecil, ternyata memang untuk menipu saja karena sesungguhnya yang menikmati adalah mafia migas. Kebayang kan keuntungan Petral dari hasil selisih pembelian minyak sampai 250 triliun rupiah per tahun? Antara pendapatan dan pengeluaran lebih besar pengeluaran. Kenapa? Karena tidak dibangun sumber pendapatan baru. Negeri yang sebenarnya kaya sumber daya alam bukannya menjadi tempat investasi yang menarik karena tidak adanya infrastruktur yang bisa menopang pendapatan itu sendiri. Kita tergantung dari impor, bahkan terhadap bahan pangan. Sengaja dibuat impor supaya ada 'komisi' yang bisa dibagi-bagi. Pertumbuhan ekonomi dibuat palsu supaya rakyat senang, sejatinya kita seperti bangunan besar yang hanya ditopang satu atau dua pilar saja. Bantuan langsung tunai membuat rakyat menjadi tidak kreatif, karena "menjadi miskin" lebih nyaman daripada kerja keras. Sensitif sekali dengan harga cabai sampai bensin yang naik 1000 rupiah per liter karena terbiasa disuapi sampe kerongkongan. Untunglah pemenang pilpres adalah Jokowi yang langsung merombak budaya itu menjadi sebaliknya. Infrastruktur dibangun dimana-mana - meski beberapa masih dengan hutang - tetapi setidaknya ada harapan membayar dari sumber pendapatan baru yang sedang dibangun. Kalau tidak, kita bisa terpuruk karena tidak mampu bayar hutang dimana-mana. (bersambung) www.dennysiregar.com #Salam2Periode #Jokowi2019 (di Jokowi Presiden Indonesia HEBAT)
Jakarta yang sekarang sudah cantik.. lanjutkan DUA periode! Banjir musiman 5 tahun sekali wajib diwaspadai, usaha yang sudah dilakukan pemerintah DKI 2 tahun belakangan ini seperti: 1. Menormalisasi fungsi kali, 2. Memerintahkan saat hujan semua pompa harus ditunggu dan PPSU tetap berjaga di lapangan, 3. Melarang pembangunan perumahan di tepi sungai, karena akan mempersempit sungai selain itu sampah rumah juga akan mencemari dan menghambat aliran sungai. Penertiban bantaran sungai ini adalah perintah Presiden yang tertera secara gamblang di Pasal 17 ayat 1 PP No.38 Tahun 2011: “Kalau terdapat bangunan di sempadan sungai, maka secara bertahap harus ditertibkan untuk mengembalikan fungsi sempadan sungai” 4. Memaksimalkan fungsi gorong2, masih ingat kan ketika pasukan orange menemukan puluhan truk kulit kabel yang menyumbat gorong2 http://news.liputan6.com/read/2451988/ahok-bukan-pln-yang-sabotase-kabel-di-gorong-gorong lalu penemuan kano dalam gorong2 http://megapolitan.kompas.com/read/2016/04/23/18280621/Begini.Penampakan.Kano.yang.Ditemukan.di.Gorong-gorong.Jalan.Gatot.Subroto Saat ini curah hujan memang tidak mengguyur secara intensif, oleh karena itu DKI masih memiliki kesempatan untuk berbenah diri dalam penanggulangan banjir. #BaDja #SalamDuaJari https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10208623047917119&id=1337522217 #Salam2Periode #PelayanRakyat #PemimpinAdil #PejabatJujur #Salam2Jari #KerjaNyata #SaveAhok (di Dukungan Untuk Ahok-Djarot)
BANJIR YANG SE-DADA (bagian ke-2) Mereka bisa saja seperti Gubernur2 sebelumnya yang main aman dan lebih suka bergincu tebal yang penting tetap di jabatan. Tapi apa yang mereka lakukan, terbukti menyelamatkan situasi Jakarta sekarang ini - terutama pada musim hujan lebat saat ini. Kerja keras mereka - meski banyak ditentang karena dituding tidak berpihak kepada masyarakat kecil - terbukti menyelamatkan Jakarta. Lahan2 di samping sungai dikembalikan fungsinya sebagai lahan hijau dan diperindah dengan menjadikannya taman2 kota. Kalau anda mau sedikit jujur pada diri sendiri saja - anda akan memberikan secangkir kopi pada mereka berdua. Kalau mau jujur loh. Dan yang paling bahagia pasti reporter2 media, karena mereka sekarang sudah tidak lagi dipaksa melaporkan situasi banjir yang sepaha dan sedada itu. Mungkin kalau pun mereka mau melaporkan, bahasanya dah beda.. "Banjir tinggal sejempol kaki si udin saja.." Jempol si udin memang sebesar pisang raja. Seharusnya disaat hujan besar seperti ini, kita tidak lupa dengan kata yang sangat fenomenal: Nikmat mana yang kamu dustakan? Seruput, teman? (tamat) www.dennysiregar.com #Salam2Periode #PelayanRakyat #Salam2Jari #KerjaNyata (di Jokowi-Ahok Untuk Indonesia)