Mai Shiranui (Fatal Fury dan The King of Fighters)
Perempuan masih digambarkan seksi dengan tubuh ‘ideal’ dan berpakaian minim. Cenderung digambarkan sebagai fighter. dalam hal ini, feminin dan maskulin ditunjukkan dalam waktu yang bersamaan.
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from France
seen from Germany
seen from Mexico
seen from China

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Australia

seen from United States

seen from Malaysia
seen from China

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
Mai Shiranui (Fatal Fury dan The King of Fighters)
Perempuan masih digambarkan seksi dengan tubuh ‘ideal’ dan berpakaian minim. Cenderung digambarkan sebagai fighter. dalam hal ini, feminin dan maskulin ditunjukkan dalam waktu yang bersamaan.
Budaya Remix Dalam Industri Musik
Budaya remix memang sebuah hal yang lumrah dalam industri musik, terutama dalam genre Electronic Dance Music atau yang biasa dikenal dengan EDM. Sebenarnya, tidak hanya musisi atau seniman yang dapat melakukan budaya remix ini, melainkan budaya ini telah meluas ke seluruh kalangan konsumen dan memungkinkan semua masyarakat menjadi prosumer.
Flume adalah DJ asal Australia yang terkenal dengan garapan lagu electronicnya yang memiliki vibes yang berbeda dengan DJ lainnya, juga tidak jarang grup musik ini melakukan remix terhadap lagu-lagu musisi lainnya. Salah satu lagu yang terkenal adalah saat Flume melakukan remix terhadap lagu Disclosure yang berjudul You and Me. Lagu garapan DJ duo asal Inggris ini adalah salah satu best hits mereka yang seringkali dimainkan di setiap penampilannya.
Saat Flume melakukan remix terhadap lagu Disclosure, tentu saja hal ini menjadi sebuah gebrakan baru dalam industri musik. Ibaratnya, kedua DJ ternama saling berintegrasi dalam sebuah karya seni. Tidak heran, lagu remix ini langsung menjadi favorit banyak fans, bahkan banyak fans yang lebih menyukai garapan remix ini dibandingkan lagu aslinya karya Disclosure. Saya pribadi yang lebih memilih versi aslinya pun tetap menganggap versi remix dari Flume ini memang begitu enak didengar, bahkan memiliki vibes yang lebih relaxing seperti ciri khas Flume pada umumnya.
Bagaimana dengan isu copyright? Apakah lagu remixing ini legal? Ya, tentu saja lagu ini legal karena teah memiliki izin dari musisi yang bersangkutan, yaitu Disclosure sendiri. Namun, bukan tidak mungkin bahwa royalti yang didapatkan Flume bisa jadi lebih besar ketimbang yang didapatkan Disclosure, berhubung lagu ini mendapatkan lebih banyak views dan lebih disukai kebanyakan konsumen.
Jika sudah begini, apakah budaya remix ini sebenarnya meguntungkan bagi kreator aslinya? Atau, justru malah merugikan? Hanya konsumen dan teknologi lah yang dapat menjawab semua itu.
Adelia Dinda Sani / 1506727734
Bagaimana pendapat anda mengenai fakta kebijakan baru President Trump yang mengizinkan perusahaan digital untuk menjual data Anda?
(Sumber: Technology Review)
Syahrini artis korban cyber-bullying
bayak kasus cyber bullying yang terjadi diantara kita semua dan di internnet salah satu contoh nya adalah korbann cyber bullying artis Indonesia adalah Syahrini
postingan syahrini ini menjadi contoh nyata dari sebauh cyberbullying telihat dari komen-komen yang dipampang di instagram syahrini seperti salah satu nya adalah:
“ini tante syahrini? kirain ekstrak kulit pisang”
sindiran tersebut bagi syahrini atau siapapun yang menerima nya dapat menjadi suatu cyber bullying karena orang tersebut bisa tidak terima dengan sindiran halus tapi menusuk tersebut. itu adalah salah satu contoh besar dari sebuah cyberbullying
Fans accused Normani of being disrespectful to former bandmate Camila Cabello during a Facebook Live stream interview last year (16).
HATI-HATI CYBER-BULLYING
Beberapa hari yang lalu, salah satu personel dari Fifth Harmony, Normani Kordei mengucapkan sesuatu pada saat wawancara. Namun netizen pada saat itu menilai bahwa apa yang dikatakan Kordei out of context atau tidak seharusnya ia katakan.
Pada akhirnya ia ber-statment bahwa:
“I shouldn’t want to change the colour of my skin or texture of my hair or the fact that I’m a woman. I felt really alone. And just like everybody hated me. We all want to be loved. We all want to feel accepted, but when that doesn’t happen, then it just breaks you."
Hal ini membuktikan bahwa di internet, bahaya bullying justru semakin besar. Hal ini dikarenakan di dalam internet, kita bebas menulis apa saja sesuka kita. Terlebih lagi, kita bisa merahasiakan identitas kita sendiri atau yang bisa disebut dengan anonymous. Oleh karena itu, kita harus lebih berhati-hati jika menyampaikan sesuatu di internet.
Jangan takut!
Seperti yang kita ketahui, saat ini media online sudah menjadi aspek penting bagi kebanyakan orang dalam melakukan berbagai macam aktivitas. Sering kita temui bahwa perempuan menjadi bahan gunjingan di dunia maya. Terkadang komen-komen yang tertera (yang ditujukan untuk perempuan) suka mengandung ancaman-ancaman dan sexual harrasment. Akibat dari komen-komen tersebut, tidak sedikit perempuan dalam menyampaikan opini melalui media online untuk berpikir dua kali.
Kita sebagai perempuan tidak perlu merasa takut atau insecure. Kita bisa mencontoh respon dari seorang perempuan yang terdapat dalam video di bawah ini jika kalian mendapatkan komen-komen yang tidak diinginkan.
Selamat mencoba!
Sumber:
https://youtu.be/CbbbF5pACsk
Budaya partisipasi online telah membuka ruang gelap dari internet melalui perilaku-perilaku pelecehan. Ada banyak sekali komentar-komentar buruk yang beredar di media sosial. Rasisme, komentar homophobic, bullying, dan tentunya komentar yang misoginis banyak terjadi di internet.
Mari melihat komentar-komentar misoginis. Screenshots di atas merupakan komentar yang muncul dari postingan politik yang dibuat aktivis Laura Bates. 'Surely you should go back to the kitchen' atau 'Has she got knockers' merupakan respon-respon yang ia dapatkan. Komentar-komentar ini sama sekali mengacuhkan konten yang ditulisnya.
Ini hanya sedikit contoh komentar misoginis di media sosial. Komentar bernada serupa sangat sering muncul hingga dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Komentar seperti ini juga menunjukkan bahwa ketika perempuan menuliskan pemikirannya di internet, mereka tidak dipandang serius. Hal yang juga menyedihkan adalah ketika perempuan melaporkan bahwa mereka telah dilecehkan, komentar-komentar yang didapat adalah komentar yang menyepelekan seperti 'Get on with it', 'It's not that serious', 'You're exaggerating'. Pelecehan-pelecehan ini membuat perempuan merasa tidak aman serta menekan kepercayaan diri mereka.
sumber gambar
womenundersiegeproject.org
cc: hufftingtonpost
Olimpiade 2016 memiliki cukup banyak kontroversi, yaitu terdapatnya seksisme terhadap atlet perempuan.
Bukan membahas kemenangan para atlet ini, yang difokuskan malah status pernikahan, perbandingan dengan atlet laki-laki, berjasanya suaminya yang juga atlet lain atau suaminya merupakan pelatihnya, pakaian yang dikenakan, bahkan ada yang membahas kutek yang digunakan?!
Perbedaan kata terhadap performa ataupun prestasi antara atlet laki-laki dan perempuan juga sangat berbeda. Olimpiade 2016 merupakan salah satu bukti nyata sexism baik melalui media online ataupun offline.
- Yasmine Raudya Maghfira (1506720665)
Source:
http://www.cambridge.org/about-us/news/aest/
http://www.huffingtonpost.co.uk/entry/rio-olympics-sexism-women-media-2016_uk_57b6e6e7e4b042aee74b3c53
https://www.theguardian.com/world/2011/nov/05/women-bloggers-hateful-trolling
http://mobile.abc.net.au/news/2011-11-11/evans-men-call-me-things-and-its-not-romantic-twitt/3659712?pfmredir=sm