Harus Percaya Siapa?
Ini opini saya tentang apa yang menimpa kampus saya, keluarga besar saya (Keluarga Mahasiswa UII), dan saya sendiri..
Media sedang marak-maraknya memberitakan kampus saya, Universitas Islam Indonesia.. Tentang kematian 3 saudara saya saat diksar, tentang mundurnya Rektor beserta jajarannya (Rektor UII dan Wakil Rektor 3 UII), dan yang paling baru dan hangat saat ini didiskusikan.. Student Government (SG) dimana mahasiswa mengurus sendiri urusan dan aturan-aturan yang berlaku di Mahasiswa itu sendiri tanpa adanya campur tangan dari Institusi Kampus/Rektorat.. 3 pokok utama ini, saling berkaitan, saling menguatkan dan juga saling menjatuhkan dan juga ketiganya membuat duka mendalam. Sedih dan duka atas meninggalnya rekan-rekan kami, atas mundurnya Rektor kami yang kami nilai hanya menjadi korban yang mengorbankan diri, dan juga duka atas SG yang di agung-agungkan mahasiswa namun nyatanya (seperti yang kebanyakan orang bilang) Tidak ada kinerjanya.. Sekali lagi ini opini Saya sendiri, sebagai mahasiswa biasa bukan seorang aktivis bukan juga orang yang amat mengerti organisasi, tapi dari sisi pandang saya, saya amat bingung atas berita yang menimpa kami, Saya harus percaya siapa?
Disaat rekan-rekan kami meninggal karena diksar Mapala Unisi, media ramai memberitakan terjadi kekerasan disana dan disini saat kegiatan berlangsung. Itu media. Kemudian netizen ramai memberitakan tentang kekerasan itu sendiri, tentang tersangka yang tidak mau mengurus hal ini, tentang UII yang tidak becus, bahkan sampai memojokkan Rektor mungkin? Oke itu netizen. Kemudian ada kami, korban atas berita ini, kami keluarga mahasiswa UII, kami berpendapat lain.. Kami mengatakan ini murni kecelakaan, kesalahan prosedur, karena kami (Mahasiswa UII) tahu betul suatu kegiatan ada tujuan, maksud, prosedur dan SOP yang dijalankan. Disaat poin-poin tadi ada yang tidak dijalankan dengan semestinya, kegiatan tersebut sudah pasti tidak lancar (menimbulkan kerugian). Dan ketika Mapala Unisi bungkam seribu bahasa, kami berpendapat memang seharusnya seperti itu, bukan mereka bungkam tapi mereka memang harus berbicara kepada orang yang dipercaya agar berita yang muncul juga bukan berita simpang siur/kabar burung. Istilahnya Humas UII sebagai pengacara mereka. Dan lagi-lagi netizen dan media mengganggap kami melindungi Mapala Unisi, menutup-nutupi kebenaran, sehinggal muncul kembali berita atas topik ini, Innalilahi Saya saat itu cuma diam, memperhatikan berita.. Saya tidak menghujat, saya tidak memojokkan dan mengiyakan media dan netizen.. Saya juga tidak melindungi Mapala Unisi ataupun menutup-nutupi kebenaran. Tapi murni, karena saya tidak tahu persis akan masalah ini, saya hanya berpendapat seperti kebanyakan Mahasiswa UII lainnya. Tapi saya memilih diam, karena yang saya yakini belum tentu juga benar. Daripada saya memperkeruh suasana dan memprovokasi, saya lebih baik diam dan mengajak sanak saudara berdoa untuk almarhum dan untuk almamater tercinta. Itu lebih baik bukan?
Kemudian ketika Pak Rektor mengatakan ingin mengundurkan diri dari jabatannya, media dengan sigap memberitakan. Netizen pun tak mau kalah.. Bahkan ada yang memberi applause akan tindak lanjut Pak Rektor, ada yang menyudutkan, dan lain sebagainya.. Lagi-lagi kami Keluarga Mahasiswa UII berpendapat lain. Menurut kebanyakan orang langkah yang diambil Pak Rektor adalah langkah yang amat baik dan benar, tapi bagi kami kenapa Beliau yang menjadi korban? Padahal beliau yang paling sigap atas bencana ini, bukannya kalian semua lihat itu hei media dan netizen? Kami tidak terima sungguh ketika berita ini mulai terangkat menjadi berita hangat, kenapa harus Rektor kami? Dan kemudian ada yang memprovokasi “Kalian jangan percaya dengan pengalihan isu Rektor turun, 3 nyawa belum ada kejelasan akan kematiannya!!”.. Entah saya harus percaya siapa, lagi- lagi saya berkata demikian.. Ada pula yang berkata “Rektor turun gak didukung? Berarti kalian ngedukung kekerasan di UII? Malang sekali”… Saya lagi-lagi diam, tak tau harus percaya siapa. Saya waktu itu pilu, saya hanya percaya harusnya bukan Beliau yang mengorbankan diri, karena beliau yang membantu tapi beliau juga yang menjadi korban.. Saya hanya tak terima hal itu, kami semua tak terima hal itu
Kemudian muncul isu tentang Student Government, dimana harusnya ketua DPM UII lah yang paling bertanggung jawab disini, bukan Rektorat. Banyak yang membela, banyak juga yang menghujat saudaranya sendiri yang menjabat sebagai tetinggi SG ini. Banyak yang bertanya kinerjanya, apa yang harus dilakukan, banyak pula yang menghujat “Pak DPM U otaknya sudah kram ya pak? Hilang begitu aja”. Saya justru pilu, karena justru dari pihak kami sendiri yang menjustifikasi, bukan dari pihak netizen. Saya amat yakin jika pak DPM U bukan berdiam diri, saya yakin beliau bukan orang yang gampang melarikan diri. Komentar-komentar justifikasi kadang membuat saya geram, tapi sekaligus bertanya-tanya, “apa iya petinggi kami begitu?”. Disini saya juga merasa, bahwa kami tidak se solidaritas itu. Kami meninggi sama-sama saat mendukung Pak Rektor agar tetap menjabat, tapi kami juga menghujat sama-sama saat SG dipertanyakan kinerjanya seperti apa. Bukankah harusnya Mahasiswa mendukung dan menyemangati Pak DPM U seperti mendukung Pak Rektor? Saya juga merasa kinerja DPM U seperti apa sih dan hilang begitu. Tapi saya tidak berani menjustifikasi. Lagi-lagi saya tidak tau harus percaya siapa, entah orang yang menjustifikasi atau orang yang menyemangati dan membela…
Saya banyak mendapat hikmah dari hal ini, bahwasanya sangat mudah mengkritik sesuatu, sangat mudah sekali melebih-lebihkan sesuatu padahal kenyataannya bukanlah seperti itu. Innalillahiwainnailaihi roji'un Bersikap bijaklah dalam menanggapi berita, jangan hanya mengambil dari satu sudut pandang, buka seluas-luasnya pikiran dan pandangan, jangan sampai suatu kaum runtuh hanya karena berita tidak benar yang kalian sampaikan.. Semoga UII kembali damai, fakta cepat terungkap, tersangka segera didapat, almarhum khusnul khotimah dan keluarga diberi ketabahan dan kesabaran yang amat banyak, semoga SG dapat terlihat titik terang kinerjanya seperti apa. Sekali lagi ini hanyalah opini saya pribadi atas apa yang sudah menimpa almamater kami, jangan diambil hati, jangan langsung dibenarkan, ingatlah selalu bijak dalam menerima berita Semoga banyak hikmah yang dapat kita ambil dari bencana yang kita alami ini, aamiinn Semoga Allah Meridhoi UII, Aamiinn Hidup Mahasiswa!!! Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar!!
Saya Farahdela Rizqia Putri Mahasiswa biasa, bukan aktivis ataupun orang yang mengerti organisasi Yogyakarta, 29 Januari 2017









