Tahun ke-16
Pagi di tahun ke-16. Awalnya, hanya biasa saja. Toh memang seharusnya, pada hakikatnya, dan sebenarnya momen pengulangan tahun selayaknya dihiasi dengan introspeksi diri dan pendekatan kepada Tuhan yang lebih dari biasanya, mungkin terlihat tabu, tapi memang benar adanya seperti itu.
Layaknya remaja 16 tahun yang ingin selalu diperhatikan teman sepermainannya, momen pengulangan tahun pada tanggal kelahiran atau singkatnya ‘ulangtahun’ yang pada umumnya dihiasi dengan penuh sukacita dan tepukkan selamat, tentunya momen yang ditunggu-tunggu. Tidak ingin dicap munafik, termasuk aku tentunya. And this is how the story went..
25 September 2012, di pagi hari aku membuka mata, tentunya aku orang yang memang selalu mengingat ulang tahun sendiri, mungkin ingin diselamati, mungkin ingin diperhatikan, atau sekadar ingin disenyumi, mungkin. Ya, pagi, dingin, sepi. Orang-orang terdekat biasanya mengirimi ucapan ulangtahun via sms dan lebih awal, tidak terpaku orang dekat, mungkin sang pengguna paket internet lebih leluasa mengirimkan ucapannya lewat dunia maya, maklum pulsa habis, ya semacam itu. Semacam curhat juga mungkin. Hem. Ya kembali dari penjelasan bertele-tele, singkat cerita, seperti pada ulangtahun-ulangtahun sebelumnya, ucapan datang dari sms, twit, juga dari post via facebook. Ya, lega, masih ada yang ingat. Ya ingat, ingat oleh facebook’s reminder.
Ujian tengah semester! Ujian tengah berjalan saat aku berulang tahun. Aku, datang, ke, sekolah. Sampai disekolah beberapa teman memberi ucapan selamat, ya beberapa. Ah.. Mungkin aku terlalu haus perhatian, ekspektasi remaja 16 tahun ini mungkin terlalu berlebihan. Harapan diarak keliling kampung untuk diselamati dan dimegah-megahi, kasarnya seperti itu. Ah sudahlah. Basi.
Ujian tengah semester selesai.
Sebelas IPA Satu. Ya, aku bagian dari kelas itu. Kompak, ya mungkin kata tersebut bisa mewakili untuk deskripsi yang lebih. Di setiap anggotanya yang ber-ulangtahun, pasti selalu ada momen istimewa. Benar-benar istimewa.
Si haus perhatian ini terus kalut dengan prasangkanya yang bermacam-macam. Tak perlu dijelaskan, toh anda mungkin bisa menebaknya, satu anggotanya yang ber-ulangtahun, satu anak bebek berwarna biru ditinggal induknya. Hampir genap seminggu. Tidak ada apa-apa. Toh, aku pun sudah lupa cerita lama itu. Ya sudah ikhlas. Ikhlas. Ikhlas. Kata ikhlas mungkin tidak akan diucapkan seseorang yang memang ikhlas. Hmm. Aku memutar otak untuk berpikiran baik, ber-prasangka baik. Sekali lagi pasti anda tahu apa yang seharusnya aku lakukan dalam konteks ber-prasangka baik.
Hari Senin, 30 September 2012. Hari yang baru setelah perjuangan dengan keluh kesah berusaha membuat bulatan hitam sebanyak 270 buah. Beban tentang ‘ulangtahun’ itu berangsur hilang. Memang hilang, karena tidak ada anggapan maupun harapan yang tersisa untuk tercipta adanya momen spesial ulangtahun pada biasanya. Benar-benar hilang. Hilang? Ah tapi berbohong dosa rasanya.
Teman sekelasku mengajakku untuk membeli panganan di depan minimarket, sebut saja dia Ashyel. Tidak ada prasangka apapun, baik curiga apalagi buruk sangka. Ya terprogram otakku, ‘Yazudah, sekalian pulang.’. Pergipun kami jadinya, singkat cerita kami sudah membeli panganan tersebut. Tapi Ashyel mengajak kembali ke sekolah, dengan berbagai dalihnya. Salah satunya dia tidak terbiasa jalan sendiri. Ya memang pada faktanya daerah sekolah ku yang bertempat di Jalan Cisangkuy itu memang sepi dan terkenal banyak aksi kejahatan terjadi. Terlahir sebagai lelaki, yang pada hakikatnya melindungi segenap harkat dan derajat wanita, tentunya dengan alasan itu aku terima untuk kembali ke sekolah. Sesampai didepan gerbang sekolah aku pun hendak berpamitan padanya. ‘Enggak, anterin aku sampe dalem kelas, aku gak kebiasa jalan sendiri weheheheh’ Ucap Ashyel. Okey atas nama teman baik aku antar Ashyel kedepan kelas. Kelas. Ya, kelas. Kelas itu.
Singkat cerita, kami berdua(Ashyel dan aku) sudah berada di depan pintu, ya reflek aku membuka pintu kelas. Tapi! Ada yang beda. Lampu mati dan semua memegang lilin, layaknya di film-film drama, atau mungkin pernah melihat serial My Boss My Hero saat adegan Makio ber-ulangtahun? Ya mereka menyanyikan lagu yang biasanya dinyanyikan saat seseorang ulangtahun, ya pastinya anda kerap kali mendengar lagu itu. Spontan aku berpikir, ‘Waduh ngegagalin rencana ulangtahun orang nih! Kebuka duluan pintunya.. Tapi siapa yang ulangtahun yak?’ Kebingungan hatiku mungkin tergambar dengan kalimat itu. Sampai akhirnya aku tersadar dari lirik lagu yang mereka nyanyikan memang jelas berbunyi ‘Happy birthday Thareq!’ Badanku panas seketika. Ya! Kaget, bingung, haru bercampur! Mungkin hatiku kalut, kalut karena terlalu senangnya.
Pohon ucapan yang indah.
Gantungan kacang.
Kotak ungu yang spesial.
Sebelas IPA Satu atau mereka menyebutnya Sebiji, memang benar, benar, benar, benar, ...... (infinite) Kompak. Ya mereka selalu memberikan kejutan-kejutan yang berbeda pada setiap anggotanya. Terimakasih, terimakasih dan terimakasih.
Mungkin setiap orang yang pada hakikatnya berhak memiliki harinya sendiri, hari dimana dirinya memang menjadi si pusat perhatian. Alangkah baiknya, kita memaknai momen ulangtahun yang dispesialkan atau kasarnya dirayakan, sebagai ungkapan bukti nyata kasih sayang orang-orang orang disekitar dirinya. Tidak lupa ditandai dengan syukur pada-Nya atas masih diberinya hidup hingga detik itu.
Segalanya menjadi lebih baik saat kita memaknainya dengan hati.
Salam.
9 Oktober 2012
Thareq Defa









