Tentang kau dan selaksa hujan
Waktu kau memulai adalah waktu yang sama saat aku melangkah untuk gagal, pada tahun yang telah tanggal, tentang balada di mana pemeran utama menyerah untuk tetap tinggal.
Di sebuah musim penghujan di bulan kedua perhitungan hari, kau hadir di sini, saat aku sedang diselimuti cahaya mentari, mengusir rasa pedih pergi.
Kau menyusup bagai bagian rasa bahagia yang merapat, menyatu dengan waktu yang tepat, berpadu dan membuat warna-warna indah turut terikat.
Kau menyamar sebagai paduan murni harapan hati, di mana jiwamu begitu suci, dan tatapan matamu begitu menoreh simpati. Namun, jiwaku masihlah berhati-hati, selalu bertanya dalam sunyi, tentang rahasia yang tersembunyi, tanpa takut akan terluka lagi.
Dan kau menceritakan dejavuku, membuat seluruh duniaku berhamburan merangkai puing-puing masa lalu.
Di musim selaksa hujan, tak terhitung waktu di mana kita berkawan, berkisah tentang kehidupan, tanpa tahu apakah kita akan melangkah ke depan.
Aku memujimu sebagai seseorang berbeda, di mana aku dapat menjadi diriku tanpa ragu, yang belum pernah ku perlihatkan.
Sempat aku terheran ketika dengan mudahnya kata keluar dari bibirku, meski sebelumnya aku memilih untuk bungkam. Kisah yang tersimpan baik dalam relungku, keluar seakan ia dan dirimu tlah lama berkawan.
Di musim selaksa hujan. Aku mendera diriku di antara kerasnya tetesan air langit malam, menebus sakitku dan malammu yang kelam.
Di musim selaksa hujan. Waktu bersamamu adalah rasa getir dan kedinginan, namun hatiku selalu tenang seakan ia sedang liburan.
Kau dan aku merangkai takdir yang sama berkaitan, sama sembrono dan sama merepotkan.
Kau dan aku bahkan sama berhutang kehidupan. Tentang nyawa yang belum dapat kita bayarkan. Tentang elegi manis sebuah kematian.
Di musim selaksa hujan, aku akan menantang kutukan di mana kita mungkin dapat sama menjadi penawar. Namun, akupun tak berani merangkai harapan tentang kau seorang pemberani yang mampu bertahan.
Yang ku lakukan kini adalah bertahan dalam hati yang sedang liburan, sedang kau menahan sesak yang entah dapatkah menghilang.
Di musim selaksa hujan, kita akan sama-sama kebasahan, kedinginan, untuk kemudian memillih jalan dimana kita mendapat kehangatan.
Di musim selaksa hujan kita akan memutuskan, sebuah ujung dari kata harapan, keberanian dan ketulusan.