Yang Tersisa Setelah Aku Lelah Marah
Disclaimer: tulisan ini tidak untuk semua orang. Kalau lukamu masih basah, masih dalam fase butuh validasi dan belum siap terima solusi, mungkin belum saatnya kamu baca ini. Takutnya kamu malah benci aku karena tulisanku terkesan terlalu “damai” sama hal-hal yang dulu juga pernah bikin aku hancur. Padahal bukan itu niatku. Ini cuma catatan perjalanan pwaaaaling sederhana setelah aku melewati banyak hal untuk berdamai dengan diri sendiri.
Kalau ada yang bertanya bagaimana aku bisa sampai pada titik memaafkan hal yang pernah menghancurkan mentalku, aku sendiri tidak yakin bisa memberi jawaban yang rapi. Maybe it just… happens. Tidak ada roadmap, tidak ada peta. Jalannya pun tidak sesimpel “tiba-tiba bisa memaafkan”. Tapi kalau kupaksa untuk melihat ke belakang sejauh ingatan ini sanggup membawaku kembali, mungkin begini...
Sejak awal, aku tak pernah berniat memaafkan. Yang kulakukan hanya mengurai semua rasa sakit dan ketidakmampuanku memaafkan lewat tulisan, sampai aku bosan menuliskan rasa sakit yang itu-itu saja, lalu tanpa sadar aku sampai pada satu titik, bahwa semuanya memang sudah usai. Rasa sakit atau lukanya belum hilang, tapi aku semakin jarang memikirkannya. Dan akan ada hari lain setelahnya dimana amarah dan kebencian itu muncul kembali dengan intensitas yang cukup tinggi, tapi tak pernah lama. I think that’s healing right there, and I just need to flow with it. So I sit, watch it erupt, and wait for it to settle on its own.
Tidak adakah keinginanku membalasnya? Tentu saja ada. Pernah sangat besar bahkan. Pernah kubayangkan skenario di kepalaku, berulang-ulang, tentang bagaimana mereka akan menyesal, bagaimana aku akan membuat mereka mengerti perasaanku. Lalu kucoba bayangkan lagi berapa besar tenaga harus kukerahkan? Berapa banyak waktu harus kusisihkan? Worth it, nggak? Am I even worth that? Mengasuh itu semua dalam diriku? Semua amarah, dendam, dan kelelahan itu? I deserve something beyond what's right here—hal-hal yang lebih selaras dengan siapa aku. Ngapain juga aku rela jadi kandang bagi emosi yang sebenarnya bikin capek?
Entah kenapa aku merasa, keinginan membalas itu sebenarnya muncul karena kita belum benar-benar mencintai diri sendiri. Sebab ketika akhirnya aku sadar kalau aku sangat mencintai diriku sendiri, aku tidak mau lagi menyiksa diriku dengan semua hal merepotkan seperti itu. Aku belajar menata, karena kadang-kadang, memang ada hal-hal yang membebani kita dan tidak bisa dibuang begitu saja. Itulah yang kulakukan. Aku menata yang tidak bisa kubuang begitu saja, dan membuang yang tak ada alasan kuat bagiku untuk mempertahannya meski keinginanku berkata sebaliknya.
Still, I’ve gotta say this, too—tentang "tidak membebani diri dengan semua hal merepotkan seperti itu sebagai bentuk cinta pada diri sendiri" bukanlah sesuatu yang bisa dipahami dalam sekali dengar atau sekali baca. Aku sendiri butuh waktu berbulan-bulan, banyak air mata, dan rasa sakit untuk bisa benar-benar memahami, merasakan, dan relate dengan esensinya—untuk menghayatinya sebagai kebenaranku. Dulu-dulu kalau kubaca tulisan orang lain yang mengatakan begitu, aku juga tidak paham-paham amat. Mungkin itu juga yang akan kamu rasakan saat membaca apa yang kutuliskan sekarang.
Dan harga diri yang sering dibicarakan itu, sebenarnya soal apa? Kenapa sebagian orang memilih membalas kejahatan dengan kejahatan dengan dalih harga diri?
Aku tidak tahu pendapatmu, tapi sebenarnya, semua yang kutulis ini lebih soal aku merasa daripada aku berpikir, bahwa aku merasa banyak dari kita tumbuh dengan narasi "kalau aku disakiti dan tidak membalas, berarti aku lemah. Bahwa kalau aku diam saja, harga diriku diinjak." Tapi bukannya balas membalas itu adalah bukti bahwa kita tunduk pada luka? Kita dikuasainya dan kita tidak membiarkan diri kita memilih mengambil alih kendalinya?
Kita membalas karena merasa direndahkan, dan balasan itu jadi semacam pembuktian bahwa kita masih punya kuasa. Masih punya kuasa? kuasa apa? Membalas saja sudah menjadi bukti kita sedang dikuasai luka. Lalu kebutuhan agar orang lain menderita agar kita merasa berharga, itu bukan harga diri. Itu ilusi kekuatan. Kita sedang menggantungkan nilai diri kita pada rasa sakit orang lain. Artinya, kita bukan pemegang kuasa/kendali tertinggi saat itu. Kita sedang tunduk pada luka (dikendalikan) bukan berdiri di atasnya (mengendalikannya). Kita bukan sedang menguasai rasa sakit, tapi justru sedang dikuasai olehnya.
Tapi, semua tergantung versi “harga diri” yang kita pakai, sih. Bagaimanapun, harga diri yang satu orang anut bisa sangat berbeda dari yang dianut orang lain.
Kalau “harga diri” artinya pembuktian ke dunia, maka, membalas seringkali adalah caranya. Karena kita ingin menunjukkan bahwa kita tidak bisa dipermalukan, kita harus dapatkan keadilan, bahkan meski itu harus pakai cara kita sendiri. Tapi menurutku, ini bukan harga diri sejati—ini harga diri reaktif, yang lahir dari luka dan ego.
Tapi kalau “harga diri” yang kita pakai adalah penghargaan terhadap diri sendiri yang utuh, maka, memaafkan dan melepaskan adalah bentuk tertinggi dari harga diri itu. Karena kita sedang bilang, “Aku cukup berharga untuk membiarkan orang lain mengendalikan emosiku.” Ini bukan pasif. Ini berdaulat atas diri sendiri. Sejujurnya, harga diri seperti itu sebenarnya jauh lebih susah dipertahankan dan lebih mulia.
Setelah bosan mengulang-ulang luka, aku merasa tidak ingin lagi jadi orang yang hidup untuk luka itu. Aku ingin jadi orang yang hidup meskipun pernah dilukai.
Sejauh yang bisa kuingat, begitulah jalannya aku tiba di titik itu.











