KERINDUAN, MENULIS TUMBLR dan SEJARAHNYA
Dahulu, tapi tidak kala. Aku sangat senang menulis.
Jauh sebelum mengenal jatuh cinta, propaganda, ataupun kata – kata bijak yang bisa diperjualbelikan kapan saja, aku sudah senang menulis. Tentu saja sebelum menulis aku berpikir. Karena tidak mungkin aku menulis tanpa berpikir, karena sejatinya menulis adalah proses mengabadikan pemikiran. Ya, menulis adalah proses mengabadikan, begitulah setidaknya yang dikatakan oleh Pramoedya. Lalu apa yang aku coba abadikan adalah pikiran – pikiran dan pemikiran – pemikiran yang selalu muncul di malam hari saat menjelang tidur hingga menjelang subuh.
Mulai dari pikiran – pikiran tentang apakah hari ini sudah besok atau masih sekarang ? dan pikiran – pikiran semacam siapa diriku sebenarnya, hingga pikiran – pikiran aneh yang sering muncul seperti komik yang cerita – ceritanya selalu bersambung setiap malam menjelang tidur hingga menjelang subuh. Setidaknya begitulah yang terjadi hingga aku menginjak kelas 3 SMA.
Tentu saja saat itu aku masih miskin dan belum memiliki komputer atau laptop, sehingga apapun yang aku pikirkan malam itu aku tuliskan di sebuah buku tebal berjumlah 100 halaman berwarna merah yang aku namai Cetakan Biru, yang entah dimana sekarang dia berada karena saat itu rumahku -mungkin lebih tepatnya tempat tinggal karena itu bukan rumahku- mengalami renovasi yang cukup besar sehingga semua barang yang ada di rumah harus dipindahkan dan kami mengungsi untuk 2 bulan lamanya ke tempat tinggal lain. Setelah selesai renovasi dan semua barang telah dikembalikan ke tempat asalnya, Cetakan Biru tidak ditemukan. Hilang, entah dimana rimbanya.
Sejak saat itu aku jadi malas menulis. Setiap pikiran – pikiran yang muncul selalu aku abaikan. Hingga akhirnya, singkat cerita, aku lulus dari SMA dan masuk sebuah universitas negeri di Jatinangor, Jawa Barat, -sebut saja UNPAD. UNPAD kampusku, bukan di Bandung tapi di Jatinangor. Karena dari UNPAD kampusku ke UNPAD kampus orang lain di Bandung memerlukan waktu tempuh sekita 1 jam 30 menit menggunakan bus DAMRI yang saat itu pertama kali aku naik ongkosnya kalau benar itu Rp. 3.500,- sekali perjalanan.
Jurusan yang “terambil” olehku saat itu adalah Ilmu Pemerintahan. Mengapa “terambil” ? karena tidak sengaja, dan itu adalah pilihan ketiga. Dulu tahun 2009, ujian saringan masuk universitas itu namanya SNMPTN dan masih bisa pilih 3 jurusan kalau ambil IPC saat mendaftar. Tentu saja pilihan jurusan ketiga ini kupilih dengan tutup mata, karena saking sombong dan percaya dirinya aku akan lulus di pilihan pertama atau kedua untuk jurusan Keguruan dan Ilmu Pendidikan Matematika UPI dan Farmasi UNPAD. Rumpun Ilmu Pengetahuan Alam, sesuai jurusanku saat SMA. Tapi ternyata takdir berkata lain. Ragaku mungkin IPA tapi jiwaku IPS. Ironis. Sejak saat itu aku mulai percaya bahwa takdir itu berawal dari ketidaksengajaan.
Masa – masa awal masuk universitas aku lewati dengan gemilang meski pikiran – pikiran aneh itu pun masih selalu saja muncul dan selalu kuabaikan, karena aku tidak tahu harus menuangkannya kemana, mengerjakan tugaspun aku masih numpang di warnet, yang tentu saja lebih banyak dihabiskan dengan bermain Facebook, Friendster, dan Kaskus. Mengenang dan bercengkerama bersama kawan – kawan SMA yang sudah meniti jalan karirnya masing – masing, dan ketika kubaca – baca lagi sekarang itu sangat menggelikan dan membuat bulu tengkuk meremang.
Tentu saja aku pernah alay. Entah itu menulis dengan campuran huruf besar dan kecil ditambah variasi angka dan tanda baca yang lebih mudah dibaca menggunakan Enigma, atau mengganti nama asliku di Facebook menggunakan kata – kata “Si” atau menggunakan nama lain yang lebih ekstrim level alaynya seperti “Iru Suka Cewek Gokilzz” atau “Aku adalah Patrick Teman Spongebob”. Rasanya ingin muntah mengingat – ingat ini kembali.
Setiap hari menjelang malam di tahun 2009 hingga pertengahan tahun 2010 adalah masa – masa kegelapan. Bayangkan. Di kosan tanpa laptop/komputer, tanpa tv, dan tentu saja tanpa internet karena saat itu internet di rumah atau kosan masih menjadi konsumsi kalangan rakyat menengah ke atas. Kawanku hanya Nokia 1100 dan lagu – lagu populer yang berasal dari siaran radio dan tentu saja pikiran – pikiran aneh yang selalu datang saat malam menjelang tidur hingga menjelang subuh.
Secercah sinar harapan muncul pada awal semester 3 di tahun 2010. Akhirnya ibuku rela untuk membelikanku laptop, tentu saja dengan cara kredit. Acer Emachines D725 Intel Pentium Dual Core RAM 1 GB 160 GB HDD, harga Rp. 4.200.000,- . Skema 24x cicilan, DP Rp. 500.000,-. Itulah laptop pertamaku yang masih bertahan hingga saat ini, tapi batrainya sudah hilang entah kemana.
Semua berubah sejak laptop hadir di kamar kosanku. Tentu saja lebih banyak kugunakan untuk menonton film, serial tv dan anime setelah sebelumnya aku download menggunakan wifi gratis dari kampus. Running Man dan film – film bergenre horror dan thriller misteri tidak pernah absen dari list tontonanku hingga aku lulus kuliah, dan tentu saja film – film bergenre “pemersatu bangsa” produksi Negeri Matahari tidak pernah luput untuk masuk dalam list. Beberapa produksi lokal juga bagus, meskipun sangat kurang baik dalam kualitas gambar dan pengambilan sudut serta tidak ada alur ceritanya.
Duniaku banyak berubah sejak kehadiran laptop. Terutama untuk pikiran – pikiran yang selalu muncul saat malam menjelang tidur hingga menjelang subuh. Aku sudah bisa menuangkannya. Setidaknya dalam 1 bulan ada 4 sampai 5 karya tulis yang kubuat. Entah itu opini, puisi, sajak, cerita pendek, hingga flash fiction. Semua berjalan dengan baik hingga sebuah masalah yang sangat besar muncul.
Perasaan.
Bila kuingat – ingat lagi. Perasaan ini muncul pada pertengahan semester 3 di tahun 2010, sekitar bulan Oktober – November. Aku menyukai seorang perempuan. Tentu saja dia kawan kuliah dan satu jurusan denganku. Dunia pergaulanku sangat sempit, sesempit pintu masuk menuju Pedca UNPAD dari Cisaladah. Di kampus bertemu orang – orang yang sama, di kosan pun begitu, lu lagi lu lagi. Kawan - kawanku mungkin tahu, beberapa mungkin tidak, dan sebagian mungkin berpura – pura hilang akal. Sebaiknya tidak kusebutkan nama aslinya, supaya menjadi misteri sebut saja namanya Dia.
Sejak saat itu semua hal berubah. Duniaku di pagi hari terasa begitu cepat dan hangat, rasanya seperti alam semesta memahami apa yang sedang kurasakan. Sedangkan malam hari terasa begitu lama dan dingin. Aku seperti orang jatuh cinta, meskipun sekarang aku tahu waktu itu yang kurasakan bukan cinta. Tapi perasaan itu mengobrak – abrik semuanya. Merusak jalur logika pikiran – pikiran yang sering muncul saat malam menjelang tidur hingga menjelang subuh. Aku sangat ingin malam segera berakhir dan berganti pagi, sehingga aku bisa lebih cepat bertemu dengan Dia.
Tidak hanya aspek kehidupan kosan, tapi kehidupan kampusku pun banyak berubah. Materi – materi kuliah lebih banyak tak kuindahkan karena fokusku teralihkan oleh senyumnya yang menawan. Bising kalimat demi kalimat penjelasan materi kuliah dari dosen tak ada satupun yang masuk ke otakku karena yang merambat ke telingaku hanya gelak tawanya yang khas. Teriknya matahari Jatinangor saat itu tidak menjadi halangan untuk menatap matanya yang teduh. Tugas – tugas kuliah banyak yang terbaikan, film – film dan serial tv juga anime sudah menumpuk karena belum ditonton karena saking malasnya. Saat itu pekerjaan yang paling mudah adalah memikirkan dia. Tulisan – tulisan dari pikiranku saat itu pun lebih melankolis, sentimental dan mendayu – dayu. Terlalu banyak monolog dan kebingungan atas eksistensi diri. “Oh Tuhan, apakah aku tersesat di jalan yang lurus ? “ pikirku saat itu.
Hari demi hari kulewati tanpa luput memikirkannya. Jumlah karya tulis yanng kubuat pun meningkat drastis, 5 karya dalam seminggu. Tapi ya begitu, mengarah kepada mellow, sentimental dan mendayu – dayu. Padahal aku tidak yakin apa yang aku rasakan, dan berbalas pun belum perasaanku tersebut. Tapi alam semesta rasanya seperti mulai tidak mendukung apa yang aku rasakan, mendung dan hujan selalu saja muncul setiap sore. Sehingga dia selalu pulang lebih awal karena takut kehujanan. Padahal aku bawa payung. Kalaupun lupa, temanku selalu membawanya.
Awal tahun 2011, muncul platform sosial baru yang sedang naik pamornya.
Twitter.
Facebook mulai terpinggirkan. Tidak seperti saat ini, dulu Facebook sangat membosankan, aktivitas yang menarik hanyalah mengomentari status dan saling berkirim pesan di wall pengguna facebook lain untuk kemudian saling berkomentar di bawahnya. Semakin banyak komentarnya berarti semakin menarik pembahasannya. Meskipun yang memberi komentar hanya orang itu – itu saja. Hanya pengirim pesan dan orang yang dikirimi pesan. Sungguh aneh kehidupan pemuda - pemudi saat itu, tapi biar saja itulah namanya dinamika pencarian jati diri sejati.
Dia punya twitter. Tentu saja aku pun membuatnya. @iruuu dulu nama akunnya kalau tidak salah. Tentu saja saat ini sudah kuhapus. Karena rasa kecewa dan sakit hati, huft. Dunia twitterku pun tidak jauh dari tentang – tentang dia saja. Membuat tweet atau me-retweet kata – kata bijak atau puitis berharap mendapat komentar darinya atau berharap lebih seperti dia sadar bahwa itu adalah untuknya dan dia membalasnya, hahahahaha. SAMPAH.
Waktu berlalu begitu cepat, hingga aku tidak ingat kapan tepatnya, karena pikiranku sudah dipenuhi oleh wajah, senyum dan matanya yang teduh, halah. Aku mulai terpikirkan untuk apa tulisanku ini kalau hanya aku simpan saja di laptopku. Namun aku bingung, kemana aku harus mempublish tulisan – tulisanku yang saat itu lebih banyak bernuansa sentimentalnya.
Hingga akhirnya hari itu tiba. Dia. Iya dia. Membagikan sebuah tautan melalui twitternya.
Tumblr.
“Perbudakan apalagi ini ?“ batinku saat itu. Mungkin karena memang dasarnya aku telah tersihir oleh perasaan itu sehingga hilang akal sehatku dan mirip seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, aku pun membuka tautan tersebut. Sekarang hal semacam ini disebut bucin.
Setelah kubuka tautan tersebut kemudian halaman browser mozilla ku berpindah pada sebuah halaman berisikan tulisan – tulisan dan kutipan – kutipan dari tulisan – tulisan dan kutipan orang lain. Ternyata semacam blog, pikirku. Dan tentu saja kemudian aku membuat akunnya. Tumblr.
Mulai dari hari itu beberapa tulisan di laptop aku posting di Tumblr. Puisi – puisi, sajak, hingga cerita – cerita fiksi, kesemuanya terinspirasi dari pikiran – pikiran dan perasaanku yang bercampur tentang dia. Tentu saja aku tidak pernah langsung secara frontal menyebut namanya dalam tulisanku. Lebih sering kusamarkan dengan nama – nama fiktif seperti Joni dan Laras. Begitupun dengan judul – judul tulisannya. Masih menyerempet hal – hal yang berkaitan dengan Dia. Entah nama atau mungkin kepribadiannya yang dia tunjukan kepadaku. Untuk apa ? tentu saja tergantung harapan yang sangat besar dan tinggi di dalamnya, agar Dia sadar bahwa itu semua untuknya, hahahahahasyu.
Singkat cerita, aku aktif menulis dan posting di Tumblr hingga akhir tahun 2013, menjelang hari – hari terakhirku di kampus, karena awal tahun 2014 aku sudah lulus dan wisuda. Menjelang akhir – akhir masa kuliah tulisanku lebih banyak keluh kesahnya. Mungkin masa – masa itu aku mulai sadar bahwa tanggung jawab yang sangat besar sudah menantiku di depan mata. Awal – awal masuk kerja pun aku masih menulis beberapa kali hingga akhirnya aku mengenal lagi perempuan dan kali ini aku benar – benar jatuh cinta.
Dulu, Tumblrku kuberi nama “Setengah Tiga Pagi” karena pikiran – pikiran aneh yang muncul saat malam menjelang tidur hingga menjelang subuh tersebut baru menghilang ketika hari sudah menjelang pukul setengah tiga dini hari. “Berarti dulu aku sering begadang ?”. Betul, sejak SMA bahkan hingga sekarang pikiran – pikiran aneh tersebut sering muncul saat malam menjelang tidur hingga menjelang subuh, sehingga aku sering begadang. Apakah efeknya buruk ? tentu saja. Berat badanku saat pertama kali masuk kuliah tahun 2009 adalah 40 kg. Berat badanku saat pertama kali tes masuk kerja tahun 2014 adalah 43 kg. Dalam 5 tahun hanya naik 3 kg. Padahal aku makan 3x sehari. Dan juga minum kopi serta indomie saat tengah malam. Tapi, hampir setiap hari aku begadang. Karena pikiran – pikiran aneh tersebut.
Menjelang hari – hari terakhir kuliah kuganti namanya menjadi “Back To The Sea”, kembali ke laut. Isinya lebih banyak keluh kesah, rasa kecewa, sakit hati dan ekspresi – ekspresi negatif yang muncul saat menjelang hari – hari terakhir masa kuliah. Kenapa laut ? Karena bagiku laut masih menjadi misteri dan aku suka aroma air dan pasirnya, selain aroma hujan. Juga karena laut adalah tempat orang buang jin. Meski tidak nyambung, bagiku laut rasanya menjadi tempat yang sangat cocok untuk membuang semua keluh kesah dan juga cerita – cerita dan pikiran – pikiran negatif saat itu.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, perubahan lingkungan dan bertambahnya pengetahuan, aku merasakan banyak hal yang berubah dariku. Mulai dari cara berpikir dan menyikapi hal – hal yang menjadi masalah dalam hidupku, hingga hal – hal yang berkaitan dengan perasaan dan spiritualitas. Apalagi di saat – saat wabah Covid – 19 seperti saat ini. Kebebasan rasanya terenggut. Terkurung di dalam rumah sendiri rasanya tidak nyaman. Apalagi terkurung oleh pikiran sendiri. Waktu lebih banyak kuhabiskan bermain Outward, PES 2017, Mobile Legend hingga scroll foto – foto di instagram hingga tak tentu dimana ujung scrollnya.
Tapi setidaknya dulu aku belajar beberapa hal dari Mohammad Hatta, HAMKA, Pramoedya dan juga Tan Malaka. Raga boleh saja terpenjara, tapi jiwa dan pikiran haruslah tetap bebas. Idealisme harus tetap terjaga karena itulah satu – satunya kemewahan yang dimiliki oleh pemuda. Sayangnya kurasa aku sudah tidak muda lagi. Tapi pernyataan Pram paling menohokku.
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan”
Aku sadar, karya - karyaku tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan karya orang – orang yang kusebutkan di atas. Mungkin tidak sampai seujung kuku jari mereka. Tapi, setelah kubuka lagi Tumblrku, kuscroll kembali ke bawah, hingga kubaca semua yang pernah kutulis, meski sebagian besarnya telah kuhapus karena sentimen yang terlalu mencuat akibat dari rasa kecewa dan sakit hati, namun aku sadar bahwa menulis, proses mengabadikan ini bukan hanya agar aku tidak hilang dalam masyarakat dan sejarah, tapi juga agar aku tidak hilang dalam diriku sendiri. Kalau saja dulu tidak kuabadikan pikiran – pikiran aneh tersebut dan ktuangkan dalam tulisan, dan kuposting di Tumblr mungkin aku akan hilang. Tidak hanya dalam masyarakat dan sejarah, tapi juga dalam diriku sendiri. Setidaknya, melalui tulisanku di Tumblr ini, aku ingat pernah menjadi bagian dari orang – orang yang membacanya. Orang – orang yang menjadi inspirasiku membuat tulisan – tulisan tentang mereka, dan mereka menjadi bagian dari sejarah untuk diriku sendiri.
Dalam sebuah seminar penulisan yang pernah kuikuti, ada sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh pembicara dalam seminar itu. Kurang lebih begini,
“Yang paling sulit dari menulis adalah memulai. Kita punya konsep, ide, pikiran dalam kepala kita. Tapi akan menjadi sia – sia kalau tidak kita ungkapkan lewat tulisan. Entah nanti tulisan kita tersebut jelek, tidak nyambung, atau bahkan tidak ada yang membaca, setidaknya kita sudah mencoba memulai. Karena kemampuan menulis diasah dan bertambah seiring waktu, seiring dengan banyaknya kita menulis dan juga membaca tentunya. Tuliskan apa saja yang kita pikirkan, yang penting kita memulai. Apabila tidak ada yang membaca, minta orang – orang terdekat kita untuk membacanya, memberi kritik dan masukan untuk tulisan kita. Semua butuh proses, termasuk membuat tulisan yang bisa dibaca dan dipahami orang banyak”
Berbekal kalimat tersebut, dan masa pandemi yang semoga segera berakhir, aku akan mencoba untuk menulis kembali. Meskipun tidak sebergairah dulu, setidaknya dicoba. Karena, terkadang ketika kita duduk di depan laptop/komputer dan menulis, waktu yang berjalan menjadi tidak terasa, boleh lupa waktu tapi tidak boleh lupa solat. Mari menulis. Mari berproses mengabadikan diri.
Depok, 8 Mei 2020
*Tulisan ini dibuat sambil menunggu adzan Maghrib di puasa hari ke- 15 ditengah Pandemi Virus Covid -19. Ditemani oleh : L Arc en Ciel, Big Bang, Epik High dan Kangen Band formasi jadul.








