Akhir - akhir ini banyak sekali orang -orang bersepeda. Olahraga supaya sehat katanya. Tapi sepedanya harus mahal dan bagus, supaya kalau difoto tidak malu-maluin.
Wajar, menurutku. Mungkin selain ingin terlihat sehat raganya, juga ingin terlihat sehat kemampuan finansialnya. Apalagi di tengah - tengah masa pandemi seperti sekarang ini. Dimana ribuan bahkan mungkin sampai jutaan orang saat ini tidak memiliki pendapatan yang tetap setiap bulan, atau bahkan setiap harinya seperti masa - masa sebelum pandemi. Di satu sisi masih ada orang - orang yang mampu memiliki hobi/kegiatan yang tidak menjadi masalah besar untuk urusan saldo rekeningnya.
Dengan rasa penasaran, kuberanikan diri mengayuh sepeda dari Depok menuju kantorku di bilangan Thamrin Jakarta Pusat. Bukan untuk olahraga agar sehat. Hanya penasaran ketika aku bertemu dengan orang - orang yang bersepeda selama perjalananku, apa benar orang - orang itu bersepeda untuk berolahraga dan menjadi sehat, atau hanya supaya kekinian dan ada tujuan lain.
Pukul 07.00 WIB aku berangkat dari rumah. Rumahku berada di dekat Stasiun Depok Lama. Dari aplikasi Google Maps, jarak dari rumahku ke kantor sekitar 29 km, yang biasa kutempuh kurang lebih selama 1 jam 30 menit menggunakan sepeda motor. Kuberanikan diri menggunakan sepeda hanya untuk memenuhi rasa penasaran. Seberapa banyak orang bersepeda yang akan aku temui selama perjalananku dari Depok menuju Jakarta Pusat.
Sepedaku hanya sepeda biasa dengan beberapa perpindahan gear yang dapat meringankan dan memberatkan kayuhannya . Aku membelinya dulu sekitar bulan Oktober tahun 2018. Jauh sebelum Covid-19 menyerang. Tapi sepeda itu tergeletak begitu saja dan hanya beberapa kali dipakai bersepeda mengelilingi kampus impian sejuta adek - adek SMA/MA/SMK atau yang Sederajat, Universitas Indonesia. Untung dulu aku tidak jadi membeli jaket "We Are Not The Yellow Jacket", bisa - bisa aku diblacklist masuk UI.
Tigapuluh menit bersepeda belum juga kutemui orang - orang yang bersepeda sepanjang perjalanan. Mungkin karena ini hari Sabtu, pikirku. Aku berhenti sebentar di pinggir jalan. Meneguk air bercampur madu yang kubawa dari rumah.
Capek. Itu yang kurasakan. Bagaimana orang bisa kuat bersepeda lama - lama dengan jarak yang cukup jauh, pikirku.
Tak berapa lama kulanjutkan kembali perjalanan. Memasuki daerah Jagakarsa aku mulai menemui beberapa pesepeda. Tapi ada yang aneh menurutku. Mereka bergerombol, memakai pakaian lengkap seperti pesepeda profesional yang sedang berlomba dengan helm dan kacamata yang terlihat mahal. Juga merk sepeda yang kutahu harganya sangat mahal. Brompton. Mengapa aneh ? karena menurutku kita tidak sedang berlomba, mungkin memakai pakaian training juga cukup dan ini masih pagi, sepi, matahari baru naik sedikit. Apa tidak gelap memakai kacamata hitam seperti itu ? Mungkin supaya gaya, pikirku.
Tidak dua atau tiga, tapi delapan. Delapan orang bersepeda berjejer hingga ke tengah jalan. Sesekali mereka diklakson oleh pengendara mobil dan motor yang ingin menyusul. Aku yang sedari tadi di belakang mereka ingin menyusul tapi agak malu. Karena sepedaku hanya sepeda murah, rantainya sdh mulai berkarat, penuh debu dan lumpur juga tidak bisa dilipat pula. Jadi kuputuskan untuk tetap berada di belakang sembari memperhatikan gerak - gerik mereka.
Setelah sampai di daerah Cilandak, tepatnya dekat IPDN Cilandak, kulihat mereka berhenti. Duduk - duduk berfoto - foto. Menjejerkan sepeda mereka lalu berfoto dengan bermacam gaya. Hmmm... mungkin untuk dokumentasi sebagai lampiran laporan supaya terlihat banyak, pikirku. Tak berapa lama kudahului mereka. Saat menyusul mereka tak sengaja kulihat salah seorang dari mereka menunjuk ke arahku, diikuti dengan pengalihan pandangan yang serentak dari rekan - rekannya yang lain. Kupikir karena setelanku keren. Tapi orang itu menunjuk sembari diikuti tawa oleh rekan - rekannya yang lain.
Apa ada yang salah ya ? pikirku. Tapi aku tidak menghiraukannya. Mungkin mereka agak aneh melihatku bersepeda menggunakan baju kaos, tanpa helm, menyandang tas ransel, memakai celana jeans dan sepatu kets.
Kulanjutkan perjalanan melewati daerah Antasari, Blok M, hingga sampai di bilangan Senayan. Mulau dari sini sudah sangat banyak kutemui orang - orang bersepeda. Mulai dari sepeda yang sama denganku, hingga sepeda - sepeda aneh dengan ban kecil tapi dapat melaju dengan cepat.
Sebenarnya aku tidak terlalu paham dengan jenis - jenis sepeda. Yang kutahu sepeda ada 2. Sepeda anak - anak dan sepeda dewasa. Tapi di Senayan, kulihat banyak orang menggunakan sepeda kecil dengan ban kecil seperti sepeda anak - anak tapi yang mengendarai orang dewasa. Mungkin sepeda mahal, lebih mahal dari Brompton, pikirku. Karena yang kutahu sepeda yang mahal hanya Brompton.
Tak berapa lama aku sampai di Bundaran HI.
"Gila". Kata pertama yang spontan keluar dari mulutku ketika sampai di Bundaran HI.
Trotoar yang dekat dengan Hotel Indonesia penuh sesak dengan orang dan sepeda. Berjejer dari ujung trotoar Hotel Indonesia hingga ke depan halte Plaza Indonesia. Kegiatan mereka ya duduk - duduk. Foto - foto. Ada juga beberapa yang sepertinya melanjutkan kegiatan bersepedanya ke arah Monas.
Begitu pun denganku. Kulanjutkan perjalan menuju kantor. Sesampainya di kantor aku merasakan haus dan pantatku terasa nyeri.
Jam menunjukkan pukul 09.33. Dua jam tigapuluh menit. Perjalanan dari Depok ke Jakarta Pusat. Tentu saja aku sangat sering berhenti. Selain karena haus tapi juga lelah. Tapi, rasa penasaranku terjawab. Naik sepeda ke kantor sangat melelahkan.
Aku berada di kantor hingga pukul 4 sore, dan aku harus kembali pulang ke rumah. Tapi yang sempat membuat mentalku jatuh adalah aku harus kembali bersepeda selama 2 jam 30 menit menuju rumah.
Hanya karena rasa penasaran malah jadi seperti ini. Dulu juga pernah seperti ini. Mentalku pernah jatuh saat pertama kali mendaki gunung tapi tidak sampai - sampai ke puncak. Tapi dulu berbeda, masih ada rekan - rekan yang selalu saling memberi support sehingga aku dapat bersemangat kembali dan akhirnya sampai di puncak, meskipun dengan keadaan yang sangat lelah dan kedinginan. Tapi sekarang berbeda.
Kukumpulkan niat. Semangat. Kuberanikan diri untuk pulang. Mungkin lebih tepatnya terpaksa pulang, karena tidak mungkin aku menginap di kantor, besok hari Minggu.
Kukayuh sepedaku. Aku mengambil rute yang berbeda saat pulang, karena jalan yang aku lewati saat pagi pasti macet di sore hari.
Pantatku masih terasa sakit. Sehingga aku lebih banyak berdiri saat mengayuh sepeda daripada duduk di sadel. Tentu saja aku tetap berhenti untuk beberapa kali. Tapi ada momen berhenti yang membuatku merasa aku telah lupa diri, peanut forget its skin.
Jadi aku mengambil jalur Rasuna Said hingga ke Mampang dan terus lurus hingga tembus di Ragunan, kemudian keluar di dekat St. Univ Pancasila dan aku menyeberang ke jalur sebelah, sehingga aku berada di jalur Lenteng Agung yang mengarah ke Kelapa Dua dan Margonda. Kemudian aku mengambil arah Margonda, lurus hingga sampai di depan Stasiun Depok Lama. Di Stasiun Depok Lama aku memilih jalur gang yang berada di sekitar stasiun hingga tembus ke Hutan Cagar Alam, dan 5 menit dari Hutan Cagar Alam aku sudah sampai di rumah.
Saat sampai di bilangan Rasuna Said, tepatnya di jembatan sebelum kantor KPK, aku berpapasan dengan abang - abang yang menjajakan minuman seperti kopi, Nutrisari dan rokok yang menggunakan sepeda. Orang - orang kantorku biasa menyebut mereka Starling, Starbucks Keliling.
Aku langsung teringat almarhum ayahku dulu. Setiap hari dia berangkat kerja menggunakan sepeda. Kadang dia kehujanan, kepanasan hingga berkali - kali diklakson oleh pengguna motor dan mobil. Lima tahun ia pergi bekerja menggunakan sepeda. Bukan untuk gaya - gayaan atau untuk olahraga agar sehat, tapi memang itu alat transportasi yang ia gunakan.
Begitu pun denganku dulu, bersepeda ke sekolah semasa SMP. Naik angkutan umum dan berjalan kaki saat SMA dan berjalan kaki dari kosan ke kampus saat kuliah, karena memang tidak begitu jauh.
Tiba - tiba terflashback.
Aku merasa tertohok melihat abang - abang Starling yang berjualan menggunakan sepeda. Meskipun sebenarnya masih banyak orang dengan usaha - usaha lainnya yang menjadikan sepeda sebagai alat transportasi atau alat kerjanya. Tapi entah mengapa saat itu aku merasa tidak enak hati sekaligus malu.
Setelah lampu merah dekat kantor KPU yang mengarah ke Rasuna Said ada tanjakan yang cukup terjal. Dari jauh sudah kulihat abang - abang Starling menuntun sepedanya melewati jembatan.
Tapi kuperhatikan lebih dekat lagi ketika aku menyusulnya aku baru sadar. Ternyata sepedanya tidak memiliki "gigi" tidak seperti sepedaku atau sepeda orang - orang yang kutemui di sekitaran Senayan dan Bundaran HI. Bukan juga sepeda mahal tidak ber"gigi" dengan ban kecil yang dulu sangat populer di kalangan anak muda. Tapi sebuah sepeda tua, yang mirip sepeda perempuan. Aku bingung menggambarkannya. Jadi dulu ada model sepeda yang ada boncengan di belakangnya dan ada keranjang di bagian depannya di dekat stang di atas roda depan. Nah, sepeda itu yang kumaksud.
Abang - abang Starling menuntun sepeda melewati jembatan yang cukup terjal. Di belakangnya tergantung berbagai macam merk dan jenis kopi juga sebuah kotak yang kutebak mungkin isinya es batu atau minuman dingin. Di keranjang depan sepedanya ada 2 termos air panas, beberapa botol air mineral ukuran 1,5 liter, dan gelas plastik.
Kuteriakkan "Duluan bang". Dia membalas dengan bel di stang sepedanya.
Setelah menuruni jembatan aku berhenti di halte seberang kantor KPK. Capek. Haus. Tapi sengaja aku tidak minum. Kutunggu abang Starling lewat.
"Pulang bang" sapa abang Starling ketika berhenti di depanku.
"Iya, ada minuman dingin ?" tanyaku.
"Boleh deh, tapi kesini aja bang" kataku seraya menyerahkan botol minumku.
Abang Starling menuangkan sebungkus nutrisari kedalam botol minumku lalu menambahkan beberapa es batu yang mungkin sudah dia pecahkan menjadi potongan - potongan kecil sebelumnya.
Kuberi uang 10 ribu tanpa meminta kembalian. Untung abangnya mau. Kutanyakan dia darimana, ia jawab dari Monas. Karena sudah mulai malam dia mulai berjualan di daerah - daerah perkantoran yang biasanya banyak yang kerja sampai malam. Langganannya tentu saja para Satuan Pengamanan yang berjaga di gerbang masuk perkantoran.
Abang Starling menanyakan tujuanku. Kujawab Depok. Sontak ia terkejut dan berkata,
"Gila aja lu bang, naik sepeda Depok - Jakarta PP, mending naik kereta".
Aku hanya tersenyum. Iya bang, gua juga baru ngerasain ternyata capek juga, tapi namanya juga penasaran, batinku. Abang Starling bercerita, dari orang - orang yang bersepeda di Monas yang pernah ia tanyai, yang terjauh sampai saat ini yang ia ketahui adalah dari Kemang, Jakarta Selatan. Itu pun mereka bersepeda secara rombongan.
Beruntunglah engkau bertemu denganku wahai abang Starling. Nanti bila engkau menyakan pesepeda - pesepada lain yang membeli daganganmu kau bisa berkata dengan bangga sembari membusungkan dada "Kemarin saya pernah ketemu sama yang naik sepeda dari Depok ke Jakarta pulang pergi".
Abang Starling pamit melanjutkan pencarian nafkahnya, setelah sebelumnya berkata kepadaku agar berhati - hati selama perjalanan.
Kukayuh lagi sepedaku melanjutkan perjalanan. Hampir tidak ada kutemui pesepeda selama perjalanan, hingga akhirnya aku bertemu dengan 3 orang pesepeda di daerah Lenteng Agung. Setelah saling menyapa dan menanyakan tujuan kami berjalan beriringan. Kami berpisah saat sampai di perbatasan Jakarta - Depok. Tiga orang pesepeda tersebut berbelok ke arah Kelapa Dua, sedang aku lurus menuju Margonda hingga akhirnya sampai di rumah.
Benar - benar pengalaman yang mungkin tidak berharga bagi orang lain. Apalagi bagi orang - orang yang hanya bisa menyindir, meremehkan, terlalu banyak omong tapi tidak ada tindakan nyata. Tapi rasa penasaranku terjawab sudah, beberapa hal dan kejadian juga meluaskan caraku berpikir dan bertindak. Tidak terlalu cepat menjudge, terbawa emosi, tergesa - gesa mengambil keputusan, dan harus tetap tenang dalam situasi apapun. Tapi ternyata tidak semudah itu, hahahaha.
Yang pasti, pelajaran untuk kegiatan bersepeda hari ini adalah apapun yang kita lakukan, kita melakukannya untuk diri kita atau orang - orang terdekat kita, bukan untuk orang lain. Kita bukan pemuas pandangan atau penilaian orang lain, karena orang lain juga tidak akan memberikan reward saat kita memuaskan cara pandang atau penilaian mereka, yang ada hanya cibiran - cibiran.
Seperti penilaian dan pemikiranku awal - awal. Orang - orang bersepeda hanya untuk memamerkan kemampuan finansialnya, citranya, kekayaannya, kesanggupannya bertahan di masa pandemi. Tapi di satu sisi aku berpikir bahwa itu bukan urusanku. Begitu pun ketika aku merasa ditertawakan oleh orang - orang yang bersepeda dengan sepeda yang mewah dan mahal. Itu urusan mereka, bukan urusanku.
Ketika aku melihat abang - abang Starling yang berjuang untuk kehidupannya, aku merasa itu juga bukan urusanku. Tapi ketika hatiku tiba - tiba terketuk, tertohok hingga merasa tidak enak hati ketika berpapasan dengan abang Starling tersebut, mungkin itu pertanda dari Allah bahwa itu adalah urusanku. Mungkin ada sebagian rezeki abang Starling yang terselip dalam rezekiku saat itu. Karena, hampir setiap hari ada abang Starling yang nongkrong di sekitar kantorku, tapi tak ada rasa terketuk, tertohok, tidak enak hati atau keinginanku untuk membeli dagangannya. Atau mungkin memang aku saja yang kurang peka. Entahlah.
Aku sampai di rumah pukul 19.45 WIB. Anggap saja aku berangkat dari kantor pukul 16.30 WIB. Tiga jam lima belas menit. Lumayan.
Lumayan membuat pantatku tambah terasa sakit.
"Mau coba lagi ?" tanya istriku.
"Ampun. Cukup" jawabku melengos ke kamar mandi sambil memegangi pantatku yang masih terasa sakit.