Sebelumnya bersyukur dulu, akhirnya kesampaian untuk menuliskan ini. Setelah lebih dari sebulan lalu saya melakukan perjalanan panjang ke sebuah desa di perbatasan utara Indonesia: Senaning. Semoga bisa ada hikmah dan pelajaran yang bisa saya bagi dalam tulisan ini X)
Perjalanan ke Senaning menjadi salah satu perjalanan yang tidak akan bisa saya lupakan. Bukan hanya soal jarak yang ditempuh, rute jalan yang offroad, tetapi juga soal kehidupan di perbatasan.
Waktu itu kami berempat (saya, rekan saya, pandu desa, dan bapak supir) berangkat dari kota Pontianak pagi hari sekitar pukul 07.30. Armada yang akan membawa kami berpetualang kali ini adalah strada triton berwarna hitam. Kendaraan double gardan khusus jalanan offroad. Ganteng sekali. Perjalanan menggunakan jalur darat akan ditempuh sekitar 9-10 jam. Semacam Jakarta ke kampung halaman di Lampung. Haha.
Pilihan dengan jalur darat sepertinya memang pilihan terbaik, pasalnya jika menggunakan pesawat pun akan sama. Bandara terdekat dari Senaning adalah Sintang (ibukota Kabupaten), namun dari Sintang ke Senaning juga harus ditempuh dengan jalur darat selama 6 jam. Maka kami dan jalanan offroad dan strada ganteng adalah jodoh.
Gelisah? Gusar? Takut? Tentu ada. Ini pertama kalinya saya akan menjelajah pedalaman Kalimantan Barat, di jalanan offroad selama berjam-jam lamanya. Wilayah yang mungkin masih sangat kental dengan budaya dan adat Dayak. Belum lagi jika hujan turun, maka kami akan dipastikan tidak bisa melanjutkan perjalanan, lalu harus menginap di tengah belantara hutan. Oiya, dan satu lagi. Saya satu-satunya wanita dalam tim ini.
Tapi, setiap perjalanan harus dinikmati bukan?
Maka berbaik sangka sajalah. Bawa hepi hepi. Pikir saya.
Maka berangkatlah kami, diawali dengan doa dan selfie-selfie alay di depan strada ganteng. Selama sekitar 3 jam perjalanan awal, jalan masih sangat mulus. Dua tiga desa terlewati. Rumah-rumah dan warung dan kendaraan masih banyak terlihat. Sempat pula satu orang menumpang strada kami menuju rumahnya yang nun jauh dari tempat awal ia naik. Sampai pada akhirnya di suatu persimpangan, kami mulai memasuki jalanan berbatu, kemudian jalanan mulus sedikit, lalu jalanan berbatu lagi. Belum apa-apa, kata bapak pandu desa.
Dalam perjalanan keberangkatan ini, kami memutuskan untuk singgah di Entikong. Desa yang menjadi pintu gerbang perbatasan Indonesia-Malaysia. Jalanan yang kami lalui saat itu pun bernama Jalan Malindo (Malaysia-Indonesia). Beberapa kali kami berpapasan dengan bus antar negara: Pontianak-Sarawak-Brunei. Kata bapak pandu, : “Indonesia bisa malu kalau jalan negara ini jelek.”
“Nanti ketika di Entikong, kalian akan jadi tahu istilah tanah surga dan neraka.”
Kira-kira begitu kalimat deskripsi dari Bapak Pandu mengenai Entikong dan Tebedu (Wilayah di Perbatasan Malaysia). Kami sampai di gerbang perbatasan Indonesia-Malaysia sekitar pukul 13.00. Tanpa passport, kami berniat masuk hingga pasar *lupa namanya* di wilayah Tebedu. Pasar yang dimaksud ini hanya berjarak sekitar 500 m dari pintu perbatasan, dan di pasar ini uang rupiah dan ringgit secara resmi dijadikan mata uang. Termasuk zona bebas, begitu kira-kira. Karenanya, pemeriksaan passport tidak dilakukan karena tujuan kami hanya ke pasar tersebut. Hmm, mungkin juga karena Pak Supir kami berwajah Malaysia. Haha.
Memasuki wilayah Tebedu, Malaysia, baru sebentar saja belum sampai 10 m, kondisinya jauuh berbeda dengan Entikong. Jalanan mulus, kanan-kiri rapi, tidak ada rumah-rumah di pinggir jalan, tidak ada bangunan-bangunan tua dan rusak. Yang ada pepohonan tinggi yang rimbun. Agak jauh sedikit, kami membelokkan mobil kami melalui jalanan yang lebih kecil tapi masih sama: rapi. Jika di Indonesia, semacam jalanan di komplek elit. “Ini mah desanya kalau di mereka”. Begitu kata Pak Supir. Setelah berkeliling sebentar, kami langsung memutuskan kembali menuju pintu gerbang perbatasan. Hanya melalui sekali pemeriksaan oleh aparat di wilayah Malaysia, kami sudah berada lagi di tanah air Indonesia.
“Itu tadi yang dikasih nama surga. Haha. Sekarang masuk lagi ke neraka. Nanti akan lebih keliatan lagi nerakanya.”
Kami tertegun. Lalu sedikit tertawa, agak miris.
Sekitar 30 menit perjalanan dari Entikong tepatnya di desa Balai Karangan, Pak Supir mengarahkan mobil ke arah Timur, memasuki sebuah jalanan yang coklat, becek, berlubang, dan naik-turun. Inilah awal dari perjalanan yang sebenarnya. Mobil mulai bergoyang-goyang mengikuti irama jalanan. Sesekali berhenti, menunggu truk di depan berjuang keluar dari jebakan kubangan yang dalam. Mobil sedan atau mobil-mobil cantik lainnya jangan coba-coba masuk sini ya :”
Sepanjang jalan, kanan kiri hanya ada ladang-ladang yang sepertinya tak punya tuan atau hutan-hutan sawit yang usianya sudah sekitar 5 tahunan. Sekali dua kali kami melewati sekelompok rumah sederhana. Saya sebut sekelompok karena memang hanya ada beberapa rumah di antara ladang-ladang dan hutan. Hari itu sudah menjelang sore, terlihat wanita-wanita pulang dari ladang dengan keranjang berisi hasil ladang di punggung mereka. Para lelaki tua bersantai di teras rumah dengan dada telanjang. Anak-anak pergi berlarian mandi ke sungai yang airnya kecoklatan tercampur limbah sawit. Oiya, anjing-anjing dan babi-babi juga turut meramaikan pemandangan di sepanjang jalan tanpa takut tertabrak. Karena sesungguhnya, kami yang lebih takut menabrak mereka. Sekali menabrak, denda untuk satu binatang yang tertabrak akan dihitung sesuai jumlah puting susu atau jumlah anak dan cucu dari si binatang. Celaka saja kalau kami menabrak nenek babi, dendanya bisa belasan sampai puluhan juta XD
“Kalau orang Senaning sini mau ke depan tadi, ke daerah Balai Karangan harus ngojek. Sekali ngojek 400-500ribu. Itupun kalau kenal.” Betapa jauhnya Senaning dari peradaban, bukan? :”
Hari itu, matahari sudah semakin bersembunyi di langit barat. Namun, kami masih terjebak di perjalanan dengan kanan kiri hanya hutan saja. Saat itu, strada kami sudah setengahnya penuh dengan lumpur. Badan sudah pegal karena seharian berada di dalam mobil dan setengah perjalanan harus bergoyang kanan kiri atas bawah di atas jalanan offroad. Kira-kira masih butuh waktu sekitar dua jam lagi untuk sampai di Desa Senaning. Perjalanan kami harus tertahan sekitar 15 menit karena di depan kami beberapa truk terjebak lumpur, tepat saat maghrib tiba. Namun hal yang harus kami syukuri kala itu adalah, hujan sedang enggan turun :D
Kami sampai di Desa Senaning pukul 19.30 setelah masuk keluar hutan. Kami menuju rumah Kepala Desa Senaning. Kami disambut hangat Bapak Ibu Kades. Perut lapar kami disambut dengan megah oleh Ibu Kades dengan masakan Ikan Tapa dan Ikan Baung, primadonanya sungai Kapuas. Tahu dan tempe justru menjadi makanan yang ‘mahal’ di wilayah ini.
Setelah berbincang mengenai rencana kami di Senaning esoknya, kami ‘curhat’ soal perjalanan kami ke Senaning dan mampir di Entikong. Pak Kades kemudian menunjukkan sebuah file yang berisi foto-foto perbandingan desa perbatasan di Indonesia dan Malaysia. Jauh berbeda antara infrastruktur jalan, bangunan rumah, dan bangunan sekolah antara dua negara. Sangat kontras. Sepintas tak heran jika orang sebut keduanya dengan surga dan neraka.
“Kalau lihat saudara-saudara kami yang tinggal di Malaysia, enak hidupnya. Bawa mobil semua. Orang sini juga banyak yang pindah kerja ke sana. Kalau kita pengen pindah, bisa saja Dek pindah. Tapi ya, saya masih cinta sama Indonesia.. Saya lahir di sini, besar di sini”
Ah, Bu Kades...
Malam itu kami pamit dari rumah Kades dengan rasa haru akan perjalanan hari itu. Pukul 22.30 kami sampai di sebuah penginapan. Satu-satunya penginapan di Desa Senaning.
Suatu pagi di Desa Senaning.
Saya terbangun dengan rasa penasaran akan halaman belakang penginapan. Pasalnya, malam saat kami sampai di penginapan, saya seorang diri (ya iyalah) mendapat jatah kamar paling ujung di satu lorong yang ujungnya adalah pintu belakang. Bukan pintu juga sih. Karena memang itu semacam jalan keluar tapi tanpa pintu haha. Dan hanya gelap yang terlihat dari lorong yang remang-remang. Otomatis kamar saya memang berada paling dekat dengan bagian gelap tersebut. Pertama kali memasuki kamar, saya cukup terkesan dengan suasana yang agak horor (drama). Fasilitas di kamar tersebut sudah tua dan berdebu. Jendela kamar masih terbuka. Lalu, hujan deras turun. Saya ingat betul, saat itu malam jumat. Menambah drama sekali.
Maka pagi itu saya bersemangat sekali mengunjungi halaman belakang. Daaan ternyata belakang penginapan tersebut adalah.. sungai besar lengkap dengan jembatan gantungnya. Wuhuuuuw. Sayangnya air sungainya berwarna coklat akibat limbah sawit. Sama seperti itu warna air yang keluar dari air bak mandi di penginapan.
Sambil menghirup udara pagi Senaning, saya mengambil gambar di berbagai sudut jalanan dan rumah-rumah. Hingga tiba-tiba seseorang memanggil kami dari sebuah warung kecil yang juga kedai di samping penginapan. Seorang lelaki paruh baya, seorang kakek yang telah beruban seluruhnya, dan seorang wanita paruh baya sedang mengiris mangga yang bisa saya pastikan adalah pemilik warung tersebut. Lelaki paruh baya memanggil kami dan mengajak kami bergabung di kedai tersebut. Kami tak bisa menolak. Apalagi ajakan lelaki paruh baya dan kakek beruban semakin bersemangat ketika tahu kami berasal dari Jakarta.
Kami disuguhi kopi dan mangga kuwini. Ini masih sangat pagi, saya pikir. Semacam sajian yang khas Melayu sekali. Senaning memang dominan dengan muslim, suku Melayu (di KalBar, setiap mereka yang muslim akan disebut Melayu meskipun mereka asli berdarah Dayak). Obrolan kami ringan mengalir mulai dari apa yang kami lakukan di Senaning sampai guyonan tentang cita-cita Kakek beruban menjadi presiden. Pertemuan kami diakhiri dengan lelaki paruh baya yang meminta nomor kami satu persatu.
Belakangan, Pandu desa kami memberitahu bahwa lelaki paruh baya tadi adalah intel. Sejak pagi sudah mengincar kami dengan berdiam di kedai di samping satu-satunya penginapan di Senaning. “Berita kita sampai di sini itu cepat menyebar. Kalau ada orang asing, Intel cepat gerak. Yah namanya juga di daerah perbatasan. Jangan salah juga, orang-orang di sini masing-masing punya senjata perang di rumahnya.”
Kami beranjak pulang dari Senaning setelah observasi selesai pada siang harinya. Perjalanan pulang, kami mengambil rute yang berbeda. Senaning-Sintang-Pontianak. Dan perjalanan pun akan tetap disuguhi dengan pemandangan yang sama seperti saat berangkat: hutan sawit, ladang, dan sekelompok rumah lengkap dengan anjing dan babinya. Sayang sekali, saya tak bisa menemukan bekantan, monyet, ataupun beruang madu selama melewati hutan. Ini bukan taman safari, kata teman saya mengingatkan.
Yaah, akhirnya bagi saya perjalanan menuju Desa Senaning sungguh mengharukan dan unforgettable. Tak hanya jauh dari peradaban. Senaning juga berkesan dengan penduduk yang bertahan dengan keterbatasan di negeri perbatasan. Bertahan di tengah-tengah godaan negeri seberang yang lebih menjanjikan. Sebagian berpindah. Sebagian bercukup dengan tinggal di tanah air. Tetap jadi tanah surga, bagi mereka.