Sesampainya di Pasar Extreme, pemandangan yang saya saksikan adalah potongan kepala dan tulang dada babi yang digantung, penuh darah tentunya.
Saya banyak mendengar bahwa orang Manado adalah pemakan segala daging. Mulai dari anjing, ular, tikus, mungkin juga monyet. Maka ketika berada di Manado, saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk membuktikan hal tersebut. Pagi itu, setelah mengunjungi Patung Jesus Memberkati, saya memutuskan untuk memesan taksi online untuk mengantar saya terlebih dahulu ke Makam Pahlawan Tuanku Imam Bonjol, baru kemudian menuju ke Tomohon. Tomohon adalah sebuah kota yang berjarak satu jam dari Kota Manado. Kebetulan, letak Makam Pahlawan Tuanku Imam Bonjol satu arah dengan jalan utama Manado-Tomohon.
Meskipun perjalanan ke Tomohon tidak dapat dipesan melalui aplikasi taksi online, bapak driver tanpa ragu memenuhi permohonan saya. Tanpa mematok harga, Bapak driver membebaskan saya untuk memberinya berapapun. Inilah salah satu bentuk keramahan orang Manado yang saya kagumi.
Jalan menuju Tomohon layaknya jalanan menuju Bandung. Berkelok dan diapit diantara bukit dan jurang. Sekitar 45 menit perjalanan, akhirnya Kota Tomohon âmunculâ dibalik perbukitan. Indah sekali dengan rumah-rumah dan pertokoan serta jalan-jalan yang diapit oleh perbukitan dan gunung berapi. Bapak driver meminta maaf karena tidak bisa menemani saya berkeliling Tomohon karena harus kembali ke Manado. Saya meyakinkan sang bapak bahwa Ia tidak perlu meminta maaf. Saya sudah berterima kasih sekali sang bapak mau mengantar saya tanpa argo dari aplikasi.
Inilah destinasi pertama saya di Kota Tomohon, tempat yang mengundang rasa penasaran saya; Pasar Beriman. Pasar ini layaknya pasar tradisional pada umumnya. Meskipun saat itu sudah pukul 11.00, pasar ini masih ramai dengan para penjual dan pembeli yang lalu lalang. Lokasinya yang berdampingan dengan Terminal Beriman membuat suasana pasar kian riuh.
Melewati gerbang pasar, di kanan-kiri jalan terdapat berbagai penjual ikan cakalang yang diasapi dan sayur-sayuran. Saat memasuki pasar lebih dalam, saya bertanya pada seorang wanita di mana letak Pasar Extreme. Wanita yang sudah hampir lanjut usia tersebut menyuruh saya untuk berjalan ke arah kanan. Pasar Extreme adalah bagian dari Pasar Beriman yang menjual berbagai daging untuk dikonsumsi. Jika beruntung, saya bisa melihat daging ular, kelelawar, atau anjing yang dijajakan.
Sesampainya di Pasar Extreme, pemandangan yang saya saksikan adalah potongan kepala dan tulang dada babi yang digantung, penuh darah tentunya. Belum merasa jijik, saya memutuskan untuk menyusuri tiap kios daging tersebut. Seorang Bapak menegur saya, mungkin terheran dengan wanita berkerudung yang berkeliling sendirian di tengah daging babi.
âCari apa nona?â
âHanya melihat-lihat saja, Pakâ jawab saya sambil tersenyum dan melanjutkan ke kios berikutnya.
Sayangnya saya hanya melihat deretan kepala babi, atau yang sedikit berbeda, babi hutan yang penuh dengan bulu hitam. Awalnya, saya kira saya akan sanggup mengambil gambar. Ternyata kaki saya sudah lemas dan saya tak bisa lama-lama lagi berada disekitar arena mutilasi babi tersebut. Keluar dari kios-kios daging, saya mendengar seorang ibu-ibu menjajakan jualannya.
âTikus.. tikus.. tikus!â
âDaging Tikus Bu? Berapa Ibu jual?â Tanya saya setelah mendekat. Kali ini penampakan dagingnya lebih manusiawi. Tikus berukuran kira-kira dua genggam tangan orang dewasa dibakar sampai hitam seluruhnya dan ditusukkan ke sebuah bambu.
âDua puluh lima ribu saja satu ekorâ jawab si Ibu sambil mengipasi tikus-tikusnya.
Merasa tidak menemukan apa-apa lagi, saya memutuskan mencari ojek pangkalan untuk mengantar saya ke destinasi berikutnya. Setelah bersepakat dengan harga, saya naik ke boncengan dan si bapak memutar stang untuk melewati tengah pasar. Saat itulah saya melihat ada daging musang bakar yang baru datang.
âCoba mba esok datang lagi, karena Sabtu biasanya itu lebih lengkap. Ada kelelawar, ular, anjing, musang, semua ada hehehe.â
Saya hanya tertawa mendengar usulan sang Bapak. Hari itu saya lagi-lagi berbangga dengan keunikan Indonesia di tengah keramah-tamahan bumi Minahasa. Jika suatu hari harus datang lagi, maka saya tidak akan bisa tidak mengiyakannya.
âŸIjen yang Gigih⟠Ijen memang bukan jalur pendakian tersulit dan terlama yang pernah saya alami. Tapi Ijen, dengan segala kejutannya, mengajarkan saya banyak hal tentang kegigihan. Tengah malam itu, bersama banyak pengunjung domestik dan asing, saya mengejar waktu sebelum subuh untuk sampai di puncak. Di bawah gemintang yang semarak dan angin gunung yang kencang, kami berjalan di atas tanah menanjak berpasir dan licin. Fokus pada pijakan kaki membuat kami lupa pada kantuk. Tidak sekali dua kali kami kepayahan dan habis napas. Bahkan saya pun merasa mual di tengah perjalanan. Beberapa orang harus menyerah dan memilih "ojek troli" yang ditarik dan didorong oleh dua hingga tiga pengojek khas ijen untuk sampai ke atas. Satu setengah jam dilalui untuk sampai puncak, dan setengah jam lagi untuk turun ke bawah melewati jalanan berbatu dan curam untuk sampai ke kawah. Lelah ditengah dingin yang menggigit. Tapi tak urung untuk membuat berhenti. Saya jadi yakin, tiap pejalan di Ijen punya kegigihan yang kuat karena satu tujuan yang ingin mereka dapati; menyaksikan langsung si fenomenal Blue Fire. Ijen juga menjadi khas dengan para penambang belerangnya. Bapak -yang saya lupa namanya-, setiap hari harus naik ke puncak dan menambang belerang, yang baunya menyengat dan asapnya pedih jika mengenai mata. Setiap hari, sebanyak tiga kali, membopong sekitar 80-90kg belerang. Terdengar mustahil, tapi sang Bapak punya kegigihan yang kuat karena satu tujuan yang ingin beliau dapati; keberkahan rezeki. Secara umum pun kita menyadari, tiap-tiap insan di dunia juga gigih dalam menyembah-Nya untuk satu tujuan; kasih sayang dan keridhaan Sang Maha Pengasih. Para pendaki, para penambang belerang, dan akhirnya tiap manusia pasti punya alasan untuk tetap gigih menjalani hidupnya; cita-cita. Jadi, sudah sekuat apa cita-cita kita untuk membuat kita gigih meraihnya? #selfreflection #selftought #traveling #solotraveler #ijencrater #banyuwangi #HelloBanyuwangi #wonderfulindonesia (at KAWAH IJEN)
Saya ingin bertutur agar saya semakin yakin bahwa gagal tidaklah seburuk yang saya sangka.
Semua orang paham bagaimana rasanya mengalami kegagalan. Bagaimana pahitnya, durjanya, dan seketika muncul perasaan rendah pada kemampuan diri sendiri. Saya? Jangan ditanya. Belum 24 jam terlewat, saya baru saja mendapatkan notifikasi gagal dalam sebuah event internasional. Kesekian kali saya mendapat email yang memberitahukan kegagalan saya. Yang bahkan terkadang hanya saya balas dengan tawa getir pada diri saya sendiri.Â
Tentu saya menyadari, banyak hal yang sering saya sepelekan, mengerjakan apa adanya. Jika hasilnya keluar, Â ya sudah maka saya tidak akan bermuram lama-lama.Â
Tapi akhir-akhir ini saya selalu memikirkan si gagal. Baru-baru ini saya tengah mengikuti seleksi beasiswa melanjutkan pendidikan tinggi. Sudah dua kali saya mendaftar untuk dua beasiswa yang berbeda, dan dua kali itu pula saya gagal. Saya tak memungkiri kalau saya sedih pada seleksi beasiswa yang terakhir saya coba. Saya benar-benar menghayati dalam proses pembuatan aplikasinya. Yang lebih menyedihkan adalah karena saya termasuk orang-orang yang gagal dalam proses seleksi psikotes, sesuatu yang kata banyak orang proses seleksi yang sangat konyol.Â
Well, saya tidak ingin membahas soal proses seleksinya hehe. Cerita soal kegagalan ini juga saya tuliskan bukan karena saya ingin terdengar cengeng. Saya hanya ingin mencoba berdamai dengan si gagal, dengan tidak menutupinya. Dengan tidak meratapinya. Saya ingin bertutur agar saya semakin yakin bahwa gagal tidaklah seburuk yang disangka. Saya ingin mensugesti diri saya sendiri.
Akhir-akhir ini saya banyak membaca soal kegagalan mereka yang mendaftar banyak beasiswa, mereka tulis dalam introspeksi mereka beberapa waktu ke belakang. Bagaimana sebuah kegagalan membawa mereka tetap yakin untuk terus berjuang dan akhirnya mendapat jalan yang terbaik untuk menempuh pendidikan yang mereka jalani saat ini.
Di banyak grup whatsapp pun saya temui cerita-cerita motivasi menghadapi kegagalan. Yang akhirnya membuat saya paling tertohok adalah pengingatan pada skenario terbaik yang Dia punya. Ikhtiar kita itu jelas sekali punya andil besar pada hasil. Saya diingatkan sekali lagi kalau itu bukan apa-apa jika tanpa penyertaan-Nya.Â
Allah pasti punya rencana yang lebih baik dalam mewujudkan mimpi dan kebutuhan kita.Â
Terdengar basa-basi ya? Haha. Tapi dengan pengingatan ini, saya tidak ingin menjadi hamba yang kufur. Saya ingin terus diingatkan bahwa saya tidak boleh luput bersyukur dengan apa yang sudah saya dapatkan hingga saat ini. Bahwa ikhtiar yang berlanjut adalah upaya saya untuk terus mengejar ârencana terbaik-Nyaâ .
Suatu saat tentu saya ingin berbagi cerita tentang keberhasilan yang akhirnya saya raih. Tapi saya juga tidak ingin merutuki diri saya sendiri ketika masa depan tidak sesuai dengan apa yang saya bayangkan hari ini. Saya akan tetap bertutur tentang apa yang saya pikirkan dan apa yang saya jalani. Saya tidak ingin menipu wajah diri saya sendiri dengan melulu suka cita dan gempita.Â
Karena saya harus meyakini, bahwa duka akan mengantarkan syukur yang berlipat saat suka datang.
Karena saya juga harus meyakini, bahwa gagal akan mengantarkan pada ikhtiar yang lebih khusyuâ untuk menjemput keberhasilan.
Saya harus yakin, penyertaan-Nya akan membuat âsabarâ terasa lebih nikmat :â)
Selimut debu, selubung gunung, derai tangis, dan desing pertempuran, membungkus wajah Afghanistan yang sebenarnya--negeri kuno dengan peradaban agung yang terkubur.
Setelah sekian lama saya menunda baca buku-bukunya Mas Agus (hmm karena harga bukunya juga sih yang lumayan haha) akhirnya kesampaian juga untuk dapatin bukunya Mas Agus berjudul âSelimut Debuâ dengan harga yang murah bangets di tumpukan sebuah bazar buku!Â
daan selesai juga dengan buku pertamanya mas Agustinus ini. Well, telat banget sih emang haha. Buku ini terbitan 2010, ditulis oleh masnya setelah bertahun-tahun berpetualang di sebuah negeri yang hampir terlupakan; Afghanistan.
and, Im soooooo in love with this book!! *.*
Tanpa perlu berada langsung di negeri penuh kecamuk perang bernama Afghanistan, lewat tulisannya Mas Agus, saya bisa menginderai langsung bagaimana setiap harinya hanya ada lautan debu, dentuman bom dimana-mana -yang sudah menjadi sesuatu yang biasa bagi Afghan (sebutan bagi orang Afghanistan)-, kekhawatiran akan penculikan dan pembunuhan oleh Taliban, kesusahpayahan mengarungi jalanan Afghanistan yang tidak manusiawi, naik-turun truk, mendaki gunung-lewati lembah. Tidak hanya itu, saya pun ikut hanyut terpesona pada indahnya Lembah Wakhan di sudut negeri dengan keramahtamahan para penduduknya pada seorang musafir.Â
Bagi orang asing, âmelancongâ di negeri Afghanistan tentu bukan perkara mudah. Nyawa bisa menjadi taruhan setiap harinya. Dalam tulisannya, Mas Agus tidak hanya sekali dua kali hampir mendekati ajal. Tetapi, seluruh penjuru negeri harus tetap ia âtaklukkanâ. Semata-mata adalah demi pelajaran yang ditawarkan begitu banyak oleh kehidupan di Afghanistan. Setidaknya itu yang saya rasakan, sebagai pembaca.Â
Dan memang itu yang menjadi tujuan seorang explorer, seorang pengembara kan? Pelajaran hidup yang mahaaaal harganya dari sebuah perjalanan.
Intinya, menyusuri buku Mas Agus satu ini membuat saya seperti menyusuri seluruh jati diri Afghanistan, geografinya, sosial-politiknya, kesenjangan ekonominya, hingga adat-budaya yang.. wow surprising! banyak yang membuat saya takjub.
Sejauh ini, selain Mba Windy (author of âLife Travelerâ), Mas Agus menurut saya adalah the best-the-favorite-traveler-writer-...ever!
*penting
oiya, tulisan-tulisan Mas Agus juga bisa dinikmati di agustinuswibowo.com
*wk, promo abis*
Tulisan kali ini dipersembahkan untuk Jimny Hilda Fauzia aka Hilda. Mboya, kalau saya yang manggil *ampun Mboy :p. Tepat hari ini, mboya resmi meninggalkan Depok. Menuju kota kelahiran di Kediri. Hiks.Â
Mengenal Mboy itu sejak pertengahan tahun 2012, semenjak kami dipersatukan di asrama Rumah Kepemimpinan. Gadis Kediri kelahiran 94 ini ternyata masuk UI di tahun 2010, lebih cepat 2 tahun dibanding usia rata-rata. Jadi semacam senior tapi gak senior-senior banget. Angkatan tua tapi masih yang polos-polos unyu gitu wkwk.Â
Selama di asrama, mboy termasuk salah satu panutan. Jelas, karena dia jadi salah satu (dari sedikit) Tiara yang rajin, tidak suka bolos, dan taat peraturan. haha. Buktinya, dia sukses jadi presiden asrama! dan dia juga sukses jadi supervisor angkatan 7! yeah!
Untuk saya pribadi, Mboy juga jadi teladan dalam setiap ibadah-ibadah yaumiyah, dalam hafalan quran, dan dalam hal berbagi pada sesama :â)
Well, saya bersyukuur sekali untuk bisa mengenal, untuk pernah tinggal bersama selama dua tahun, dan untuk bisa bersaudara dengan Mboy. Harus sebanyak apa ya terima kasih dari Adia untuk setiap kebaikan dan inspirasi dari sosok Mboy? :â3Â
Terima kasih juga untuk jadi teman main yang setia (dan foto itu tepat diambil setelah kita main bareng gak jelas di pasar malam Kelapa Dua wkwk), teman karaoke âcount on me like 123âČ di asrama, dan juga teman yang sangat diandalkan untuk jadi alarm! *you-know-exactly-what-i-mean*
Mohon maafkan ya Mboy kalau selama ini, saya jadi teman yang sering merepotkan, sering usil, sering bully XD. Maaf kalau selama sepuluh hari terakhir ini belum bisa jadi tuan rumah yang baik :(. Semoga Mboy ikhlas hahaha *mintaditimpuk.
Semangat menggapai mimpi, Mboy! Semoga berkah dan dilancarkan selalu proses ânyantriânya! See you in a joyful moment, weâre waiting for your invitation! :p
Before you begin Tahjjud, make a list of duâas for everything you desire. This can be as long or short as you like. It is useful to place these duas under a few headings to make it easier for you to remember them.
Have a list of goals you want to achieve, even if they are small. Be sure to include your goals in your dua list so Allah  can help you be productive in achieving them.
Sore hari itu sebelum naik kereta kepulangan, salah satu rekan saya mengucapkan kalimat terakhir sebelum kami naik ke gerbong yang berbeda.
âTapi aku belum melihat kegigihan kamu..â
â...mungkin..â Saya tidak tahu harus menjawab dengan kata apa lagi.
Di dalam kereta yang penuh sesak, saya benar-benar memikirkan satu kalimat tersebut. Apa yang rekan saya bilang, sepertinya memang menggambarkan betul-betul diri saya. Tak hanya dalam satu hal yang sedang saya hadapi, tapi juga dalam banyak perkara lainnya.Â
Jujur, menohok rasanya. Ketika saya seringkali mengakui bahwa saya punya banyak mimpi. Namun rasanya, kegigihan saya tak sebanyak mimpi yang saya tulis. Cepat mengalah, dan frase âlah yaudah lah yaâ sepertinya menjadi penyakit yang menghinggapi diri sampai pun sebesar ini. Pemalas ya kata lainnya? Hiks menyedihkan. Â
Kerisauan saya memang akhir-akhir ini semakin menjadi-jadi, mengingat perkara-perkara yang ingin saya kejar sungguh-sungguh sangat tidak mudah. serius. saya jadi mudah menangis dan melankolis sendiri. rasanya, ingin selalu dekat sajadah *halah*.Â
karena bagi saya sesulit itu. meskipun saya tidak ingin menjadi hamba yang lupa dan lalai bersyukur. saya belum punya kepercayaan diri untuk bilang âbisaâ. karenanya, kegigihan saya untuk berjuang pun belum terbit. Saya sadar, saya harus mencari keyakinan. dan memperjuangkan kegigihan itu sendiri. Saya mencari sebab, kenapa saya seringkali kehilangan si âgigihâ.
***
Setiap pagi juga, saya menggunakan kereta menuju kantor. Pagi itu, saya berdiri bersandar pada salah satu pintu kereta. Perhatian saya tertuju pada seorang ibu yang duduk di bangku prioritas bersama anaknya yang masih balita.
Seperti balita pada umumnya, anak tersebut aktif berjalan kesana kemari. rupanya sang ibu, tidak suka melihat anaknya âkeluyuranâ. Maka dia berkata pada sang anak, âEh ayo sini, gak boleh jalan-jalan, nanti dimarahin pak polisi (red; petugas keamanan di dalam kereta) loh. Hiiiiy serem lohâ
Kalimat yang sering sekali kita dengar sebagai sebuah âancamanâ bagi si kecil supaya diam. Mungkin kita sendiri juga sering mengucapkannya pada adik atau saudara atau anak tetangga atau anak sendiri-jika sudah punya. Seketika saya membayangkan jika saya menjadi si anak, maka saya akan terus berpikir bahwa Pak Polisi, atau orang-orang asing adalah orang yang menakutkan. Jangan berjalan-jalan sendiri, karena itu berisiko. Itu hanya satu contoh.
Maka saya pun tersadar, saya adalah salah satu si kecil yang seringkali ditakut-takutkan dengan berbagai risiko dan kegagalan. Seingat saya, sejak kecil jarang sekali saya diizinkan untuk berada dalam kondisi yang sulit dan harus saya selesaikan.Â
Saya tak dipaksakan untuk berpuasa full meskipun saya sudah hampir 7 tahun. Saya tak diharuskan menyelesaikan pekerjaan rumah jika memang saya merasa tak bisa. Dan, saya seringkali diberi pekerjaan yang mudah mudah saja diantara anggota keluarga yang lain agar saya tidak kesulitan.
Tentu, saya tidak ingin semata menyalahkan orangtua dan lingkungan saya dibesarkan *doa kebaikan dan keberkahan untuk mamapapa*. Bagi saya mereka sudah terlalu baik dan hebat untuk bertahan dengan anak semacam saya ._. Adalah sebuah kewajaran, jika dalam asuhan dan kasihsayang orangtua, kita akan menyimpulkan mana pola asuh yang baik, mana pola asuh yang kurang baik.Â
Ini menjadi satu refleksi tersendiri, bahwa nantinya, kegigihan dan keberanian harus diresapkan pada seseorang sejak masih muda, seusia dini mungkin. Bahwa si kecil harus dipenuhi dengan kalimat-kalimat yang menyemangati, bukan yang menakut-nakuti. Dan bahwa si kecil, harus diberi ruang-ruang kepercayaan, agar mereka mampu menanggung masalah dan berani mencoba menyelesaikannya. Pun ketika gagal, mereka akan belajar kegigihan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. *tetiba jadi sotiy soal parenting gini*
***
Akhirnya, saya -yang sudah sebesar ini- harus sadar, kegigihan pun harus saya perjuangkan terlebih dahulu. saya ikhtiarkan. saya doakan dalam malam-malam Ramadhan.Â
Agar saya bukan sekadar mengangankan hasil. Agar upaya dan kerja keras saya yang tidak nihil. Semoga.
Dompet Dhuafa melakukan eksperimen sosial yang memberikan gambaran
tentang penghasilan anak-anak muda sukses di Bandung. Pertanyaan terakhir eksperimen ini mengejutkan mereka.
The time during the month of Ramadan is blessed and more than just precious. It is a golden opportunity to seek closeness to Allah. Before we know it, this month of mercy and forgiveness will be over. Itâs already a week since it began Subhan'Allah. We should try and spend every moment possible in the worship of Allah so that we can make the most of this blessing. Avoid getting into unwanted conversations instead use the time to recite a lot of Quran and avoid oversleeping so that you get enough time to pray the nafil prayers. For more visit www.lionofAllah.com âââââââââââââ- Tell us why would you like to be a part of TEAM LOA at [email protected] with the subject STAFF
The Qurâan is the nourishment of every personâs soul, the light of the heart and guidance to the straight path.
Allah SWTÂ says:
âIndeed, this Qurâan guides to that which is most suitable.â
[Qurâan: Chapter 17, Verse 9]
Whenever you feel like you are losing your energy and that your performance is starting to drop, quickly turn to the Qurâan and you will always find a way out. The Qurâan explains what a person can do to recharge oneâs Iman. Whenever you open the Qurâan: recite at least one verse of it, and look for help in that verse because there is guidance in every verse of the Qurâan.
For more visit www.lionofAllah.com âââââââââââââ- Want to be a part of Team LOA? Drop an email at [email protected] with the subject STAFF
Setelah sekian laamaa gak menulis di sini *niupin debu*, tetiba kangen rasanya untuk share sesuatu :)
well, sampai hari ini, terhitung tiga bulan sudah saya menjadi bagian dari tcsc-iakmi. banyak yang bingung itu apaan ketika saya sebutin namanya hehe. jadi tcsc ini adalah sebuah unit kerja di bawah organisasi profesi kesmas yang fokusnya di pengendalian tembakau, atau kadang juga boleh disebut sebagai NGO (Non-Government Organization).
Seperti NGO umumnya, orang di kantor gak banyak, bisa dihitung dengan jari. bahkan yang stay everyday di kantor cuma dua orang (salah satunya saya). tambah satu orang mba-mba CS baik hati. Dan, di kantor pun satu-satunya yang masih muda dan satu-satunya yang single cuma saya. Betapa sepinya kaan, dan betapa saya ga punya temen main di kantor #plak. Ketua NGO saya pun seorang Bapak sepuh yang berdedikasi sekali. Bapak kayaknya sekarang usianya sudah 70an sekian tahun~
Oiya, dua orang yang senantiasa di kantor yang tadi saya sebut, satu lagi adalah ibu-ibu baik hati, yang usianya juga udah sangat gak muda lagi. udah punya cucu-cucu yang unyu. Panggil sajalah Bu Ri. Bu Ri ini adalah kepala bagian operasional. Jadi, most of the kerjaan printilan kantor itu dikerjain sama Bu Ri. Saya kerjanya ya bantu-bantuin dan nyemangatin Bu Ri lah kira-kira :3
Jadi kalau di kantor itu, rasanya saya jadi anak yang paling kecil. Bapak sama Ibu udah kayak emakbapak sendiri, atau bahkan mbah akung mbah uti. Yang lucu adalah ketika Bapak sama Ibu udah sering lupa misal taruh ini di mana itu di mana atau kadang lupa hari ini ada rapat atau gak atau kadang bahkan salah tempat rapat , kadang jadi lawakan sendiri XD *ampun Pak, Bu!
Meskipun usia udah senja, tapi Bapak sama Bu Ri ini masih lincah kesana kemari. Hari ini rapat dengan si ini, besok rapat di sana. Saya sering berpikir, Bapak sama Bu Ri ini kenapa masih begitu semangat ya, apalagi yang diperjuangkan itu bukan sesuatu yang ngasilin uang buanyak. Malah yang diurusin itu sesuatu yang hmm katakanlah mahasyulit. you know lah kalau perangnya sama industri rokok.
Suatu hari, saya pernah iseng nanya sama Bu Ri, âBu, kok ibu mau sih sudah pensiun terus kerja lagi di sini?â. Jawabannya simpel. âDiminta bantuin sama Bu X, ya udah masa gak dibantuâ :)
Di beberapa kesempatan, saya kadang ikut ngintil Bapak rapat. Geng rapatnya Bapak macem-macem, dari yang masih mahasiswa, yang pemuda-pemudi, yang om-tante, sampai yang akhirnya membuat saya tambah salut adalah geng rapatnya Bapak juga Prof-Prof kece yang usianya udah 80an sekian tahun.Â
Akhirnya karena hampir setiap hari ketemunya sama bapak-ibu, yah atau mbahuti-mbahakung, saya jadi sering dengar cerita masa muda mereka, dan akhirnya mencoba mengambil sebanyak-banyaknya nasihat dari bijaknya orangtua. Bapak sama Ibu juga sering sekali ngasih motivasi supaya saya sekolah lagi. hmm yah, lalu saya juga jadi sering inget mamapapa di rumah. kangen!Â
Saya pikir, sama sekali ga buruk ketika kondisinya saya harus bergaul setiap hari sama mbahuti dan mbahakung yang âgaulâ! Semacam selalu ada pengingat: Malu dong kalau masih muda begini, tapi males-malesan.Â
Iya, iya, semoga saya selalu inget :3
There is a major barrier thatâs blocking many Muslims from getting closer to Allah and improving their relationship with Him. This barrier is losing hope in the mercy of Allah.Â
Sometimes people think that Allah will never forgive them because of the multitude of their sins. As a result, they slacken in performing their acts of worship and some even abandon them as they lose hope in attaining the mercy of Allah. However, Allah, The Exalted has said:
âSay, âO My servants who have transgressed against themselves [by sinning], do not despair of the mercy of Allah. Indeed, Allah forgives all sins. Indeed, it is He who is the Forgiving, the Merciful.ââ (Surah Az-Zumar, Ayah 53)â
Remember to repent and seek forgiveness before it is too late as we do not know the time of our departure from this world. Use Ramadan, the best of months to remove such feelings from your heart and always keep your hopes high with Allah.Â
For more visit www.lionofAllah.com
Based on a survey conducted by Heidi Pribe. Â âThe Five Love Languagesâ is a theory by Gary Chapman, in which he outlined five ways to express and experience love.Â
INTP: Quality Time (41.32 %)
To recognize the INTPâs love for you, look at how theyâre organizing their priorities. This type isnât fond of one-on-one socializing for the sake of it, so if theyâre setting aside time just for you, it is their way of showing they care. Once youâre closer to an INTP, you may find theyâre more comfortable expressing their affection through their less-preferred love languages of words of affirmation or physical touch. If theyâre expressing regular acts of verbal and physical affection toward you, youâll know that they finally feel comfortable around you â and for an INTP, thatâs big. Reciprocate their affectionate gestures and words while spending time together, in order to continue to strengthen your relationship.
ENTP: Quality TIme (29.61%)
As they grow more comfortable around you, the ENTP is likely to shower you with verbal and physical shows of affection as well.To receive love from an ENTP, notice the ways in which theyâre inviting you into their world. This wacky, off-the-wall type is perfectly fine exploring life independently â so if theyâre inviting you to explore alongside them, it means youâre important to them.
ISTP: Physical Touch (24.48%)
To appreciate an ISTPâs love for you, notice the tiny acts of affection they bestow upon you throughout the course of a day. This type doesnât feel comfortable touching just anyone, so if theyâre constantly making contact with you, itâs a good sign. Also take notice with the ISTP carves out time to spend one-on-one with you: this is their way of prioritizing your relationship and letting you know that you matter to them. Lastly, the ISTP is often quick to perform errands or small tasks on behalf of the people they care about â they want to make your lives a little easier, because they love you â even if theyâre hard-pressed to say it.
ESTP: Quality TIme (30.77%)
Although ESTPs are not known for being verbally affectionate, they are constantly displaying their love in covert ways. They are quick to make time for the people they care about, and to invite them into their worlds. If your ESTP is regularly involving you in activities they care about, chances are you mean something significant to them. This type also showcases their love through alleviating you of responsibilities â theyâll be quick to run an errand or fix a problem that youâre facing for you. At the end of the day, ESTPs are the ultimate âshowersâ (rather than tellers) when it comes to love â theyâll display their affection and care through actions first and foremost.
ISFJ: Quality Time (37.7%)
To receive love from an ISFJ, let them become a part of your day-to-day life and welcome their participation in your favourite activities. They show their love through harmonizing â that is, by expressing interest in what youâre interested in! Also be open to hearing âI love you,â on a regular basis â they love reminding others that they care about them deeply. Watch for little favours the ISFJ is doing for you â make sure to acknowledge and appreciate them, as they are the ISFJâs little ways of saying âI love you.â
ESFJ: Quality TIme (30.77%)
To receive love from an ESFJ, introduce them to the activities you love and invite them to participate! They want to be a part of your life just as much as youâre a part of theirs. Also, get comfortable hearing âI love youâ on a regular basis from them â this type loves letting their close ones know that theyâre appreciated. Last but not least, let the ESFJ help you out with the occasional chore or errand â they want to make your life easier and these kind-hearted gestures of practical help are their way of doing just that.
INFJ: Quality Time (35.67%)
To recognize the INFJâs love for you, be conscious of the time that they are setting aside to spend with you â this is their main method of expressing devotion. If the INFJ flatters or compliments you, take their words at face value â they have likely been thought out carefully and are meant sincerely. Lastly, accept and reciprocate your INFJâs acts of physical affection! This type isnât open to hugs or touches from just anyone, so if theyâre being affectionate with you, itâs their way of saying âI love you.â
ENFJ: Quality Time (32.28%)
To recognize an ENFJâs love for you, take particular notice as to whether or not theyâre setting aside time to spend with you specifically. Because they love doing things in groups, an ENFJ who singles you out as someone they want to spend one-on-one time with is an ENFJ expressing their affection. ENFJs also appreciate emotional vulnerability in their loved ones â by opening up to them and talking to them about whatâs going on with you, youâre letting the ENFJ love you in one of their favourite ways. Last but not least, never turn down a hug from an ENFJ! To them, physical affection is just another way of letting you know how great they think you are.
ISFP: Quality Time (24%)
ISFPs simply enjoy giving and receiving love in various forms! This caring, explorative type may genuinely feel torn between the various methods of expressing their love to others. One day it may be a thoughtful gift, the next a shower of complimentary words. The best way to love an ISFP may just be in every different way you can think of â after all, they appreciate variety in their lives and their relationships should be no exception.
ESFP: Physical Touch (37.5%)
To receive love from an ESFP, be open to giving and receiving regular acts of physical affection â this is their way of saying âI love you!â Also recognize when they are setting aside time for you and joining you in the activities you enjoy â this is another way of them harmonizing with you. Last but not least, expect to hear them praise you and express their love for you verbally or through notes and texts â they love to remind you that they love you!
INFP: Quality Time (35.19%)
Donât be afraid to receive love from your INFP in the same way as you give it! Though this type may not be outright in expressing how they feel right off the bat, if theyâre putting aside time to spend with you and engaging in activities you enjoy with you, itâs their way of saying, âIâm interested.â As they get to know you better, this type tends to enjoy using written words to express their feelings. They may leave you little notes, poems or letters that let you know how much they love you. Take their words and their shows of physical affection at face value â if an INFP says they love you, they mean it!
ENFP: Words of Affirmation (29.97%)
When it comes to being loved by an ENFP, be open to them expressing their affection to you verbally! This type is prone to flattering others to a borderline excessive extent, but donât brush off their comments as superficial â chances are, they really do feel as strongly about you as they claim to! Be open to them spending a great deal of time around you. And last but not least, reciprocate their physical affection â itâs their way of feeling that much closer to you.
ISTJ: Quality Time (36.17%)
To recognize an ISTJâs love for you, notice when theyâre putting aside time to spend with you one-on-one. This type is very deliberate with their schedule, so if theyâre factoring you in regularly, it means youâre important to them. Also notice when the ISTJ is going out of their way to alleviate you of tasks or responsibilities that you have piling up â they want to make your life run as smoothly as they possibly can, because they love you â even if they donât always say it.
ESTJ: Quality Time (36.36%)
If theyâre putting aside certain nights or blocks of time specifically to be around you, chances are they care for you a great deal. Additionally, this type may showcase their love through compliments, flattery and verbal affirmations. They arenât shy about sharing their appreciation of others â so if you want to know what theyâre thinking, just listen up!
INTJ: Quality Time (38.39%)
To receive love from an INTJ, notice the little things they are doing for you on a regular basis. If they are regularly setting time aside to relish in your presence, thatâs their way of implying that your company is valuable to them. This type is also prone to going out of their way to make sure you are happy and taken care of â whether that means running an errand for on a day when youâre busy or cooking you breakfast in the morning, appreciate these small acts of service â theyâre the INTJâs way of saying âI love youâ when they donât feel comfortable saying it explicitly.
ENTJ: Quality Time (32.28%)
To receive love from an ENTJ, notice the ways in which theyâre rearranging their schedule in order to spend time around you. They may not be quick to express their love overtly but theyâll do so by inviting you into their lives and sharing their interests with you. Also, be open to receiving physical affection from your ENTJ as you grow closer â they use touch as a method of expressing their love and appreciation for you.
Sebelumnya bersyukur dulu, akhirnya kesampaian untuk menuliskan ini. Setelah lebih dari sebulan lalu saya melakukan perjalanan panjang ke sebuah desa di perbatasan utara Indonesia: Senaning. Semoga bisa ada hikmah dan pelajaran yang bisa saya bagi dalam tulisan ini X)
Perjalanan ke Senaning menjadi salah satu perjalanan yang tidak akan bisa saya lupakan. Bukan hanya soal jarak yang ditempuh, rute jalan yang offroad, tetapi juga soal kehidupan di perbatasan.
Waktu itu kami berempat (saya, rekan saya, pandu desa, dan bapak supir) berangkat dari kota Pontianak pagi hari sekitar pukul 07.30. Armada yang akan membawa kami berpetualang kali ini adalah strada triton berwarna hitam. Kendaraan double gardan khusus jalanan offroad. Ganteng sekali. Perjalanan menggunakan jalur darat akan ditempuh sekitar 9-10 jam. Semacam Jakarta ke kampung halaman di Lampung. Haha.
Pilihan dengan jalur darat sepertinya memang pilihan terbaik, pasalnya jika menggunakan pesawat pun akan sama. Bandara terdekat dari Senaning adalah Sintang (ibukota Kabupaten), namun dari Sintang ke Senaning juga harus ditempuh dengan jalur darat selama 6 jam. Maka kami dan jalanan offroad dan strada ganteng adalah jodoh.
Gelisah? Gusar? Takut? Tentu ada. Ini pertama kalinya saya akan menjelajah pedalaman Kalimantan Barat, di jalanan offroad selama berjam-jam lamanya. Wilayah yang mungkin masih sangat kental dengan budaya dan adat Dayak. Belum lagi jika hujan turun, maka kami akan dipastikan tidak bisa melanjutkan perjalanan, lalu harus menginap di tengah belantara hutan. Oiya, dan satu lagi. Saya satu-satunya wanita dalam tim ini.
Tapi, setiap perjalanan harus dinikmati bukan?
Maka berbaik sangka sajalah. Bawa hepi hepi. Pikir saya.
Maka berangkatlah kami, diawali dengan doa dan selfie-selfie alay di depan strada ganteng. Selama sekitar 3 jam perjalanan awal, jalan masih sangat mulus. Dua tiga desa terlewati. Rumah-rumah dan warung dan kendaraan masih banyak terlihat. Sempat pula satu orang menumpang strada kami menuju rumahnya yang nun jauh dari tempat awal ia naik. Sampai pada akhirnya di suatu persimpangan, kami mulai memasuki jalanan berbatu, kemudian jalanan mulus sedikit, lalu jalanan berbatu lagi. Belum apa-apa, kata bapak pandu desa.
Dalam perjalanan keberangkatan ini, kami memutuskan untuk singgah di Entikong. Desa yang menjadi pintu gerbang perbatasan Indonesia-Malaysia. Jalanan yang kami lalui saat itu pun bernama Jalan Malindo (Malaysia-Indonesia). Beberapa kali kami berpapasan dengan bus antar negara: Pontianak-Sarawak-Brunei. Kata bapak pandu, : âIndonesia bisa malu kalau jalan negara ini jelek.â
âNanti ketika di Entikong, kalian akan jadi tahu istilah tanah surga dan neraka.â
Kira-kira begitu kalimat deskripsi dari Bapak Pandu mengenai Entikong dan Tebedu (Wilayah di Perbatasan Malaysia). Kami sampai di gerbang perbatasan Indonesia-Malaysia sekitar pukul 13.00. Tanpa passport, kami berniat masuk hingga pasar *lupa namanya* di wilayah Tebedu. Pasar yang dimaksud ini hanya berjarak sekitar 500 m dari pintu perbatasan, dan di pasar ini uang rupiah dan ringgit secara resmi dijadikan mata uang. Termasuk zona bebas, begitu kira-kira. Karenanya, pemeriksaan passport tidak dilakukan karena tujuan kami hanya ke pasar tersebut. Hmm, mungkin juga karena Pak Supir kami berwajah Malaysia. Haha.
Memasuki wilayah Tebedu, Malaysia, baru sebentar saja belum sampai 10 m, kondisinya jauuh berbeda dengan Entikong. Jalanan mulus, kanan-kiri rapi, tidak ada rumah-rumah di pinggir jalan, tidak ada bangunan-bangunan tua dan rusak. Yang ada pepohonan tinggi yang rimbun. Agak jauh sedikit, kami membelokkan mobil kami melalui jalanan yang lebih kecil tapi masih sama: rapi. Jika di Indonesia, semacam jalanan di komplek elit. âIni mah desanya kalau di merekaâ. Begitu kata Pak Supir. Setelah berkeliling sebentar, kami langsung memutuskan kembali menuju pintu gerbang perbatasan. Hanya melalui sekali pemeriksaan oleh aparat di wilayah Malaysia, kami sudah berada lagi di tanah air Indonesia.
âItu tadi yang dikasih nama surga. Haha. Sekarang masuk lagi ke neraka. Nanti akan lebih keliatan lagi nerakanya.â
Kami tertegun. Lalu sedikit tertawa, agak miris.
Sekitar 30 menit perjalanan dari Entikong tepatnya di desa Balai Karangan, Pak Supir mengarahkan mobil ke arah Timur, memasuki sebuah jalanan yang coklat, becek, berlubang, dan naik-turun. Inilah awal dari perjalanan yang sebenarnya. Mobil mulai bergoyang-goyang mengikuti irama jalanan. Sesekali berhenti, menunggu truk di depan berjuang keluar dari jebakan kubangan yang dalam. Mobil sedan atau mobil-mobil cantik lainnya jangan coba-coba masuk sini ya :â
Sepanjang  jalan, kanan kiri hanya ada ladang-ladang yang sepertinya tak punya tuan atau hutan-hutan sawit yang usianya sudah sekitar 5 tahunan. Sekali dua kali kami melewati sekelompok rumah sederhana. Saya sebut sekelompok karena memang hanya ada beberapa rumah di antara ladang-ladang dan hutan. Hari itu sudah menjelang sore, terlihat wanita-wanita pulang dari ladang dengan keranjang berisi hasil ladang di punggung mereka. Para lelaki tua bersantai di teras rumah dengan dada telanjang. Anak-anak pergi berlarian mandi ke sungai yang airnya kecoklatan tercampur limbah sawit. Oiya, anjing-anjing dan babi-babi juga turut meramaikan pemandangan di sepanjang jalan tanpa takut tertabrak. Karena sesungguhnya, kami yang lebih takut menabrak mereka. Sekali menabrak, denda untuk satu binatang yang tertabrak akan dihitung sesuai jumlah puting susu atau jumlah anak dan cucu dari si binatang. Celaka saja kalau kami menabrak nenek babi,  dendanya bisa belasan sampai puluhan juta XD
âKalau orang Senaning sini mau ke depan tadi, ke daerah Balai Karangan harus ngojek. Sekali ngojek 400-500ribu. Itupun kalau kenal.â Betapa jauhnya Senaning dari peradaban, bukan? :â
Hari itu, matahari sudah semakin bersembunyi di langit barat. Namun, kami masih terjebak di perjalanan dengan kanan kiri hanya hutan saja. Saat itu, strada kami sudah setengahnya penuh dengan lumpur. Badan sudah pegal karena seharian berada di dalam mobil dan setengah perjalanan harus bergoyang kanan kiri atas bawah di atas jalanan offroad. Kira-kira masih butuh waktu sekitar dua jam lagi untuk sampai di Desa Senaning. Perjalanan kami harus tertahan sekitar 15 menit karena di depan kami beberapa truk terjebak lumpur, tepat saat maghrib tiba. Namun hal yang harus kami syukuri kala itu adalah, hujan sedang enggan turun :D
Kami sampai di Desa Senaning pukul 19.30 setelah masuk keluar hutan. Kami menuju rumah Kepala Desa Senaning. Kami disambut hangat Bapak Ibu Kades. Perut lapar kami disambut dengan megah oleh Ibu Kades dengan masakan Ikan Tapa dan Ikan Baung, primadonanya sungai Kapuas. Tahu dan tempe justru menjadi makanan yang âmahalâ di wilayah ini.
Setelah berbincang mengenai rencana kami di Senaning esoknya, kami âcurhatâ soal perjalanan kami ke Senaning dan mampir di Entikong. Pak Kades kemudian menunjukkan sebuah file yang berisi foto-foto perbandingan desa perbatasan di Indonesia dan Malaysia. Jauh berbeda antara infrastruktur jalan, bangunan rumah, dan bangunan sekolah antara dua negara. Sangat kontras. Sepintas tak heran jika orang sebut keduanya dengan surga dan neraka. Â
âKalau lihat saudara-saudara kami yang tinggal di Malaysia, enak hidupnya. Bawa mobil semua. Orang sini juga banyak yang pindah kerja ke sana. Kalau kita pengen pindah, bisa saja Dek pindah. Tapi ya, saya masih cinta sama Indonesia.. Saya lahir di sini, besar di siniâ
Ah, Bu Kades...
Malam itu kami pamit dari rumah Kades dengan rasa haru akan perjalanan hari itu. Pukul 22.30 kami sampai di sebuah penginapan. Satu-satunya penginapan di Desa Senaning.
Suatu pagi di Desa Senaning.
Saya terbangun dengan rasa penasaran akan halaman belakang penginapan. Pasalnya, malam saat kami sampai di penginapan, saya seorang diri (ya iyalah) mendapat jatah kamar paling ujung di satu lorong yang ujungnya adalah pintu belakang. Bukan pintu juga sih. Karena memang itu semacam jalan keluar tapi tanpa pintu haha. Dan hanya gelap yang terlihat dari lorong yang remang-remang. Otomatis kamar saya memang berada paling dekat dengan bagian gelap tersebut. Pertama kali memasuki kamar, saya cukup terkesan dengan suasana yang agak horor (drama). Fasilitas di kamar tersebut sudah tua dan berdebu. Jendela kamar masih terbuka. Lalu, hujan deras turun. Saya ingat betul, saat itu malam jumat. Menambah drama sekali.
Maka pagi itu saya bersemangat sekali mengunjungi halaman belakang. Daaan ternyata belakang penginapan tersebut adalah.. sungai besar lengkap dengan jembatan gantungnya. Wuhuuuuw. Sayangnya air sungainya berwarna coklat akibat limbah sawit. Sama seperti itu warna air yang keluar dari air bak mandi di penginapan.
Sambil menghirup udara pagi Senaning, saya mengambil gambar di berbagai sudut jalanan dan rumah-rumah. Hingga tiba-tiba seseorang memanggil kami dari sebuah warung kecil yang juga kedai di samping penginapan. Seorang lelaki paruh baya, seorang kakek yang telah beruban seluruhnya, dan seorang wanita paruh baya sedang mengiris mangga yang bisa saya pastikan adalah pemilik warung tersebut. Lelaki paruh baya memanggil kami dan mengajak kami bergabung di kedai tersebut. Kami tak bisa menolak. Apalagi ajakan lelaki paruh baya dan kakek beruban semakin bersemangat ketika tahu kami berasal dari Jakarta.
Kami disuguhi kopi dan mangga kuwini. Ini masih sangat pagi, saya pikir. Semacam sajian yang khas Melayu sekali. Senaning memang dominan dengan muslim, suku Melayu (di KalBar, setiap mereka yang muslim akan disebut Melayu meskipun mereka asli berdarah Dayak). Obrolan kami ringan mengalir mulai dari apa yang kami lakukan di Senaning sampai guyonan tentang cita-cita Kakek beruban menjadi presiden. Pertemuan kami diakhiri dengan lelaki paruh baya yang meminta nomor kami satu persatu.
Belakangan, Pandu desa kami memberitahu bahwa lelaki paruh baya tadi adalah intel. Sejak pagi sudah mengincar kami dengan berdiam di kedai di samping satu-satunya penginapan di Senaning. âBerita kita sampai di sini itu cepat menyebar. Kalau ada orang asing, Intel cepat gerak. Yah namanya juga di daerah perbatasan. Jangan salah juga, orang-orang di sini masing-masing punya senjata perang di rumahnya.â
Kami beranjak pulang dari Senaning setelah observasi selesai pada siang harinya. Perjalanan pulang, kami mengambil rute yang berbeda. Senaning-Sintang-Pontianak. Dan perjalanan pun akan tetap disuguhi dengan pemandangan yang sama seperti saat berangkat: hutan sawit, ladang, dan sekelompok rumah lengkap dengan anjing dan babinya. Sayang sekali, saya tak bisa menemukan bekantan, monyet, ataupun beruang madu selama melewati hutan. Ini bukan taman safari, kata teman saya mengingatkan.
Yaah, akhirnya bagi saya perjalanan menuju Desa Senaning sungguh mengharukan dan unforgettable. Tak hanya jauh dari peradaban. Senaning juga berkesan dengan penduduk yang bertahan dengan keterbatasan di negeri perbatasan. Bertahan di tengah-tengah godaan negeri seberang yang lebih menjanjikan. Sebagian berpindah. Sebagian bercukup dengan tinggal di tanah air. Tetap jadi tanah surga, bagi mereka.
Sekitar dua pekan yang lalu, alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah Borneo untuk kedua kalinya, kali ini: Pontianak! Sebelumnya sama sekali tidak ada rencana atau sekadar imajinasi akan bisa berkunjung ke kota ini. Alhamdulillaah (semoga) rejeki anak sholihah, saya ditunjuk lagi menjadi salah satu tim observer desa perbatasan. Proyek yang merupakan garapan Kemenkominfo dan Ilead UI ini memang penuh kejutan, H-3 baru dikabari saya harus menjelajah pedalaman Kalimantan Barat selama lima hari. Dan akhirnya saya sempatkan untuk menulis sedikit cerita dari tanah Borneo Barat ini :â)Â
Izinkan pertama saya mengucapkan:
Selamat Datang di Kota Kuntilanak! XD
Kuntilanak dan Pontianak adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. hehe. Asal-usul nama kota Pontianak memang ada kaitannya dengan satu makhluk berambut panjang penuh teka-teki ini. Apakah artinya Pontianak kota yang menyeramkan? Hmm bisa jadi. Banyak hal di kota ini yang lekat dengan cerita misteri. Bahkan, sebelum berangkat pun, salah satu sahabat saya berkali-kali mengingatkan untuk pakai masker lah, hati-hati gak bisa pulang, hati-hati kalau tetiba dilempar selendang, dan sekian hati-hati lainnya XD
Sesampainya di Pontianak, saya beserta 9 orang lainya yang merupakan tim observasi Kalbar beristirahat satu malam di sebuah hotel di pusat kota Pontianak, tepatnya di Jalan Gajah Mada yang menjadi âsurganyaâ kuliner Pontianak. Nyum! :p
khas Pontianak: Pisang Goreng Sarikaya dan Jeruk Kecil
Jeruk kecil dan pisang goreng sarikaya menjadi santapan paling berkesan pada hari pertama saya di Pontianak. Jangan salah, minuman jeruk kecil ini tentu berbeda dengan es jeruk atau jeruk hangat yang berwarna sangat kuning dan sangat manis yang biasa kita temui di warteg-warteg atau restoran di ibukota. Minuman ini, hampir seperti murni perasan jeruk: segar, sedikit asam, intinya manis bukan jadi rasa yang mendominasi. Begitu minum dalam kondisi hangat, percayalah hangatnya sampai menyentuh relung dada hingga sampai ke dalam perut hehe.
Sungguh tidak akan sulit untuk menemukan minuman jeruk kecil karena ia, bisa jadi, menjadi minuman primadona, setelah kopi tentunya. Untuk pisang goreng sarikaya mungkin hanya akan ada di beberapa tempat saja. Saya bukan penggemar sarikaya, tapi pisang goreng ini secara keren bisa mengubah persepsi lidah saya akan sarikaya haha. Jika beruntung, mungkin bisa menemukan pisang goreng selai durian :â).
Oiya, bicara mengenai kafe-kafe yang ramai ketika malam semakin gulita, saya sedikit menyimpulkan bahwa kopi dan obrolan-obrolan malam setidaknya menjadi budaya bagi masyarakat Pontianak. Setiap malam, kafe-kafe berkursi plastik itu akan ramai di atas pukul 20.00, tidak peduli weekend ataukah weekdays. Asap-asap rokok biasanya mengepul di antara obrolan mereka mengenai pertandingan sepak bola yang sedang atau telah berlangsung, atau tentang pilkada yang sebentar lagi akan mereka rayakan, atau tentang perjanjian bisnis di antara kokoh-kokoh dan cicih-cicih, atau tentang renovasi tugu khatulistiwa yang membuat jalan tengah kota luar biasa macet, atau sekedar curhatan dan galauan tentang masing-masing gebetan sang remaja.
Suatu sudut di Jalan Gajah Mada: kafe-kafe yang ramai dan motor-motor yang berjajar rapi
Pontianak juga identik dengan peleburan tiga budaya yang harmoni; Melayu, Dayak, dan Cina. Sebenarnya saya tidak begitu paham bagaimana persebarannya, hanya saja dua hari berada di Pontianak membuat saya merasakan aroma Cina dan Melayu yang sangat kental. Bahkan, di salah satu mini market yang cukup ramai, saya seolah berada di kota Beijing. Kanan dan kiri saya hampir semuanya Chinese dan mereka semua berbahasa China haha. Hal ini yang mungkin sedikit banyak membuat kuliner khas Pontianak yang Melayu Kecinaan. Hehehe.
Keesokan harinya, kami harus berpisah menjadi lima kelompok untuk menuju desa tujuan observasi masing-masing. Jarak antar desa sangat sangat dan sangaaat jauh sehingga akhirnya kami harus berpisah selama tiga hari kedepan. Saya bersama partner saya didampingi dengan satu orang pendamping lokal akan menuju sebuah desa bernama Senaning yang so so so faaar away, haha. Dan perjalanan cukup panjaang ini akan saya tuliskan secara terpisah di postingan berikutnya XD
Setelah kembali ke Pontianak, di hari kelima, kami mengunjungi beberapa tempat wisata  dan mungkin sangat recommended untuk menjadi destinasi diantaranya adalah Istana Qadariyah, Museum Kalimantan Barat, Masjid Raya Mujahidin, dan kuliner di atas Sungai Kapuas tentunya! Jika beruntung, di beberapa ruas jalan di Pontianak banyak penjual durian jalanan. Harga durian Kalimantan relatif murah dibandingkan jika di Jakarta dan sekitarnya. Beli, dan bisa langsung bisa makan di tempat :p
Kalau boleh jujur, saya rindu suasana kota dan kulinernya hehe. Â Pada akhirnya, berkunjung ke Pontianak memang harus hati-hati. Hati-hati jatuh hati :pÂ
...Tak terbayangkan olehnya seorang lelaki duduk di pelaminan, dan disampingnya duduk pula seekor harimau di kursinya, lengkap dengan rumbai-rumbai dan pupur di pipi serta gincu di bibir, dan penghulu berkata, semoga perkawinan si anu dan harimau diberkati oleh Yang Mahakuasa
what a word! cuplikan komedi di tengah-tengah nuansa thriller Lelaki Harimau XD novel oleh Eka Kurniawan.
when the sky is blue @nuradiapuspa - Tumblr Blog | Tumgag