Tegasnya Pena Buya Hamka, Cendekiawan Inspiratif Kebanggaan Urang Minang
#3-sepintas figur
"Dima Bumi Dipijak Disinan Langik Dijunjuang"
Apa yang anda pikirkan saat mendengar atau membaca kalimat tersebut? Secara spontan kebanyakan orang akan mengatakan 'itu adalah bahasa Minang' atau 'itu adalah prinsip hidup Urang Minang'. Kalimat tersebut memang dinilai sangat menggambarkan budaya Urang Minang yang gemar untuk merantau. Dimanapun urang Minang merantau, mereka akan berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan disekitarnya, menghargai dan bahkan mencoba menyelami budaya di tanah rantau. Sejalan dengan pernyataan tersebut, salah satu Cendekiawan yang berasal dari Ranah Minang menggoreskan perjalanan hidupnya yang telah terbingkai dalam layar lebar bertajuk 'Buya Hamka'.
Buya Hamka yang lahir pada 17 Februari 1908, mewarisi darah ulama dan pejuang yang kokoh pada pendirian dari ayahnya yang dikenal sebagai ulama pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau serta salah satu tokoh utama dari gerakan pembaharuan yang membawa reformasi Islam pada kaum muda. Nama Hamka sendiri merupakan akronim dari namanya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah, sedangkan sebutan Buya adalah panggilan khas untuk orang Minangkabau yang berarti ayahku atau orang yang dihormati. Buya Hamka adalah salah satu sosok jurnalis yang sangat kritis dan tegas dalam menanggapi kemajuan ilmu pengetahuan serta peradaban dengan tetap berlandaskan pada keyakinannya.
Pada tahun 1928, Buya Hamka ditunjuk sebagai redaktur majalah Kemajuan Zaman, yang diterbitkan sebagai hasil konferensi Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1932 Buya Hamka juga sempat menerbitkan majalah Tentera, majalah Al-Mahdi, hingga majalah pengetahuan Islam bulanan ketika diutus menjadi mubaligh ke Makassar. Empat tahun setelahnya, Buya Hamka kembali ke Medan dan mendirikan majalah Pedoman Masyarakat yang membuat namanya melambung di dunia pers sebagai tokoh jurnalistik beraliran islami. Pada akhir periode tahun 1950-an, Buya Hamka juga mendirikan terbitan majalahnya yang diberi nama Panji Masyarakat (Panjimas). Panjimas berdiri secara independen, menitikberatkan soal-soal kebudayaan dan pengetahuan agama Islam. Dengan berbagai kesempatan yang diperolehnya, Buya Hamka menjadikan media sebagai corong dakwah untuk umat. Mulai dari kisah, syiar agama hingga opini politik disampaikan selama petualangannya di ranah media. Hal inilah yang menjadikan Buya Hamka patut disematkan sebagai sosok Cendekiawan Inspiratif Kebanggaan Urang Minang.
__________
“Apa yang tersebar acak didalam kepala, tuangkanlah melalui goresan pena.”
(cici - sepintas figur)
Rosihan Anwar, Maestro Jurnalisme Lintas Zaman Indonesia.
#2-sepintas figur
Apa yang terlintas dalam benak anda saat mendengar kata maestro? apakah musik Mozart? Ludwig van Beethoven? tentu secara spontan beberapa dari kita akan menjawab bahwa maestro merupakan sebutan bagi pimpinan suatu kelompok paduan suara atau musik instrumental pada zaman dahulu. Lantas apa relasi antara kata maestro ini dengan salah satu tokoh jurnalisme Indonesia?
Tepat sekali, Rosihan Anwar adalah tokoh yang kali ini akan ditelaah perjalanan hidupnya. Mungkin bagi banyak orang awam tidak mengenali siapakah beliau. Rosihan Anwar adalah tokoh pers Indonesia yang lahir di Sumatera Barat, 10 Mei 1922. Beliau memulai karier jurnalistiknya sejak berumur 20-an, tercatat telah menulis 21 judul buku dan ratusan artikel di hampir semua koran, majalah utama di Indonesia bahkan di beberapa penerbitan asing. Karir jurnalistik beliau dimulai saat beliau mengambil peran sebagai reporter majalah Asia Raya pada era kependudukan Jepang. Pada 1947 beliau menerbitkan media sendiri yaitu majalah berkala yang diberi nama Siasat. Setahun kemudian, beliau menerbitkan surat kabar lagi, yaitu Pedoman yang terbit setiap hari. Namun pada akhirnya, kedua surat kabar tersebut harus gulung tikar dikarenakan adanya pembabatan Orde Lama. Meskipun demikian, beliau tetap aktif menulis sebagai kolumnis untuk sejumlah majalah luar negeri, termasuk Business News dan cukup produktif dalam menulis buku.
Adapun puncak kebangkitan kiprah jurnalistik Rosihan Anwar terjadi pada 1968 ketika beliau berhasil menerbitkan kembali harian Pedoman yang sempat mati. Saat itu, Orde Baru mulai menancapkan pengaruhnya di bawah kendali Soeharto. Pada tahun 2007, Rosihan Anwar dan Herawati Diah, yang ikut mendirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Surakarta pada tahun 1946 mendapat penghargaan "Life Time Achievement" atau "Prestasi Sepanjang Hayat" dari PWI Pusat.
Rosihan Anwar adalah wartawan yang telah hidup melintasi zaman, dari era penjajahan Jepang hingga pasca-reformasi. Lebih dari itu, nama beliau terekam pula sebagai penulis buku, bahkan sejarawan, seniman, juga budayawan. Di masa tuanya sampai kematian menjemput, beliau sangat produktif menulis artikel-artikel retrospektif. Berbagai obituari tokoh-tokoh beliau tulis berdasarkan ingatan dan kenangan pribadi yang beliau alami sendiri saat berinteraksi dengan tokoh-tokoh tersebut. Pengalamannya dalam melintasi berbagai zaman membuat artikel-artikel itu menarik dibaca karena selalu menempatkan seorang tokoh pada konteks zamannya.
__________
“Elitisme dapat merayap ke dalam sikap beberapa orang dalam jurnalisme, namun jurnalis yang hebat berpegang teguh pada kejujuran sebuah ulasan.”
(cici - sepintas figur)
Siti Latifah Herawati Diah, Sosok yang Diangkat Sebagai Google Doodle Hari Ini.
#1-sepintas figur
Apakah anda mengenali sosok yang menjadi google doodle hari ini? Beliau adalah seorang Jurnalis Perempuan Terkemuka Indonesia. Tepat sekali, beliau adalah Siti Latifah Herawati Diah. Google doodle sendiri menampilkan 3 gambar yang menjadi simbol hari kelahiran beliau yaitu 3 April. Beliau merupakan wartawati Indonesia yang diakui oleh dunia dan istri dari tokoh pers yang juga mantan Menteri Penerangan, BM Diah.
Siti Latifah memulai kariernya sebagai seorang wartawati di Indonesia pada zaman penjajahan. Beliau bekerja sebagai wartawan lepas di Kantor Berita United Press International (UPI), kemudian bergabung sebagai penyiar di Radio Hosokyoku. Pada 1 Oktober 1945, beliau turut menyokong pendirian Harian Merdeka yang dibangun oleh suaminya. 10 tahun berselang, keduanya mendirikan The Indonesian Observer, koran berbahasa Inggris pertama di Indonesia. Koran itu diterbitkan dan dibagikan pertama kali dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung, Jawa Barat, pada 1955. Sebagai seorang jurnalis wanita, Siti Latifah Herawati Diah juga menjadi salah satu saksi hidup dalam peristiwa dikirimnya delegasi perempuan Indonesia ke India pada tahun 1947. Bahkan, saat beliau dikirim sebagai salah satu delegasi, beliau mendapat kehormatan untuk bertemu secara langsung dengan Bapak Kemerdekan India yaitu Mahatma Gandhi.
_________
“Perempuan dan keikutsertaannya dalam kemerdekaan bukan merupakan hambatan, melainkan dorongan bagi masa depan.”
(cici - sepintas figur)