ini milikku
Ini bukan sebatas “pisang” dan “ayam”nya aja
Jadi, di keluarga kami ada menu lauk ayam untuk makan malam dimana, Ibu suka bilang, kalau bisa, disisihkan juga untuk makan berikutnya (sahur). Aku yang tidak begitu makan banyak saat makan malam, berniat menyisihkannya untuk makan berikutnya. Lalu, ketika sahur, ayam itu sudah tidak ada. Masih ada 2 ayam utuh lainnya. Menurutmu apa yang aku lakukan? Aku ambil ayam utuh itu lagi sedang aku bukanlah tipikal yang akan menghabiskannya? Oh, tidak. Aku lebih memilih untuk tidak memakannya, sebab masih ada lauk pengganti protein lainnya yang di masak ibu. Aku hanya bilang, “Kok dimakan? Itu kan bekasku” lalu tebak bagaimana respon mereka? “Yaudah lah tinggal ambil baru, toh masih banyak.” Hei, justru karena masih banyak, kenapa harus ambil punyaku? Bekas pula. Aku tentu kesal. Bagiku, itu milikku.
Lalu aku menutup makan sahur, dengan makan sepertiga dari satu pisang utuh. Aku memotongnya dengan rapi menggunakan pisau dan memasukkannya ke dalam kulkas. Aku berniat menyisihkannya untuk makan berikutnya (berbuka puasa). Lalu, ketika berbuka, Dua pertiga pisang itu sudah tidak ada. Masih ada 2 pisang utuh lainnya. Aku sadar, kejadiannya seperti mengulang kejadian semalam. Aku bertanya, “Pisang yang aku taruh di sini (dalam kulkas) dimana?” menurutmu, bagaimana jawabannya? “Yaudah sih, yang gitu-gitu aja soal makanan, riweuh.” Sungguh, benar-benar menyebalkan. Harusnya aku yang marah. Lagi-lagi, bagiku, itu milikku.
Aku tidak peduli siapa yang memakannya. Bukan karena siapa orangnya, tetapi karena siapapun orangnya, benda atau perkara atau apapun harus diminta dengan cara yang baik. Bagiku, cara baik itu dengan, setidaknya, memastikan kepada pemilik utama, dimana bila tidak ada yang tahu, tanya. pastikan satu persatu. tapi, tidak, jika itu setelah kejadian seperti ini. aku ga punya cukup energi untuk bisa marah secara personal ketika harus memastikan satu persatu anggota keluarga siapa yang menghabiskan makananku itu. toh, dengan tau respon mereka, dan bagaimanaku merespon kehilangan itu, toh, tak ada satupun yang mengaku.
Bukannya tak mau berbagi, tetapi masih ada makanan lain yang masih rapi dan bagus, tetapi kenapa harus punya aku? Bukannya aku tak mau berbagi, tetapi bisakah untuk bertanya (meminta izin) sebelum mengambilnya?
Bukankah dengan aku bertanya dimana, seseorang dapat memberikan jawaban letaknya? Bukankah semestinya, meminta maaf ketika ada sesuatu yang diambil dari yang bukan miliknya? Bukankah semestinya, tak perlu ada kata yang tidak semestinya terucap ataupun permintaan maaf jikalaupun itu salah, dan berawal dengan meminta izin sebelum semua itu terjadi? Tidakkah seseorang menyadari hal-hal sekecil ini? Mungkin bagimu biasa saja. Atau bahkan terasa menyebalkan. Justru bagiku, hal tersebut jauh lebih menyebalkan dan bukan hal yang biasa. Adalah ketika meminta izin, meminta maaf, ataupun berbicara dengan biasa saja, bukanlah hal yang lumrah terjadi dalam komunikasi dua arah. Bagaimana bisa? Hal semacam itu terasa asing dalam keseharianku. Meski harus sering aku, lebih kuat aku, menggaungkannya lagi.

















