“Ya Allah, jangan Engkau ambil nyawaku secara tiba-tiba, jangan pula Engkau panggil aku saat aku lalai. Anugerahkanlah kepadaku tenggang waktu agar aku sempat kembali kepadamu, bertobat dari dosa-dosaku, sebelum tibanya kematian”
— Doaku jumat sore
#phm#ryland grace#rocky the eridian#project hail mary spoilers




seen from China
seen from United States
seen from China
seen from Brazil
seen from Canada
seen from Russia
seen from Brazil
seen from United States

seen from Netherlands

seen from Australia
seen from United States

seen from China
seen from South Korea
seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Iraq
seen from United States

seen from United States
“Ya Allah, jangan Engkau ambil nyawaku secara tiba-tiba, jangan pula Engkau panggil aku saat aku lalai. Anugerahkanlah kepadaku tenggang waktu agar aku sempat kembali kepadamu, bertobat dari dosa-dosaku, sebelum tibanya kematian”
— Doaku jumat sore
Lacyé gives us Lasombra well wishes
Bertanya
Semua orang pernah melakukan kesalahan, dan semua orang bisa berubah. Memang.
Tapi kadang, kita nggak mau kembali bersama dia yang pernah menyakiti kita bukan karena kita nggak percaya dia bisa berubah. Ini soal batas (boundary) yang akhirnya kita punya—ini sehat nggak buatku? ini melanggar batasku nggak?
Boundary adalah bentuk self-respect kita terhadap diri sendiri.
Kalau kamu akhirnya sampai di titik di mana kamu benar-benar paham cara menghormati diri sendiri, memangnya kamu masih mau menggadaikannya lagi demi bersama seseorang yang pernah menyakitimu?
Bising yang Senyap
Dunia terlalu berisik, sampai-sampai kita lupa cara mendengar suara hati sendiri.
Kita sibuk sekali mengejar “tenang”. Kita beli tiket liburan, checkout barang-barang keren, maraton semua series yang lagi hype.
Tapi anehnya, “tenang” itu cuma mampir sebentar, lalu pergi lagi menyisakan ruang hampa yang lebih besar.
Kadang kita lupa, bahwa ada jenis istirahat yang nggak bisa didapat dari tidur. Ada jenis “healing” yang nggak dijual di aplikasi travel.
Bisa jadi, istirahat terbaik adalah sujud yang panjang. Dan “healing” terbaik adalah khalwat —menyepi dari riuh rendah dunia untuk sekadar curhat tanpa filter sama Allah.
Karena cuma Dia yang bisa mengubah kekacauan di kepala menjadi ketenangan di hati.
“Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
@quraners
Semuanya tidak harus terwujud sekarang, tapi semuanya butuh di perjuangkan dari sekarang. Kemana kamu berpulang, seperti apa akhirnya kamu berpulang perihal akhirat bergantug pada kebiasaan kamu sekarang.
Kita tidak bisa memilih bagaimana kita lahir, tapi kita punya andil besar dalam membentuk bagaimana kita berakhir.
Sebab, akhirat bukanlah sebuah kejutan yang datang tiba-tiba, melainkan muara dari ribuan keputusan kecil yang kita ambil setiap hari. Kita seringkali terlalu sibuk memikirkan "kapan"sampai, hingga lupa memperbaiki "bagaimana" cara kita berjalan. Padahal, setiap tarikan napas adalah kesempatan untuk memperbaiki arah kompas kehidupan.
Jangan remehkan kebaikan kecil yang kamu lakukan secara sembunyi-sembunyi, karena mungkin saja itulah yang akan menjadi lentera saat duniamu mulai meredup. Jangan pula abaikan dosa kecil yang terus diulang, karena ia ibarat tetesan air yang perlahan-lahan melubangi batu keteguhan imanmu.
Pada akhirnya, tempat berpulangmu adalah cermin dari apa yang paling sering kau peluk dalam hidupmu. Jika kau memeluk kedamaian dan ketaatan dalam setiap perjuanganmu hari ini, maka kepulanganmu pun akan disambut dengan pelukan yang paling menenangkan. Berjuanglah sekarang, agar kelak kau tidak hanya sekadar "sampai", tapi sampai dengan keadaan yang sebaik-baiknya.
Beberapa orang tidak senang dengan nasihat. Bukan karena terlalu melukai saat disampaikan. Tapi karena hati mereka enggan tuk disalahkan.
Padahal nasihat adalah sebaik-baik bentuk dari cinta. Yang mengingatkan, yang mengarahkan. Yang mengajak untuk memperbaiki kesalahan. Yang berharap akan lahirnya kebaikan.
Karena nasihat bukan untuk menjatuhkan. Tapi untuk menyadarkan bahwa dalam setiap langkah yang kita arungi di kehidupan ini, ada kalanya kita hilang arah dan berbelok meninggalkan syariat. Ada kalanya prinsip kita mulai kendor dan tak lagi kuat.
Sehingga kita butuh untuk disadarkan sejenak. Dengan apa? Dengan fakta terkait diri kita yang terlampau jauh berjalan. Sehingga kita tidak lagi jeli dengan perintah Allah. Sehingga kita tidak lagi peduli dengan ajaran Rasulullah.
Karena jangan sampai kita sibuk membenahi penampilan diri. Tapi nyatanya yang kurang adalah kepala yang tidak lagi terisi dan hati yang mulai mati.
Maka ketika nasihat itu sampai di depan matamu, cobalah sesekali untuk acuh. Karena boleh jadi ia datang sebagai pengingat yang Allah kirimkan untukmu.
Pengingat jika langkahmu sudah terlalu jauh. Pengingat agar engkau kembali seperti dulu.
Dalam balutan syariat dengan tekad sami'na wa atho'na - kami dengar dan kami taat.
12.05 a.m || 24 Januari 2026
Titik tertinggi kecewa itu bukan memaki, tapi menjauhi. Sebab untuk terus mengerti tanpa dimengerti itu amat menguras energi. Berhenti berinteraksi lebih baik daripada merusak diri..
Seperti Musa dalam Penjagaan Harun
“Betapa indahnya jika engkau menemui hati yang tidak pernah menuntut apa-apa darimu kecuali sebatas keinginan melihatmu dalam keadaan baik.”
Ada kasih yang tidak perlu digenggam atau dilihat dengan mata dunia. Ia hadir dalam diam, menjaga dengan cara yang paling halus: menginginkan keselamatan yang utuh—pada raga, jiwa, dan iman.
Keadaan baik, dalam pandangannya, bukan sekadar senyum yang tampak atau keberhasilan yang bisa diceritakan. Ia lebih dalam dari itu. Ia menghendaki ruh yang tetap hidup, hati yang tidak asing dari zikir, dan langkah yang selalu berada di jalan yang benar, meski dilanda lelah dan keraguan.
Ia ingin yang disayang tetap utuh, bukan hanya dari luka dunia, tapi juga dari keretakan batin yang menjauh dari Sang Pemilik Hati. Seperti Harun yang selalu menjaga Musa, meski tak tampak, ia memastikan langkahmu tetap berada di jalan yang benar, tanpa kata yang terucap.
Ia tidak meminta peran dalam cerita hidupmu. Ia tidak merengek untuk ditempatkan dalam ruang khusus. Rasa pedulinya adalah langit yang luas, tidak membatasi, hanya menaungi. Ia tidak menuntut untuk dikenali, cukup tahu bahwa dalam setiap malam, nama yang dicintainya tetap disebut dalam doa yang tak pernah putus. Ia adalah senja yang tak menahan matahari, hanya mendoakan agar cahaya itu kembali pulang dalam damai.
Ia tidak hadir untuk menjadi tujuan, namun menjadi saksi bisu yang berharap: semoga langkahmu selalu menuju kebaikan. Semoga bahumu tetap kuat meski ia tak bisa menyandarkannya. Semoga hatimu tetap lapang, meski tak ada tempat baginya di sana. Dan yang paling dalam—semoga Tuhan tak pernah melepas genggaman-Nya darimu.
Pada akhirnya, kasih yang paling tulus adalah yang merelakan, namun tetap setia dalam harapan. Yang tidak membungkus diri dengan kepemilikan, tapi membalut namamu dengan doa-doa yang tak diminta untuk dibalas. Seperti Harun yang setia dalam diam, meski tidak mendampingi setiap langkah, ia tetap menjaga dan berdoa agar Musa selalu dalam penjagaan Tuhan.
Jika di sepanjang perjalanan ini kita tak dipertemukan dengan hati yang seperti itu—yang menyayangi tanpa menuntut, yang hanya ingin melihatmu dalam keadaan baik, yang mendoakan tanpa pernah menyapa—semoga kita sendiri yang tumbuh menjadi sosok yang demikian.
Sebab dunia ini terlalu sempit untuk harapan yang serakah, namun cukup luas untuk ketulusan yang merdeka. Mungkin bukan tugas kita untuk selalu dipedulikan dengan cara yang tenang, tapi mungkin Tuhan menghendaki kita belajar menjadi pribadi yang meneduhkan.
Menjadi hati yang tidak menggenggam, tapi menuntun. Yang tidak menuntut balasan, hanya berharap kebaikan dibalas Tuhan. Menjadi pelita yang tak ingin dikenali sumber cahayanya, cukup menjadi terang bagi yang tengah dalam gelap. Seperti Harun yang tidak mencari pujian, tapi hadir untuk menjaga dalam diam, kita pun dapat belajar memberikan yang terbaik dalam hening, untuk orang-orang yang kita sayangi.
Dan semoga, jika tidak ada jiwa yang setia mendoakan kita dalam diam, kitalah yang diam-diam mendoakan dunia—agar semakin banyak kasih yang tidak menyesakkan, perhatian yang tidak memberatkan, dan hati-hati yang tidak ingin memiliki apa pun selain melihat sesamanya dalam keadaan benar-benar baik: lahir, batin, dan iman.
Yogyakarta, April 2025 || Kaderiyen