Serial Menikah: Nikah Dini, Keren!
Bagi sebagian orang yang sudah mengenal saya, ketika membaca judul postingan saya kali ini pasti akan berpikir, gila yah! Belum 17tahun ajah udah ngomongin nikah..
Terus saya, sebagai manusia yang tahu bahwa saya sedang dibicarakan, hanya akan menjawab, trus? Masalah buat lo? #abaikan
Yah, bukankah kedewasaan seseorang tidaklah diukur dari seberapa banyak umurnya, tapi bagaimana dia mengolah akal yang sudah Tuhan anugerahkan kepadanya? Kepada masing-masing dari kita?
Suatu ketika, Ibu pernah bilang,
Mbak, kalo lulus SMA nanti, kamu dilamar orang, udah nikah ajah
Haaah??!!! *pake pentung banyak saking kagetnya*
Iyah, kamu tuh cewek, kalo udah gede dan udah siap siih, yaudah sanah, jadinya Ibu tuh ayem kamu udah ada yang ngejagain
*kemudian sealed perfectly*
Kadang suka bingung yah sama Ibu sendiri, anaknya minta izin kuliah di luar kota ajah gak boleh, kok malah disuruh nikah? Tapi mungkin ini soal kehormatan, yaa, k-e-h-o-r-m-a-t-a-n.
Sebetulnya bukan tentang siap-belum siapnya seseorang memutuskan untuk hidup berdua dengan pilihannya. Kalau kata kak Jo, yang dipersiapkan ketika seseorang akan menikah itu adalah MMR; Mental, Money, Religion.
Mental. Mental siap menikah itu artinya siap menikah dan siap bersabar. Mental siap menikah juga terkait dengan kesabaran menantikan jodoh, bersabar ketika mencari, bersabar ketika ditolak, dan bersabar ketika sedang proses menuju hari pernikahan.*1)
Sebetulnya proses mempersiapkan mental ini (bagi saya) adalah tahapan tersulit. Di dalamnya ada fase jatuh bangun yang sedikit-banyak menguras emosi dan tenaga. Dimulai dari sabar menanti-menemukan-(pada akhirnya ditolak)-dan mencoba untuk menemukan lagi.
Money. Siapa bilang menikah hanya siap mental? Bahkan dewasa ini, menikah justru adalah momen dimana kamu akan keluar biaya banyak untuk mengurus ini itu. Karena tentu masing-masing dari kita hanya ingin menikah sekali seumur hidup, jadi harus spesial. Kemudian juga proses pasca-menikah. Saat terjadinya pemindahan rizki yang semula (bagi anak perempuan) diperantarakan melalui Ayahnya, maka sekarang melalui suaminya.
Kemudian saya jadi berfikir, manusia-manusia yang berani mengambil keputusan untuk nikah muda sebetulnya adalah manusia-manusia luar biasa. Bagi laki-laki, keputusan untuk berani menanggung nafkah anak orang sebetulnya bukan hal mudah, apalagi ketika ia menikah saat masih menjadi mahasiswa yang pasti biaya perkuliahannya pun masih bergantung pada orang tua. Lalu bagi perempuan, yang begitu berani mempercayakan manusia pilihannya sanggup menjaganya lahir dan bathin.
Yang terakhir adalah Religion. Yang dimaksudkan dengan Religion di sini tentu saja agama. Lebih spesifik lagi kedekatan dengan Tuhan. Kesiapan ini sebenarnya yang paling utama. Saat kalian sudah dekat dengan Tuhan, saat kalian benar-benar sedang dalam puncak keimanan tertinggi, percayalah jalan akan dimudahkan dan dua kesiapan di awal akan teratasi. Karena soal mental akan ada dengan sendirinya ketika secara rohani dan keimanan sedang dalam titik optimal. Saat ingin bicara dengan calon suami/istri, saat ingin bicara dengan calon mertua akan dilancarkan manakala Tuhan sedang melihat kita yang dekat dengan-Nya.*2)
Kebanyakkan yang harus ditulis, dan penulisnya sendiri pun sedang mempersiapkan hal ini. Jadi, sampai ketemu di Serial Menikah selanjutnya, good reader(s)..