untukmu, aku rela mendapat sisa-sisa. sisa waktu, sisa tenaga, sisa kata-kata. tapi, satu kalimat kangen yang kubungkus dalam keluh, kaudengar seperti teriakan paling lantang sedunia.
tidak apa-apa, ini bukan kali pertama.
Show & Tell
No title available

Origami Around
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

izzy's playlists!
Lint Roller? I Barely Know Her

⁂

Discoholic 🪩
Game of Thrones Daily
will byers stan first human second

blake kathryn
he wasn't even looking at me and he found me
styofa doing anything
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
One Nice Bug Per Day
Jules of Nature

ellievsbear

JBB: An Artblog!

No title available

seen from Japan

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Australia

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from South Korea

seen from Argentina

seen from United States

seen from Algeria

seen from United States
@inovahakim
untukmu, aku rela mendapat sisa-sisa. sisa waktu, sisa tenaga, sisa kata-kata. tapi, satu kalimat kangen yang kubungkus dalam keluh, kaudengar seperti teriakan paling lantang sedunia.
tidak apa-apa, ini bukan kali pertama.
deep empathic resonance—sebuah kondisi di mana radar emosionalmu bekerja sangat kuat, hingga kamu bisa menangkap luka tersembunyi seseorang hanya dari cara dia diam atau menikmati sesuatu. Namun sayangnya, ironi terbesar dari sebuah hubungan adalah:
Kita bisa menjadi orang yang paling berniat baik sedunia, tetapi kita tetap tidak punya kendali atas bagaimana orang tersebut memilih untuk memperlakukan kita kembali.✍️🏻
Sembuhkan Dirimu
Orang yang menyakitimu, mungkin ia tak menganggap dirinya sendiri sebagai orang yang jahat. Karena ia telah hidup dengan cara berpikir dan lakunya selama puluhan tahun, baginya, apa yang ia lakukan tidak lebih dari sebuah kewajaran dan kebiasaan.
Tapi bagimu, hal itu menorehkan luka, bahkan trauma. Membuatmu murung berkepanjangan. Tapi baginya, ia tidak peduli. Karena ia hanya peduli perasaan dan hidupnya sendiri, masa bodoh dengan hidup orang lain yang telah dicederainya.
Tapi bagimu, kamu telah belajar sesuatu yang amat mahal. Tidak semua orang layak untuk mendapatkan seluruh energi dalam hidupmu. Tidak semua orang punya nilai hidup yang sama denganmu. Tidak semua orang, punya empati yang sama denganmu.
Sembuhlah. Karena ia sama sekali tidak layak mengisi pikiranmu berkepanjangan. Ia tidak layak untuk meluakaimu.
KG
kamu jangan jadi perempuan bingung gitu, ga cocok.
hani kepada rose
dua tujuh ketiga
semoga pemahamannya semakin luas; penerimaannya semakin utuh; pengampunannya semakin ikhlas; pemaklumannya semakin terampil.
semoga kali ini dimenangkan.
selagi punya waktu, aku 'kan memelukmu.
kita terlelap dalam diam yang sama
lalu terbangun seolah tak terjadi apa-apa
padahal ada ego yang dimenangkan
dan pemahaman yang terus ditenggelamkan
gemuruh dada
sesaknya napas
linangan air mata
menepi atas rasa mengerti
dan waktu mengaburkan seluruhnya
"bukankah sudah biasa? ini bukan kali pertama,"
ya sudah, tidak apa-apa.
22:52, sudut kamar
ngga peduli dengan standar relationship blablabla, hubungan yang dewasa adalah begini begitu. hell, no. kalau keadaan sekarang bikin aku nyaman, kamu nyaman, then it works.
ternyata enak kali ya jadi perempuan
akibat timeline kerja akhir tahun yang super sempit, hidup terasa seperti berkejaran dengan waktu. delapan jam kerja rasa empat jam alias pulang maghrib lagi ini sihhh. memilih bertahan di kantor sedikit lebih lama biar besoknya punya sedikit luang—yang berakhir utopis.
tiba-tiba temanku tantrum di tiga puluh menit jelang matahari terbenam.
"aku capeeekkkkkk.. ngantuk aku, kak," kesalnya.
alih-alih memvalidasi perasaannya. alih-alih berbagi rasa yang sama. aku memilih barisan diksi lainnya.
"ngga usah kerja aja ni?" tanyaku retoris WKWKWKWK.
kami diam sebentar, lalu tertawa bersama.
bukan. kami bukannya mau menyerah. kami hanya baru sadar. bagi perempuan, bekerja ternyata bisa jadi pilihan—karena kami bisa memilih untuk ngga bekerja.
dan kami, memilih tetap bekerja. bukan karena telanjur butuh uangnya, tapi karena kami butuh punya rasa bahwa kami berdaya.
Tangan-tangan yang memilih tinggal.
Ada orang-orang yang pergi agar kita berhenti mengetuk pintu yang sudah lama tertutup, lalu menyadari bahwa di sisi lain, Allah sedang membuka jendela-jendela yang tidak pernah kita sangka.
Dan sebagaimana ada perpisahan yang pernah menyita begitu banyak air mata, ada pula pertemuan-pertemuan yang diam-diam mengembang haru. Bertepi suka karena segala doa dan rindu rasanya terjawab sudah.
Mereka tidak hadir untuk memperbaiki yang retak, melainkan untuk mengingatkan bahwa beberapa yang datang tidak selalu melukai. Bahwa setelah musim kehilangan, selalu ada tangan-tangan yang tetap tinggal. Yang bersedia memeluk bagian diri yang bahkan belum sempat kita kenali. Yang bersedia menatap kita, lalu menemukan sesuatu yang indah dalam cara kita bertahan dan memandang hidup.
Jadi, jika hari ini masih ada yang memilih tinggal, mensyukuri keberadaan kita, dan membersamai langkah-langkah kecil yang kerap kita remehkan, bukankah itu layak dirayakan?
Maka, kepada siapa saja yang memilih pamit undur diri, mari kita persilakan.
padahal kusudah setengah gila, cinta hanya denganmu.
bahasa cinta yang enggan kau pahami
aku bertanya tentang kisah harianmu. lalu kau membacanya sebagai gangguan di waktu istirahatmu. padahal aku hanya ingin tahu titik lelah dan bahagiamu.
aku meminta dikabari di waktu pulang atau sampaimu. lalu kau membacanya sebagai tuntutan yang tak ada habisnya. padahal aku hanya ingin memastikan kamu selamat sampai rumah.
aku ingin tahu tentang mimpi dan inginmu. lalu kau membacanya sebagai perempuan yang terlalu banyak ingin tahu. padahal aku hanya ingin jadi temanmu untuk meraihnya.
aku ingin memastikan apakah keberadaanku penting di hidupmu. lalu kau membacanya sebagai perempuan yang tidak pernah punya rasa percaya. padahal aku hanya ingin yakinkan diri sendiri bahwa aku masih dibutuhkan.
dan jika aku pergi dan berhenti menunggumu. lalu kau membacanya sebagai perempuan yang tidak ada sabar dan pengertiannya. padahal aku hanya tidak ingin menjadi nama yang mengusik ketenanganmu.
Ayo, ajak aku berkeliling
Aku hanya ingin lebih tau, tentang jalan yang kau tapaki pulang-pergi kerja, atau tukang sayur langgananmu, juga nasi kecap favoritmu,
Aku hanya ingin lebih paham, pada langit yang kau tengadahi bila hari melelahkanmu, atau sesaknya 5 lampu merah yang harus kau tempuh,
Aku ingin jua mengerti, rasa udara ketika pagi kau menerjang sang waktu dan kala sore kau bergegas membunuh waktu,
Bisakah pertemuan esok hari, kita sambangi seluruh jejak kaki mu itu, kita sapa seluruh wajah yang biasa kau temui?
Tak perlu aku kau ajak mengelilingi toko elok di ujung sana, apalagi duduk di tepian taman mengantongi roti tersohor bulan ini, tak perlu.
Aku hanya ingin lebih tau, biasa-biasanya kamu,
biasa-biasa yang membentukmu, yang menjadikan senyummu bisa seteduh itu, sabarmu bisa sedalam itu, tawamu bisa serenyah itu,
Tak perlu selalu seru apalagi banyak warna,
Aku, hanya ingin lebih tau, tentangmu.
dua tujuh kedua
terima kasih sudah memilih datang lagi, di waktu yang kamu tahu, tidak ada lagi jalan mundur. maka, teruslah melaju, bersamaku.
Rumah dan Sebuah Kata "Pulang"
Aku ingin jadi rumahmu. Jadi perhentian terakhir kala dunia terlampau kejam kepada orang yang tulus kebaikannya, sepertimu.
Aku ingin jadi rumahmu. Jadi pintu pertama yang kauketuk saat hujan terlalu lebat, sekujur badanmu kuyup kebasahan, dan aku berdiri di belakang pintu menyiapkan selembar handuk juga sebungkus pelukan hangat, untukmu.
Aku ingin jadi rumahmu. Jadi nama yang kaupanggil di tengah malam untuk membuatkan segelas susu, yang mengenyangkan lapar, yang menyenyakkan tidur, kepadamu.
Aku ingin jadi rumahmu. Jadi sesosok tangguh yang kaujatuhkan peluk sementara dunia luar enggan berdamai, denganmu.
Pulanglah.
Pulanglah kepadaku. Kepada rumah yang ingin menjadi serba cukup untukmu.
Cukup meneduhkan. Cukup menghangatkan. Cukup menentramkan. Cukup membuat nyaman. Cukup menjadi tempat tinggal.
Bukankah keinginan kita selalu sederhana dan mencukupkan? Nafsulah yang membuat nikmat jadi berantakan untuk disyukuri.
setiap harta yang kamu sedekahkan, kamu keluarkan di jalan Allah, ia bakal kembali bersama teman-temannya. jangan pernah pelit, mamah ga pernah lho ngajarin kamu pelit.
- manusia setengah dewi