Tentang Kata
Terkadang rasa kehilangan makna tanpa kata Terkadang oleh kata banyak rasa dikorupsi Hilang di balik huruf-huruf yang tersusun rapi
seen from United States

seen from Ukraine
seen from Singapore
seen from Singapore
seen from Russia
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Mexico
seen from United States
seen from Germany

seen from China
seen from Bangladesh
seen from Russia
seen from Russia
seen from Brazil
seen from Ukraine
seen from United States

seen from Germany

seen from Russia
Tentang Kata
Terkadang rasa kehilangan makna tanpa kata Terkadang oleh kata banyak rasa dikorupsi Hilang di balik huruf-huruf yang tersusun rapi
Tentang Tanda Tanya
Ada sebuah lengkungan imajiner Yang menjadi sahabat karibku Kepadanya aku titipkan salam Untuk seseorang yang mungkin Sudah tidur malam ini
Ada sebuah lengkungan imajiner Kepadanya aku mengharap jawaban Tapi ia menginginkanku Lebih dari seseorang yang mungkin Sudah memimpikan orang lain malam ini
Tentang Orang Tua
Baginya ia tidak menua dan kamu tidak bertumbuh Dia tidak tahu kamu kini sudah pandai bercumbu Mereka lupa dua puluh tahun yang lalu Kau sudah diajari memakai gincu Tiga tahun kemudian kau menaiki sepatu hak tinggi Baginya ia adalah benar dan kamu tidak pernah mendengar Tapi mereka menabung maaf untuk tiap salahmu Menyiapkan telinga untuk tiap cerita Baginya bumi terlalu cepat berlari dan kamu selalu terburu-buru Cintanya berpacu dengan waktu untuk melindungimu
Tentang Rahasia
Kamu diam tak bergerak Aku berkata tidak Kamu menjawab tidak ada masalah Aku memperjelas, kau tidak perlu cemas Kamu tidak bicara Aku tidak percaya Aku membisu Kamu ragu Mungkin kita perlu jujur Mungkin kita akan hancur
Tentang Seharusnya
Seharusnya kita tidak pernah bertemu Seharusnya taksi yang kutumpangi Tidak menabrak mobil Mercy barumu Seharusnya kau tidak tersenyum padaku Seharusnya kau panggil polisi datang Agar aku kena tilang Seharusnya aku menjawab ya Saat kau bertanya Apa hari Sabtu ini kau ada acara?
Seharusnya langit mendung malam itu Januari adalah giliran hujan unjuk diri Seharusnya aku tidak mengajakmu Makan malam di atap rumahku malam itu Seharusnya kita tidak bercerita tentang mimpi, Tentang betapa takdir bersama taksi yang kutumpangi Seharusnya aku tidak jatuh malam itu Hatiku tidak tahu caranya bangun lagi
Seharusnya aku tidak keluar malam ini Hujan mengkhianati langit di bulan Juni Seharusnya kau pun tidak keluar malam ini Demam, katamu, mungkin sudah sembuh besok pagi Seharusnya aku menjengukmu Tapi seharusnya kau tidak ada di sini Saat kau melihatku sambil tergagap bisu Seharusnya aku tahu Kau sudah pergi dan tidak akan kembali
Tentang Cinta Monyet (Sneakers Biru Berbedak Debu)
Waktu umurku lima belas Aku berangkat sekolah tiap jam enam lewat sepuluh Ada enam lampu merah dan tiga pos polisi Di sepanjang jalan yang aku lalui Tapi aku tidak peduli Yang aku tahu ada empat puluh sembilan langkah Antara pintu gerbang dan bangku taman sekolah Dan aku punya tiga menit sebelum setengah tujuh Dia berjalan melewati koridor yang sama setiap hari Sneakers biru berbedak debu Senin sampai sabtu jam setengah tujuh pagi Aku sudah menyusun seribu satu ‘Cara Memperhatikan Tanpa Diketahui’
Hari pertama sampai ke dua puluh lima Lagu favoritnya Sheila on 7 - Terima Kasih Bijaksana Mulai hari ini lagu favoritku Sheila on 7 - Pemuja Rahasia Hari ke enam puluh tiga Sneakers biru berubah warna Jadi abu-abu setelah hujan di pertandingan bola Antar kelas hari Selasa Hari ke seratus tiga belas Aku bercanda sebagai dalih tertawa Agar bisa menengok ke samping dan beradu mata Jantungku berhenti nol koma satu detik Tapi terasa seperti selamanya Huruf dan angka seketika kehilangan relevansi Ujian matematika bukan ketakutan terbesarku lagi mulai hari ini: Dia tersenyum padaku di hari ke seratus tujuh puluh satu
Hari ke dua ratus tujuh puluh lima Sneakers biru berbedak debu melewati koridor yang sama Tepat di depan pintu, arah jam dua belas mataku Dia mengganti arah Sepuluh langkah menuju bangku taman sekolah Senyumnya hari ke seratus tujuh puluh satu, ia berkata: Jangan biarkan biru sepatuku menghalangimu Dari birunya langit pagi ini Karena ada pengharapan dan mimpi Yang sudah kau selipkan di tiap sebalik awan Mereka menanti tanganmu menggapainya di masa depan Jangan terbangkan abu-abu debu sepatuku ke hatimu Jantungmu masih cukup muda memompa Ekspektasi dan ambisi remajamu yang membara Jangan jadikan sepuluh langkah ke koridor itu sebagai dalih tawamu Karena sejak lima ribu enam ratus lima puluh tujuh hari yang lalu Bumi punya satu alasan lagi untuk bahagia
Tentang Hari Pernikahan
Aku menunggumu Kamu Bukan waktu Bukan suatu pagi yang mengikatku dengan janji Bukan haru biru selamat menempuh hidup baru Aku menunggumu Kamu Hari itu bukanlah sesuatu tanpa kau di situ
Tentang Semesta
Kemarin aku dengar Suatu hari kita bisa berwisata Ke angkasa luar Begitu bosannya manusia Menapakkan kaki di bumi Mereka ingin lari dari gravitasi Bagitu bisingnya suara-suara Hati yang butuh bantuan Mereka ingin menyepi sendiri
Dari jarak enam milyar kilometer Astronomer mengirim gambar Bumi si titik biru pucat Pixel yang terdiri dari Fraksi-fraksi cinta dan benci Penyesalan dan harapan Ego, emosi, dengki, Ekstremisme, teror, dan arogansi Jadi kehilangan relevansi Manusia cuma butiran Yang menyusun fraksi Yang membentuk titik biru pucat
Kemarin aku dengar Suatu hari kita bisa berwisata Ke angkasa luar Mungkin dari sudut pandang gelap Di atas sana Baru manusia tahu Bola biru pucat di depan matanya Adalah satu-satunya harapan yang kita punya