Ada Cinta di Penjara Suci
Hari ini akhirnya tiba juga. Hari dimana kau menghalalkan seorang bidadari yang telah kau nantikan. eh eh wait kok jadi mellow begini bahasaku hahah. (ulang)
Hari ini aku menghadiri pernikahan seorang teman diwaktu remaja dulu. Ia adalah seorang yang dihormati disegani kala itu. Tapi entah, aku menganggap dia teman saja. Tidak lebih haha. Aku sengaja menggunakan gamis hitam favoritku dan hijab coklat yang menjuntai panjang. Ya aku lebih nyaman menggunakan itu saat ini.
Aku berangkat bersama keluargaku, sayangnya suamiku tak ikut. Aku tidak bisa menebak bagaimana ekspresinya ketika nanti mengetahui ceritaku ini. Dalam perjalanan, saat memasuki gang itu...aku buka kaca mobilku. Perlahan angin berhembus mengusap pipiku. Hmmm.... jalan ini penuh dengan kenangan.
Aku berusaha mengabadikan jalan dan pagar yang dulu menjadi saksi bisu kenakalan remajaku. Hahah. Yap ! aku pernah menjadi santri di pondok pesantren ini. Meskipun hanya 3 tahun, tapi banyak sekali kenangan dan pengalaman yang telah aku dapat disini.
Aku berjalan memasuki gerbang dan kulihat desain unik tenda pernikahan ini. Ada foto-foto yang menggemaskan terpajang disepanjang lorong. Kulihat seorang ibu tengah baya tersenyum sumringah. Kuraih tangan lembutnya. Kuciumi tangannya penuh rindu. Senyuman hangatnya itu tidak pernah berubah. Beliau lah ibuku ketika menjadi santri dulu.
"Loh, kapan pulang?"
"sampun dangu bu(sudah lama bu) hehe" jawabku sambil terkekeh.
Aku dipersilakan untuk menikmati jamuan. Terlihat ramai sore itu. Sambil makan sesekali kulirik kuade (tempat duduk pengatin) didepanku. Ah, mungkin masih ganti baju. Pikirku.
Setelah selesai menikmati sate ayam dan minum sirup kelapa muda, aku beranjak dari tempat dudukku. Terlihat seorang dengan setelan jas abu-abu (tentunya dengan masih berpeci) menggandeng wanita cantik dengan gaun silver. Yak dia lah yang kucari sedari tadi. Eh...bukan apa hanya ingin tau raut wajah bahagianya itu, sungguh aku ikut bahagia. Mereka tampak sangat serasi. Aaaah...manis sekali.
Ingin rasanya aku mengabadikan momen bahagia itu, namun aku hanya berani memotret dari jauh saja. Tak ingin berlama-lama akhirnya aku berpamitan pada ibu yang memiliki senyum hangat sedunia itu. Sekali lagi kuraih tangannya, kubenamkan wajahku pada kedua telapak tangannya. Hangat sekali.
Selama perjalanan pulang aku jadi terkenang dengan cerita-ceritaku kala itu. Kira-kira 14 tahun yang lalu, aku menjadi santri di pondok pesantren itu. Sebenarnya tujuan orantuaku mengirimku ke pesantren waktu itu, karena sekolahku waktu SMP kebetulan dekat dengan pesantren. Sedangkan rumahku masih jauh. sehingga jalan efektif ya aku di pesantrenkan.
Ada 2 cerita yang sangat membekas sampai saat ini. Sebenarnya ada banyak sih cerita-cerita yang membekas. Tapi kali ini aku akan menceritakan 2 saja. Lain kali kuceritain deh sisanya. Kalau tidak malas ya hahaha.
Cerita yang pertama yaitu cerita tentang kenakalanku dulu waktu mondok. Entah dulu kelas berapa aku mengalami ini. Tapi pengalaman ini tidak akan pernah aku lupain sih HAHA. Waktu itu sepertinya hari Sabtu/Minggu aku lupa. Yang kuingat banyak temanku yang sedang pulang. Di peseantrenku dulu banyak yang sistemnya itu hanya ngaji. Jadi ketika weekend mereka sering pulang kerumah masing-masing. Nah..entah dapat bisikan setan darimana kita (aku, dan 4 temanku yang lain) memiliki rencana untuk nonton bola. IYA NONTON BOLA. hah? kok bisa? dimana? YA DI STADION.
Bayangin deh, bagaimana bisa anak SMP di pesantren pengen nonton bola tanpa ada orang dewasa kala itu. Kebetulan banget hari itu pertandingan bola dimulai pada malam hari. Sudah sangat tidak mungkin bagi kita untuk nonton dong. Bagaimana tidak? lah kita lagi libur sekolah jadi gak ada alasan buat kabur. Tapi karena bisikan setan lebih kuat, akhirnya kita nekat kabur. Saat itu di siang hari suasana pesantren sangat sepi. Banyak orang yang sedang beristirahat tidur siang.Nah... kita satu persatu kabur lewat pintu belakang. Dimana pintu itu terhubung dengan jalan raya. Namun, kita harus melewati jalan setapak dan sawah.
Dengan hanya berbekal uang 50 ribu kita nekat berangkat. Untuk mencapai tujuan yaitu Stadion Bola kita harus naik angkutan umum terlebih dahulu dan membutuhkan waktu perjalanan sekitar satu jam. Kita cari tiket langsung disana, jadi tarif yang dipatok lebih mahal. Sekitar 35ribu untuk harga tiket bola kala itu. Ah uang sisa dikit banget. Gerutuku dalam hati. Tapi yaudahlah gas bae lah.
Aku lupa waktu itu jam berapa yang jelas kita baru masuk stadion itu sekitar jam 8 malam. Kita yang masih cupu itu masuk stadion. Banyak orang yang menatap heran mungkin waktu itu. Yak bener banget! pasti tau dong bagaimana bentuk pakaian kita dari ujung kaki sampai ujung kepala. Jilbab lusuh tidak pernah disetrika, baju santri, rok yang mulai luntur+ sandal jepit andalan. Sungguh tidak manis dipandang. Hahaha
Pukul 8 kita masuk stadion , ini kali pertamaku melihat pertandingan bola di stadion langsung. Sebelum pertandingan dimulai teryata kita bernyanyi lagu kebesaran ditambah dengan gerakan ciri khas tangan diatas. Mirip seperti di konser kali ya. Kulirik jam tangan. Wow!! aku terkejut ku tarik tangan temanku dan kubisikkan untuk segera pulang. Perasaanku sangat tidak enak. Bagaimana tidak? jam menunjukkan pukul setengah 9 malam. Dan kita masih keluyuran. Astaga ini bakal jadi bencana banget !
Untung temanku juga menuruti ajakanku. Kita panik. Jam segitu tidak ada angkutan umum yang lewat. Akhirnya setelah lama menunggu kita dapat tumpangan mobil pick up. Gak papalah daripada tidak. Kita diturunkan dijalan besar. Dan dengan tergesa-gesa kita jalan menuju pesantren. Tentunya kita tidak melewati jalan awal kita berangkat tadi, karena udah gelap sekali. Kita lewat jalan utama. Terlihat jalanan pun udah sepi sekitar setengah sepuluh kita sampai pesantren. Lah kok udah tutup??yak gerbang sudah terkunci. Akhirnya kita nekat manjat pagar. Astaga untung sepi gak ada orang. Kita jalan berhati-hati percis seperti maling. Sesampainya dikamar kita bisik-bisik berbincang takut ada orang yang bangun. Belum semenit pintu kamar dibuka kasar. wah kita kaget setengah mati. Ada pengurus pesantren yang memang sepertinya belum tidur nungguin kita. Langsung kita disidang dan HP disita semua.
Singkat cerita, esok harinya kita bener-bener kena marah dan kena hukum. Kita harus puasa 7 hari. Temanku bahkan sampai diduduk kan oleh ibunya dan ditampar wajahnya. Aku ingat banget ekspresi marah ibunya ketika tau anaknya semalem kabur nonton bola. Serem banget! kita kapok sekapok-kapoknya tidak pernah ngulangin kabur nonton bola. Eh..tapi kalau kabur untuk lainnya ya masih sih. haha
Cetita yang kedua, yaitu cerita cinta monyetku dipesantren. Aku lupa detailnya. Pokoknya aku dulu punya seorang teman dekat banget yang kuanggap kakak sendiri. Nah kakakku ini, ia adalah mantan pacar Agus. Nah, waktu itu Agus masih pengen deketin kakakku itu. Akhirnya ya akulah jadi perantaranya. Sayang sekali tidak berhasil. Kakakku menolak karena sudah tidak suka dan ia juga udah punya gebetan baru. Seperti pada cerita-cerita FTV, akhirnya yang dekat dengan si Agus adalah aku. Aku dulu bisa dibilang tomboy. Jadi aku juga tidak terlalu merespon yang bagaimana gitu...cuman yaa ada laaah rasa-rasa semriwing ketika tau ada orang yang suka kita. Nah yang paling teringat, kala itu kita sms-an tuh. Di generasiku HP Nokia yang lagi booming . Jadi dipesantren masih boleh bawa HP, tapi pas malam disita gitu. Nah pas itu, ada kelonggaran HP malam tidak disita. Aku ingat banget si Agus telpon aku dan kita berbincang lama. Semakin malam obrolan semakin menjurus. Aku inget banget satu ketika dia bilang sesuatu.
"Anna Ukhibbu Ilaika" kata Agus diseberang telpon
"Hah? artinya apa?" jawabku polos
"ya artinya gitu deh cari sendiri. Pokoknya aku udah menyatakan" kata Agus terbata-bata
"Aduh males banget tinggal bilang aja artinnya ribet banget" kataku sedikit sewot.
"hmmm...gimana ya...aku..emmm yaudah aku mau tidur dulu" Pamit si Agus sambil memutuskan telepon.
Keesokan harinya aku ketemu dengan kaka si Agus. Jadi, Agus punya seorang kakak laki-laki namanya Bang Arif. Waktu itu aku bertugas menjaga toko milik pesantren. Nah, Bang Arif tanpa ada angin dan hujan tiba-tiba mengatakan sesuatu yang aneh.
"Semalem Agus kamu apain sih?" tanya Bang Arif.
"Hah? aku gak ngapa-ngapain kok bang.." jawabku ragu.
"Lah kalo gak kenapa-napa kok si Agus semalem nangis gitu" Kata Bang Arif sambil tersenyum menggoda.
Sepulang dari toko pikiranku jadi terganggu. Aku jad bertanya-tanya apa yang membuat si Agus nangis semalem. Oh ! aku ingat semalem Agus bilang sebuah kalimat asing. Aku harus cari tau artinya nih. Akhirnya aku tanya-tanya arti kalimat anna ukhibbu ilaika pada kakak seniorku dikamar.
"Kak, mau tanya dooong boleh?" tanyaku sambil mendekat.
"Tanya apa sih???" jawab kakak seniorku sambil menyisir rambutnya.
"emmm.. anna ukhibbu ilaika artinya apasih?" tanyaku dengan ragu.
"waaah.. hayo kamu dapat kalimat itu dari siapa nihh?" jawab dia dengan tatapan menggoda.
"ih enggak cuman pernah denger aja kok!" kataku salah tingkah.
"hahaha...jadi artinya itu kamu ditembak! artinya anna ukhibbu ilaika itu aku cinta kamu" jawabnya menjelaskan.
Jadi, Agus semalam menyatakan cintanya tapi aku nggak ngeh. Hahaha. Entah ada rasa sedikit berbunga kala itu. Sebenarnya aku juga mulai tertarik pada si Agus. Tapi karena dia mantan dari kakakku, aku mencoba untuk menutupi perasaanku. Belum juga selesai salting ku, eh aku mendengar suara si Agus dilantai bawah sedang berbicara pada Abangnya. Sepertinya ia mau berangkat ke pondok. Ya..jadi Agus itu juga santri dari pesantren lain dikota. Ia kembali ke pesantrennya hanya ketika hafalan Al-Qur'annya sudah cukup untuk disetor. Belum lima menit si Agus tiba-tiba ada didepanku. Ia naik ke lantai 2 masjid. Pas banget masjid itu berseberangan dengan beranda kamarku. Aku melihat Agus, kami saling bertatap. Ia menggerakan tanganya untuk membuat bahasa isyarat. Aku tidak sulit memahami gesturnya. Intinya ia pamit kepadaku untuk pergi ke pesantrennya. Aku tau, ketika dia balik ke pesantrennya akan membutuhkan beberapa hari. Bahkan minggu.
Aku mengangguk sambil malu-malu. Kami saling melempar senyum. Aku merasa senang karena dia effort berpamitan padaku. Tapi, aku juga merasa bahwa senyum manisnya itu adalah senyum yang pertama dan terakhir yang bisa kunikmati. Tiba-tiba terdengar Abang Arif memanggilnya untuk segera berangkat. Akhirnya ia terburu-buru berlari menuruni tangga. Takut ada yang tau.
Hari demi hari berlalu. Benar juga firasatku, senyum manis yang kudapat dari Agus tak pernah kulihat lagi. Sepulang dari pesantren entah bagaimana kita jadi renggang. Jarang komunikasi hingga tak pernah. Sampai akhirnya, setahun kemudian kudengar dia sedang mendekati temanku. Zulfa namanya. Aku tidak cemburu, tidak marah. Tapi yang menyebalkan adalah kenapa si Zulfa harus curhat ke aku. Aku sudah mengubur rasa senang yang hanya sekelibat itu. Jadi, aku tidak mau tau hubungan mereka. Yang kudengar Agus dan Zulfa sampai pacaran. Ya udah, karena aku cuek dengan cerita Zulfa. Akhirnya Zulfa cari teman curhat lainnya. Dan dari sanalah hubungan mereka jadi dekat (hubungan Zulfa dengan Jeni). Sampai sekarangpun mereka masih seperti sahabat. Yak ! akhirnya akulah yang kehilangan teman baikku, Zulfa.
Btw, hari ini seharusnya aku menghadiri pernikahan temanku ini bersama Zulfa. Tapi, Zulfa ada kepentingan sehingga ia memutuskan untuk berangkat bersama suami dan anaknya. Padahal aku ingin menggodanya perihal hadir di kondangan Sang Mantan. Haha XD