Angin berbisik kepada setiap jiwa yang terbuka, jiwa yang meronta hingg jiwa-jiwa yang berkonfrontasi, terus mengikat saling terkait, kemudian menyatu, ia, menyatu lalu menjadi dan membekas di hati. Apa yang kita lihat, tak sekedar apa yang memang kita lihat sekilas saja, ia kemudian merasuk ke jiwa, untuk memberitahu, bahwa mata hanyalah bagian terdangkal hingga terkadang ia berani menilai sesuka hati, karena memang ia hanya melihat sisi terluar dari objek yang ia nilai. Menilai sesuatu, hingga membuat statement tak ngena, hanyalah tugas bibir yang tipis, namun ia bersekongkol dengan lidah yang tak bertulang, hingga tega menyakiti, bisa mengungkapkan kecintaan hingga timbul kerusuhan, tak kadang membuat sumpah serapah, tak pantas, amoral, hingga hilang peradaban dengan fatwa saktinya. Iya, memang sekilas, sekelumit dugaan tak berguna, hingga lupa, apa esensi bersyukur yang sesungguhnya. Karena hidup tak serumit itu. Nikmati, hargai, karena proses terbaik tidak diciptakan instan, walau menyeduh mie instan pun tetap saja perlu proses yang tidak instan * asumsi 10 menit itu lumayan lama juga loh hehe Part of #voluntripround3, organized by: @dd_volunteer #sharingthehappiness #tripforshare #dompetdhuafa #dompetdhuafavolunteer #elegisore #takenfrom #esiahidayah









