tigo tungku sajorangan | Pasca masa | Galeri Nasional
View On WordPress
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Brazil
seen from Bangladesh
seen from Belgium

seen from United Kingdom

seen from Bosnia & Herzegovina

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia
seen from India
seen from Türkiye

seen from India
seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Singapore

seen from United States
tigo tungku sajorangan | Pasca masa | Galeri Nasional
View On WordPress
Sebuah Catatan dari Anak–Anak Koto Lamo
Berbicara tentang Koto Lamo, pasti tak lepas dari kehidupan anak-anaknya. Adalah Siku Keluang, sebuah kolektif budaya berbasis di Pekanbaru dan fokus terhadap pengembangan seni yang berpihak pada masyarakat. Bekerjasama dengan Koalisi Seni Indonesia, keduanya pun mengadakan residensi singkat dimana seniman ditantang untuk merespon ulang apa yang telah mereka rekam selama menyusuri sebuah desa yang terletak diantara Bukit Rimbang dan Bukit Baling, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Riau tersebut.
Ketika saya sampai di Koto Lamo, hawa sejuk yang datang semilir dari pinggir sungai Bio menyambut kami yang datang berombongan dari Yogya, Semarang, Gresik, dan Jakarta. Tak pernah sebelumnya memiliki pengalaman melintas sungai besar dengan sampan sambil kulit diterpa matahari sore yang kadang-kadang bila kita melihat kebawah, tampak warna bebatuan bercampur bergerak-gerak karena air sedikit beriak.
Usai menjajaki undak-undakan kecil kami singgah sejenak di rumah Datuk Bandaro. Rumah ini rencananya juga akan dijadikan perpustakaan bagi warga setempat. Buku-buku sudah mulai dikumpulkan dan ditata dengan rapi, terlihat juga beberapa alat-alat lain yang digunakan untuk memperlengkap pembangunan seperti cat, meja, serta balok-balok kayu.
Setelah bersilaturahmi dan mengamati lingkungan sekitar, kami pun kembali ke lokasi berkemah yang jaraknya kurang lebih 10 menit menggunakan piyau. Kami rehat makan malam, kemudian berdiskusi tentang kegiatan apa yang mungkin dilaksanakan selama 1 minggu kedepan dengan warga. Bang Heri dari Siku Keluang dan Datuk Marlan yang merupakan tetua kenegerian bertugas memimpin jalannya perkenalan dan diskusi. Umar, salah satu sahabat kami telah menyalakan api unggun sebagai penghangat suasana.
Saya memilih untuk mengerjakan creative mapping dengan anak-anak. Mengapa kreatif? Karena kami akan menambahkan elemen-elemen yang berbeda seperti catatan, warna, bentuk dan pola, serta gaya bercerita diatas kertas. Tantangannya adalah membahasakan ide yang baru ini ke anak-anak, namun dibantu dengan berdiskusi bersama teman-teman seniman lain, kami pun memulai eksperimen yang menyenangkan ini.
Sebelumnya, teman-teman dari Yayasan Hakiki, Riau telah menunjukkan informasi penampang grafis kenegerian Koto Lamo. Darisitu, saya dapat membuat gambar dan menunjukkan lokasi penting seperti letak jembatan, serta daerah mana yang merupakan desa lama maupun desa baru. Nah, esoknya, ilustrasi peta telah dibuat. Warna-warna yang dipakai juga telah dipilih sehingga dapat menstimulasi respon dan daya tarik anak-anak.
Perbedaan bahasa dan kebiasaan tidak meyurutkan semangat mereka untuk berimajinasi dan mengembangkan rasa ingin tahu. Setelah saya menjelaskan apa yang akan kami buat disini, anak-anak dengan cepatnya menandai tempat-tempat penting seperti rumah, sungai, lapangan, termasuk binatang-binatang yang mereka lihat selama di desa.
Mula-mula kami menggambar di lantai. Beralaskan tikar plastik yang hangat di kaki, sambil menunduk ataupun bersila, sepidol dan kertas kami gelar. Nyaris serba tak beraturan. Namun berbekal pengetahuan menggambar dari Kak Sheila Rooswita (Sheila’s Playground) dan Kak Azer (Komikazer) di workshop sebelumnya, anak-anak tampak lebih percaya diri membuat bentuk-bentuk yang mereka kehendaki. Mailani (13) membuat ikon piyau, kerbau, dan kepiting di spons empuk yang bisa digambari untuk kemudian ditempel di peta. Adiknya, Ita (7) bersemangat memenuhi ruang kosong di kertas dengan gambar bunganya. Dalam waktu 3 jam, kegiatan yang awalnya hanya terdiri dari 10 hingga 15 anak, bersusul-susulan menjadi total lebih dari 30 anak. Kami pun menghabiskan 6 buah kertas berukuran A0 yang rencananya akan dibingkai dan dipajang di rumah Datuk Bandaro. Anak-anak lain juga menulis catatan pendek tentang cita-cita mereka serta saling memberi respon pada sahabatnya. Salah satu anak juga menulis kalimat baik seperti. “Kalau nonton televisi jangan dekat-dekat.”
Hal tersebut membuktikan bahwa anak-anak memiliki keberanian dengan merespon semua alat gambar yang telah disediakan. Dan dengan pendekatan yag bersahabat serta sesuai kebutuhan, baik seniman maupun warga bisa saling berbagi cerita maupun pengalaman hidup mereka.
Pergantian dari kegiatan pelatihan yang satu dengan yang lain akhirnya menjadi kelompok belajar. Mulai dari fokus pada kiat-kiat awal menggambar, melengkapi gambar dengan cerita, gunting tempel berkolase, hingga menjadikan gambar sebagai souvenir dan instalasi. Kami saling melengkapi apa yang kurang dan mempelajari apa yang lebih dari proses berinteraksi dengan warga. Sebisa mungkin komunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat baik yang dewasa, remaja, maupun anak tak ada yang terlewat. Hal tersebut membuka kemungkinan baru bagi kegiatan lain yang rencananya akan dilanjutkan setelah program residensi pertama. Dengan semangat itu, kesempatan belajar akan menjadi lebih terbuka bagi siapa pun pesertanya.
Disela waktu istirahat, sambil duduk saya menyempatkan membacakan dongeng terjemahan berjudul “Listen to the Wind - The Story of DR. Greg and Three Cups of Tea” buku ini bercerita tentang anak-anak di desa Urdu, Pakistan yang bertemu dengan Gregg Mortenson. Pertemuan yang tidak disengaja itu kemudian berbuah manis, sebagai balas budi dari DR. Gregg yang telah ditolong warga desa setempat, ia mendirikan sekolah yang ikut anak-anak bangun. Wah, menarik sekali!
Pada hari Minggu malam kala menyalakan lampion, Datuk Bandaro dan Bang Heri membawa keluar sebuah alat musik tua khas Koto Lamo bernama Talempong atau Canang. Alat ini dipukul dengan kayu yang lebih kecil dan mengeluarkan suara “Pung, pung, pung” yang dalam. Anak-anak berjejer rapi didepan pintu rumah Datuk, tak sabar menunggu. Pak Bambang Prihadi yang juga pegiat teater ikut menabuh galon air minum sehingga menghasilkan suasana yang meriah namun tetap temaram. Ibu-ibu terlihat bernostalgia dengan suara merdu talempong, beberapa kali ada yang berusaha menunjukkan pada sang anak bagaimana cara memukul yang baik. Seolah mengobati kerinduan yang mereka cari ; musik dan semangat berkumpul seluruh warga tanpa terkecuali.
Setelah kembali pulang, ada banyak hal untuk direnungkan. Mulai dari interaksi dengan warga serta pada titik apa seniman dan masyarakat dapat bersepakat. Sebab proses serupa tak bisa diakselerasi, maka untuk menghasilkan kegiatan yang merangsang kreativitas, berguna, serta berkelanjutan dibutuhkan kerja sama dari banyak pihak, termasuk kita-kita ini. Koto Lamo dan Rimbang Baling telah membawa semangat baik untuk kita jaga bersama, mari lestarikan adat dan hutan Indonesia!
Penulis adalah seniman muda yang berasal dari Semarang dan kini tinggal di Yogyakarta. Arsip gambar dan tulisannya dapat dilihat di www.ikantupai.tumblr.com
Terima Kasih kepada:
Aquino Hayunta (Koalisi Seni Indonesia); Heri Budiman, Budi Utami, Adhari Donora, Umar, dan Gendon (Rumah Budaya Siku Keluang); Bang Hendra dan Bang Adi (Yayasan Hakiki); Sheila Rooswita (Jakarta), Reza Mustar (Jakarta), Marishka Soekarna (Jakarta), Diela Maharani (Jakarta), Ayu Dila (Jakarta), Bambang Prihadi (Jakarta), Oktav Bagus (Semarang), Yoshi Fajar (Yogyakarta), dan Novan Effendy (Gresik); Ahmad Khairudin (Hysteria), Iman Abda (Jaringan Radio Komunitas Indonesia), dan Budi Prakosa (Lifepatch).
Referensi
-www.youtube.com | Participatory Rural Appraisal and Rapid Rural Appraisal for JFM Programme Implementation.
-Terbitan Biennale Anak Yogyakarta 2009 – Dokumenku