Hari Keenam: SINCIAH!
Hari yang ditunggu-tunggu tiba! Gak terlalu ditunggu sih, sebenarnya. Namun, hari ini saya bisa berkumpul lagi bareng keluarga besar saya. Biasanya, saat Imlek ini, saya akan berkumpul dengan keluarga besar dari Mama.
Pagi hari, saya terbangun dengan kehadiran Kakak kedua saya di rumah beserta suami. Saya kaget, saya kira saya memang akan menjadi anak tunggal dalam perayaan Imlek kali ini. Apa yang terjadi hari ini nyatanya mematahkan pemikiran yang juga saya tuangkan dalam tulisan saya beberapa hari lalu. Ya, akhirnya bercengkerama dengan Kakak lagi.
Makan-makan Imlek hari ini diadakan di rumah Tante saya. Biasanya, saat Imlek, kami pasti berkumpul di rumah saya. Namun, mengingat rumah Tante saya ini rumah yang baru dan punya halaman serta ruangan yang luas, jadilah makan-makan diadakan di sana. Makan-makan Imlek ini sebenarnya bisa jadi cukup berbeda pada umumnya, karena keluarga saya kehadiran beberapa anggota keluarga non-Tionghoa. Jadi, perayaan Imlek saya pasti sangat berwarna. Kami pun sangat bertoleransi dan damai satu sama lain.
Kekagetan saya hari ini ternyata tidak cukup tadi pagi. Saat makan-makan di rumah Tante, saya bertemu dengan beberapa anggota keluarga besar lain yang sudah lama tidak saya temui: ada pengantin yang bulan ini akan menikah dan ada juga Om yang sudah lama tidak saya dengar kabarnya. Om ini memang dahulu ada beberapa catatan ‘abu-abu’. Namun syukurlah, kali ini berarti kondisinya sedang damai. Semoga bertahan dan terus awet.
Ada bagian terakhir yang saya tunggu-tunggu hari ini: angpao! Setelah memiliki banyak pengeluaran beberapa bulan belakangan ini, saya memutuskan untuk benar-benar menghemat dan menggunakan tabungan secara efektif. Kalau bisa, sih, tabungannya benar-benar dijaga dan tidak digunakan. Soalnya, belakangan ini, uang tabungan saya naik turun sejak awal masuk kuliah. Saya jadi merasa, apa gunanya nabung kalau ujung-ujungnya gak naik-naik?
Nominal yang lumayan dari angpao ini akan saya simpan baik-baik dalam tabungan saya. Ditambah, seperti yang saya ceritakan dalam beberapa renungan sebelumnya, saya memang ingin mencari nafkah semester ini. Ya, semoga tekad ini benar-benar saya jalani dengan maksimal. Harus.











