Anggota ‘Geng’
Saya adalah salah satu orang yang pernah bangga menjadi salah satu anggota ‘geng’ ini. Saya bersyukur atas skenario indah yang mengenalkan saya pada beberapa orang yang akhirnya (tanpa penyerahan sesuatu sebagai simbol atau pengucapan kalimat tertentu untuk masuk sebagai anggota ‘geng’ secara resmi) menjadikan saya salah satu dari mereka. Selain bernapas dan berkembang biak, saya merasa butuh mereka agar dapat hidup dengan baik.
Tapi, kenapa sekarang serasa berbeda? Kenapa kegembiraan itu tiba-tiba menjadi beban, yang kemudian mengajarkan saya untuk mencari-cari alasan agar tidak lagi merasa ‘terganggu’ oleh mereka? Apakah sepi memang sekejam ini? Hingga yang baik terlihat seperti sesuatu yag perlu dijauhi. Hingga pertemuan dengan orang-orang ini membuat saya harus meyakinkan diri terlebih dahulu bahwa pertemuan dengan mereka tidak akan sia-sia?
Dyah Oktavia | Senin, 23 Muharram 1438












