Debu
Jika kau ingin bertanya tentang arti keberadaan, tanyakanlah pada butir-butir debu yang kau temui di lantai rumahmu. Yang saban hari kau sapu karena sangat mengganggu pemandangan, mengotori kaki-kaki yang menginjaknya, dan mengundang bisik-bisik tetangga yang tak enak didengar, "rumahnya kotor sekali, pemalas!". Atau debu yang terkadang melekat di celana yang kau pakai, yang kemudian kau kibas-kibaskan tanganmu untuk membersihkannya. Atau pada debu yang memenuhi halaman depan rumahmu yang sempit, yang setiap sore membuatmu rajin sekali menyirami halaman hingga aroma tanah berhamburan kemana-mana seperti baru saja turun hujan. Tentu kau tidak akan serajin itu jika berniat membuat debu-debu tak bisa lagi beterbangan kemana saja. Debu yang kau hindari, yang membuatmu memakai masker hingga ia tak dapat mengganggu saluran pernapasanmu, adalah debu yang dapat membantumu bersuci jika tak kau dapatkan air dimanapun, atau sedang sakit sehingga tidak dapat menyentuh air barang untuk berwudhu saja. Atau keadaan-keadaan lain yang tidak memungkinkanmu berwudhu seperti biasa.
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Ali Imran 191)
Kau termasuk mereka yang berdo'a seperti ayat di atas kan? :)
Dyah Oktavia | Kamis, 27 Dzulhijjah 1437













