Ada yang berkata, “Tidak perlulah membahagiakan semua orang, toh semua orang juga tidak bisa membahagiakan kita” -anonim.
Masuk akal. Mungkin ini yang menjadi beban berat bagi pundak setiap manusia: ingin membahagiakan semua orang. Padahal tawa dan tangis hanya ditangan Sang Kuasa,
“Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis” (QS. An-Najm: 44)
Bagaimana bisa seorang hamba mengambil alih tugas Sang Maha Raja? Bukankah tidak mengherankan jika bumi terasa amat sempit baginya?Ada peran lain untuk manusia, kita patut bersyukur bahwa Allah menghendaki kemudahan bukan kesulitan.
“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS Al-Baqarah: 195).
Iya, hanya sampai berbuat baik.
Adakalahnya perlu reconfirm, menghamba pada siapa diri ini?