#BerbalasKata
Dan hujan deras dilengkapi oleh padamnya listrik serta gemuruh petir bersahut-sahutan.
Ingatanku tertarik lagi, saat hujan membuatmu kuyup malam itu.
Wajahmu muncul seketika dan menghujamkan rindu tepat sasaran.
Menguntai nelangsa yang masih belum lenyap.
Jangan remehkan ingatan, dia bisa membunuhmu jika kau tak lagi awas serta selalu bermain-main dengannya.
Dia melenakan sekaligus candu untukmu.
Bunuh dia segera, sebelum dia yang lebih dulu memerangkapmu dalam suramnya masa lalu.
Entahlah.
Pikirku akan mudah melenyapkan segala damba dan serpihan kenangan,
tapi gaung rindu menyapa lagi jiwa kesepian dan menyemai segala ingatan kembali padanya.
Ingatan telah menunjukkan taringnya.
Dia mengigitmu telak, menelan bulat-bulat kenangan yang harusnya kau cabik.
Nyatanya, semua itu masih ada, selalu tersedia.
Apabila kau rapuh hanya karena rindu yang tak tahu malu.
Kejahatankah memeluk rindu yang membuncah dan tak terbendung?
Bukan semata perkara jahat ataupun baik.
Kita bicara rasa yang terlalu dipiara.
Hingga pada akhirnya rindu yang ada pun dianggap biasa.
Menampik logika sehat tentang apa yang masih pantas diperjuangkan atau apa yang sudah harus dilupakan.
Enyahlah kau kenangan !!
Aku benci terkukung rindu karenanya.
Percuma kau usir dia pergi, karena dengan begitu kau mengakui bahwa dia telah menang atas jiwamu.
Biarkan saja dia, tak perlu kau umbar apalagi kau rasa.
Acuhkan !!!
Sapa rindu tak sama dengan tiupan angin lalu yang menyapa dan
membawa sejuk lantas berlalu tiada bekas serta tiada meninggalkan
kenangan apa-apa.
Tanpa kenangan pun engkau begitu mudah terperangkap rindu.
Menyalahkankan hujan yang pernah datang bersama sebaris ingatan.
Entah tentang siapa.
NB : Terimakasih atas provider telepon selularku yang memberikan banyak gratis sms ke semua operator.
serta banyak makasih untuk partner in crimeku yang bersedia menemani ke-kurang-kerjaan-ku ketika listrik di Medan semakin sering padam :P













