X-Factor
Bagiku ada banyak rahasia Allah yang tersebar di seluruh penjuru bumi, aku sebut itu X-Factor.
Bukan, bukan acara kompetisi musik yang sempat tenar beberapa waktu yang lalu. Tapi faktor yang tak pernah bisa tertangkap oleh logika manusia. Bagiku, faktor X itu adalah kehendak Allah. Pertolongan Allah.
Akan aku ceritakan sesuatu padamu.
Dulu, ada seorang anak yang menangis hanya karena melihat ada angka 2.66 di rapot semester 4 nya. Tak masalah jika nilai itu ada di mata pelajaran yang memang tak ia kuasai, biologi atau olah raga. Hanya saja, angka 2.66 itu ada pada pelajaran yang sangat ia sukai, matematika.
Saat itu ia sempat terancam ikut semester pendek dan mengulang di tahun berikutnya jika tidak lolos sp. Ya, dia terancam sp di pelajaran favoritnya sendiri. Padahal selama ini nilai hariannya tak pernah jelek, setidaknya tak seburuk nilai biologi nya.
Dengan kecewa, dia menangis disamping sahabatnya. Merasa jadi orang paling bodoh sedunia. Merasa orang paling gagal dan hampir menyerah. Harapan bisa masuk universitas tanpa tes sirna sudah. Nilai nya turun drastis. Dari 3.33 ke 2.66, ya kira-kira dari nilai mendekati 9 lalu jatuh ke angka 7,5. Padahal mitos yang beredar saat itu, hanya orang-orang yang punya nilai dengan grafik positif lah yang bisa lolos. Saat itu dia benar-benar merasa gagal.
Hingga akhirnya ia menyadari satu hal. Selama ini ia terlalu sombong, merasa hebat di bidang nya. Merasa tak mungkin jika ia akan mendapat nilai kkm. Padahal sejatinya tak ada yang patut ia banggakan. Padahal pada akhirnya Allah lah yang menentukan semua hal. Semuanya.
“Kadang kerikil lah yang membuat kita melihat ke atas. Ya, terkadang sentilan lah yang membuat kita sadar dan ingat kepada-Nya”
Singkat cerita, anak itu sudah ada di semester 5. Semester terakhir untuk penilaian undangan (itu yang biasa mereka sebut untuk jalur seleksi rapot). Masa yang seharusnya menjadi masa-masa ambisius, namun tidak baginya. Ia sudah tak berharap banyak dengan jalur itu. Sudah puas hatinya menangis saat mendapat nilai buruk di semester 4. Tak ada lagi ambisius mengejar nilai sempurna. Mengerjakan semampunya, berusaha sekuatnya. Tak berharap banyak. Tak ada lagi do’a masuk jurusan A, diterima di jurusan B. Hanya berharap diberikan yang terbaik.
“semoga diberikan yang terbaik”
Dan pada semester akhir, saat ia harus menentukan memilih jurusan apa untuk seleksi rapot, ia ingat nilai buruk itu lagi. Terbayang jelas mitos-mitos yang entah siapa penyebarnya. Impiannya masuk jurusan teknik terancam batal. Ia sempat berpikir, apa aku pilih jurusan yang sedikit saingannya saja? padahal bukan itu mimpinya. padahal bukan itu cita-cita nya. Perasaan ‘pasti diterima kalau pilih itu’ pun mulai menghantui pikirannya sampai 3 hari sebelum penutupan pendaftaran.
Akhirnya dengan memantapkan hati, memasrahkan semuanya, ia tetap memilih teknik, yang peminatnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan jurusan yang aman itu.
apapun hasilnya, pasti ini yang terbaik.
Setelah masa-masa bimbang itu, Ujian Nasional mulai menyerang. Semua prasangka menyatu saat mengerjakan soal itu. Dan setelah hasilnya dibagikan, nilai ujiannya jauh dari kata sempurna. Bahkan dibawah rata-rata angkatannya. Hanya 76 koma sekian. Jauh jika dibandingkan dengan rata-rata ujiannya saat SD atau SMP. Sangat jauh.
Ia kembali mengutuk dirinya sendiri. Nilai Ujian Nasional adalah nilai yang bisa membuka pintu beasiswa ke luar negeri. Ya, syarat beasiswa yang ingin dia ikuti yang terpenting adalah memiliki rata-rata ujian 8,5. Sirna sudah harapannya bisa pergi ke Jepang. Sirna juga harapan bisa masuk lewat jalur undangan.
Dalam setiap lamunannya, sejujurnya ia belum siap menerima kenyataan jika ia harus mendapat tulisan merah di pengumuman undangan yang sudah menghitung hari. Tapi mau bagaimana lagi. Ia mengubur semua sakit hati dan rasa penyesalannya dalam-dalam. Memaksa tangisan itu pergi, dan memulai hidup sebagai pejuang tes tulis. Ikut tryout setiap ada kesempatan, belajar intensif di salman, tepat disebrang kampus idamannya. Berharap suatu saat nanti ia bisa menjadi bagian dari insan terpelajar di kampus itu.
“Udah lah, kamu pasti masuk undangan”
“Ngapain intensif lagi, pasti anak SMA 3 mah masuk”
“Anak SMA 3 kan? Udah lah.”
“SMA 3 mah aman”
dan semua kata orang yang entah menyemangati atau malah menyindir. Tapi baginya semua kata-kata itu memberatkan pikirannya. Ya, ia memang bersekolah di SMA 3. SMA yang setiap tahunnya berhasil meloloskan sebagian besar anak didiknya ke kampus dengan teknik terbaik di bandung. Lagi-lagi, rumor itu berkembang di masyarakat. Membuat anak-anak macam dia semakin menunduk. Teringat kembali nilai kkm itu. Nilai yang mengubah pandangannya, merusak semua harapannya. Ya, memang dia yang salah. Tak ada yang bisa disalahkan selain dirinya sendiri.
Ia hanya tersenyum jika ada perkataan seperti itu. “Aamiin”, ya. Semoga apa yang mereka bilang benar-benar terwujud. Semoga.
Pengumuman jalur undangan dibuka hari itu. Kebetulan saat itu ia harus menjaga adik nya di rumah sakit. Sakit campak sejak seminggu yang lalu. Di samping nya ada ibu yang baru pulang mengawas ujian nasional SMP. Menatapnya dengan tatapan penuh tanya, “Gimana hasilnya?”
Ia menggeleng. “Belum” “Belum bisa di buka, bu”
Sudah tak ada lagi pengharapan berlebih. Sudah siap ia mendapat tulisan merah di pengumuman kelulusan. Sudah siap mendengar semua sahabatnya mengucap semangat. Ya, ia sudah sangat siap. Bahkan ia sudah siap menerima kenyataan itu sejak mendapati nilai 2.66 di rapot semester 4 nya.
Jam 1 tepat. Dengan sedikit rasa harap, ia memasukkan NISN nya dan menginput tanggal lahir nya. Dan menanti apa yang keluar dari layar.
Tangannya mulai membeku. Degup jantung nya terasa lebih cepat. Ia tahu, ia gugup saat ini. Cemas jika apa yang selama ini dia takutkan terjadi. Sejujurnya ia masih menaruh harapan. Iya, dia masih menyimpan harapan itu.
“Ayolah. Biru. Biru. Tak masalah pilihan ke 2 atau ke 3. Ya Allah. Berikan yang terbaik bagi saya”, tak henti-henti nya ia mengucap dalam sunyi.
Layar handphone nya mulai berganti ke laman pengumuman. Tangannya sudah membeku. Mata nya siap untuk menangis. Jantung nya berdegup lebih cepat lagi.
Bismillah.
“Selamat anda lolos seleksi SNMPTN 2016…”
“Fakultas Tekno…”
“Fakultas Teknologi Industri - Kampus Ganesha. ITB”
Alhamdulillah.
Ia benar-benar menangis sekarang. Menangis bahagia. Allah memang punya rahasia yang tak pernah terbayangkan oleh makhluknya. Nilai 2,66 yang selalu menghantuinya sirna sudah. Kekecewaannya karena tak bisa mendaftar beasiswa hilang entah kemana.
Bukan. Bukan hanya lolos seleksi. Ia lolos seleksi di pilihan pertamanya. Di fakultas impiannya sejak SMA. Ia memeluk ibu nya dengan haru. Mengecek ulang di setiap web mirror pengumuman SNMPTN, seolah tak percaya jika itu memang namanya. Tangannya menghangat. Hati nya pula.
Alhamdulillah.
X-Factor sangat menentukan. Sangat berperan dalam kehidupanku. Faktor X yang entah dari mana datangnya. Faktor yang membuktikan kalau semua hal di dunia ini terjadi karena kehendak-Nya. Tak peduli seberapa buruk nilaimu, seberapa tak mungkin nya bagimu, jika Allah sudah berkehendak, maka semua hal mustahil akan jadi mungkin.
Ya, anak perempuan di atas itu aku. Aku yang menangis saat melihat nilai buruk di kolom matematika semester 4. Aku yang saat itu tak bisa menerima kenyataan kalau nilaiku memang turun. Aku yang mengkhawatirkan hal yang sejatinya tak perlu di khawatirkan. Iya, itu aku.
Dan kini, berkat pertolongan Allah aku bisa melihat warna biru di pengumuman itu. Berkat-Nya air mata itu menjadi tangis bahagia, bukan tangis penyesalan dan sakit hati. Berkat Allah. Tak ada yang bisa aku usahakan jika Dia tak mengizinkan.
“Takdir tak akan salah tuan, Faz”
itu kata-kata yang selalu aku ingat sejak kelas 2. Dan memang benar, takdir memang tak pernah salah tuan.
Semua yang terjadi pada kita saat ini adalah yang terbaik bagi kita. Pasti.
Alhamdulillah. Segala puji hanya bagi Engkau, Rabb semesta alam.
Dibawah langit sore mendung tanpa lembayung,
Bandung, 17 Mei 2016
See ya!












