"Surat dari Pengembara kepada Tan Malaka"
Tan,
Aku menulis ini dari sebuah ruang yang sunyinya seperti kuburan mimpi. Ruang tempat dindingnya menggemakan nama-nama yang pernah kucintai, tapi kini hanya tinggal bayang. Di sini aku berdiri, seperti kau dulu berdiri di atas tanah asing—membawa cinta yang tak pernah diterima, dan ide-ide yang tak pernah utuh di pangkuan zaman.
Aku pernah beberapa-kali mencintai seseorang, Tan. Mencintainya seperti orang menanam pohon di tanah yang bukan miliknya. Aku siram setiap hari, aku rawat setiap daunnya, aku lindungi dari badai, berharap kelak aku akan duduk di bawah rindangnya. Tapi pohon itu tumbuh hanya untuk ditebang oleh tangan yang lebih berkuasa. Aku ditinggalkan dengan tanah yang retak, tangan yang kosong, dan hati yang menggigil. Kau tahu rasanya, Tan. Rasanya seperti menulis manifesto di pasir, lalu ombak membawanya pergi sebelum sempat dibaca.
Sejak itu aku berjalan tanpa arah, seperti perahu yang kehilangan kompas. Kesepianku seperti laut luas: diam, dalam, dan dingin. Malam-malamku panjang seperti rel kereta yang tak pernah sampai ke stasiun. Aku pernah menghibur diri, berkata aku kuat. Tapi kesepian, Tan, adalah semacam bayangan yang tak bisa diusir. Ia selalu mengikuti, bahkan saat lampu dimatikan.
Tapi dari luka itu aku belajar, Tan. Bahwa cinta yang kubuat jadi pusat semesta, ternyata hanya meteor kecil yang lewat dalam orbitku. Bahwa kehilangan bukanlah kematian, melainkan pintu sunyi yang memaksa kita belajar berdiri di tanah sendiri. Aku belajar memeluk kesendirian seperti orang memeluk kabut di puncak gunung: ia dingin, tapi diam-diam menenangkan.
Kini aku mengajar di tanah perbatasan, Tan. Anak-anak kecil berlarian seperti matahari yang baru lahir. Di mata mereka aku melihat sisa-sisa ide besar yang pernah kau bawa. Aku tidak lagi mencintai seseorang seperti dulu, tapi aku mencintai detik-detik kecil ini. Aku mencintai pekerjaan yang dulu kupikir kutinggalkan. Aku mencintai perjalanan yang tak pernah kupilih tapi ternyata menyembuhkan.
Aku kira, Tan, hidup ini seperti buku yang sering terjatuh ke tanah. Halamannya kotor, tulisannya sobek, kadang hilang. Tapi setiap kali kita memungutnya lagi, kita sadar: meski halaman itu luka, cerita ini belum selesai.
Jadi biarlah aku di sini, Tan—menulis surat ini padamu yang hanya jadi wajah di poster. Biar surat ini seperti daun jatuh ke sungai, terbawa arus, mungkin tak pernah sampai. Tapi kalaupun tak sampai, setidaknya aku sudah belajar satu hal:
Kesepian bukan musuh, patah hati bukan kuburan, pengembaraan bukan hukuman. Semuanya hanyalah jalan sunyi yang harus dilalui agar kita bisa menemukan dirimu sendiri di dalam diriku.
Itulah ceritaku, Tan. Tentang patah hati yang membakar, tentang perjalanan yang tersesat, tentang sepi yang menua bersamaku, dan tentang penyembuhan yang datang pelan-pelan.
Kalau nanti ada yang bertanya padaku, apa arti hidup ini, mungkin aku akan menjawab dengan sederhana:
Hidup adalah kehilangan, pengembaraan, dan keberanian untuk menyembuhkan diri sendiri.







